Bercak darah di trotoar Jalan Al Jalaa setelah serangan udara Israel di Kota Gaza, Jalur Gaza, 27 Juni 2026. | EPA/MOHAMMED SABER

Internasional

Seribu Hari Nelangsa di Gaza

Israel hampir tak menyisakan apapun berdiri di Gaza.

REPUBLIKA, GAZA — Sedemikian lekas, nelangsa di Gaza memasuki seribu hari. Kantor Media Pemerintah Gaza pada Kamis (2/7/2026) menggambarkan besarnya korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta dampak kemanusiaan yang ditimbulkan selama agresi Israel berlangsung.

Dalam laporannya, Kantor Media Pemerintah Gaza menyebut sekitar 2,4 juta penduduk Jalur Gaza terdampak perang, kelaparan, dan pengungsian. Lembaga itu juga menyatakan lebih dari 90 persen wilayah Gaza mengalami kehancuran, sementara lebih dari 80 persen wilayahnya telah dikuasai melalui operasi militer dan pengusiran paksa.

Laporan tersebut juga menyebut kawasan Al-Mawasi yang sebelumnya diklaim sebagai zona kemanusiaan yang aman telah dibombardir sebanyak 241 kali. Selain itu, lebih dari 223 ribu ton bahan peledak disebut telah dijatuhkan di wilayah Gaza selama perang.

Dari sisi korban jiwa, Kantor Media Pemerintah Gaza mencatat sebanyak 73.066 warga Palestina syahid dan telah tercatat di rumah sakit sejak perang dimulai. Sebanyak 9.500 orang lainnya masih dinyatakan hilang, termasuk mereka yang diduga tertimbun reruntuhan.

Pengeboman Israel di Kota Gaza, Senin (15/9/2025). - (Muhammad Rabah/Dok Republika)

Korban meninggal disebut didominasi kelompok rentan. Lebih dari 21.500 anak dan 12.500 perempuan dilaporkan syahid. Selain itu, sekitar 9.000 ibu, 22.500 ayah, lebih dari 1.022 bayi berusia di bawah satu tahun, serta lebih dari 520 bayi yang lahir selama perang juga termasuk dalam daftar korban.

Laporan itu turut mencatat 1.700 tenaga kesehatan, 145 personel pertahanan sipil, 262 jurnalis, lebih dari 194 pegawai pemerintah daerah termasuk empat wali kota, serta lebih dari 2.800 personel kepolisian dan pengamanan bantuan kemanusiaan meninggal dunia. Sebanyak lebih dari 928 atlet dan tokoh olahraga juga disebut menjadi korban.

Menurut Kantor Media Pemerintah Gaza, lebih dari 39 ribu keluarga mengalami pembantaian. Sebanyak lebih dari 2.700 keluarga dilaporkan kehilangan seluruh anggotanya sehingga dihapus dari catatan sipil, sedangkan lebih dari 6.000 keluarga hanya memiliki satu anggota yang masih hidup. Lembaga itu menyebut sekitar 55 persen korban meninggal merupakan anak-anak, perempuan, dan lanjut usia.

Dampak krisis pangan juga disebut semakin memburuk. Sedikitnya 460 orang meninggal akibat kelaparan dan malnutrisi, termasuk 164 anak. Sebanyak 43 persen pasien gagal ginjal dilaporkan meninggal akibat kekurangan makanan dan layanan kesehatan. Selain itu, lebih dari 12 ribu kasus keguguran terjadi pada ibu hamil akibat memburuknya kondisi kesehatan dan gizi.

photo
Pengungsi Palestina berebut makanan berbuka puasa yang didistribusikan oleh dapur amal selama bulan suci Ramadhan, di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, 26 Februari 2026. - (EPA/HAITHAM IMAD)

Di sektor kesehatan, laporan itu mencatat 173.514 korban luka telah dirawat di rumah sakit. Lebih dari 19 ribu di antaranya membutuhkan rehabilitasi jangka panjang, sementara lebih dari 5.400 orang mengalami amputasi, termasuk sekitar 18 persen anak-anak.

Selain itu, terdapat sekitar 1.500 kasus kelumpuhan dan 1.200 kasus kehilangan penglihatan. Sebanyak 433 jurnalis dilaporkan mengalami luka-luka. Kantor Media Pemerintah Gaza juga menyebut 362 tenaga kesehatan ditangkap dan 83 di antaranya masih ditahan.

Laporan tersebut mencatat 26.370 perempuan menjadi janda akibat perang. Sebanyak 58.800 anak menjadi yatim, terdiri atas sekitar 2.700 anak yang kehilangan kedua orang tua, 6.100 kehilangan ibu, dan 50 ribu kehilangan ayah.

Krisis kesehatan masyarakat juga terus memburuk. Tercatat lebih dari 2,1 juta kasus penyakit menular akibat pengungsian paksa serta lebih dari 71 ribu kasus hepatitis.

Di sektor kesehatan, Kantor Media Pemerintah Gaza melaporkan 38 rumah sakit dan 96 pusat layanan kesehatan dibom, dihancurkan, atau dipaksa berhenti beroperasi. Sebanyak 197 ambulans menjadi sasaran serangan, sementara 788 serangan disebut menyasar sistem layanan kesehatan, termasuk fasilitas, tenaga medis, kendaraan, dan rantai pasokan. Sebanyak 16 pusat pertahanan sipil juga dilaporkan hancur.

photo
Kekejaman Israel di RS Indonesia - (Republika)

Kerusakan juga terjadi di sektor pendidikan. Menurut laporan tersebut, seluruh sekolah di Jalur Gaza mengalami kerusakan akibat pemboman. Sekitar 81 persen bangunan sekolah memerlukan pembangunan kembali atau rehabilitasi besar, sedangkan 80 sekolah disebut menjadi sasaran serangan langsung.

Sebanyak 17 perguruan tinggi dilaporkan hancur sebagian maupun seluruhnya. Lebih dari 20 ribu pelajar dan mahasiswa meninggal dunia, sementara hampir 20 ribu lainnya meninggalkan Gaza selama perang. Laporan itu juga menyebut lebih dari 620 ribu anak kehilangan akses pendidikan dan lebih dari 90 ribu mahasiswa kehilangan kesempatan melanjutkan pendidikan tinggi. Selain itu, lebih dari 830 guru dan tenaga kependidikan serta 194 akademisi dan peneliti dilaporkan meninggal dunia.

Di sektor keagamaan, Kantor Media Pemerintah Gaza mencatat 1.047 dari total 1.275 masjid di Gaza hancur total, sedangkan 210 lainnya mengalami kerusakan. Tiga gereja juga disebut menjadi sasaran serangan lebih dari satu kali. Sebanyak 40 dari total 60 kompleks pemakaman mengalami kerusakan, sementara tujuh kuburan massal ditemukan di kompleks rumah sakit.

Kerusakan juga meluas ke sektor perumahan. Laporan itu menyebut sebanyak 510 ribu unit rumah mengalami kerusakan, dengan 335 ribu di antaranya hancur total. Lebih dari dua juta warga Palestina disebut mengalami pengungsian akibat perpindahan paksa, sementara sekitar 350 ribu keluarga masih membutuhkan tempat tinggal. Sebanyak 346 lokasi penampungan pengungsi juga dilaporkan menjadi sasaran pemboman.

photo
Warga memeriksa reruntuhan rumah mereka yang hancur pasca serangan udara Israel di kamp pengungsi Al-Shati, sebelah barat Kota Gaza, Jalur Gaza, 9 Mei 2026. - (EPA/MOHAMMED SABER)

Kantor Media Pemerintah Gaza juga menyoroti situasi kelaparan akibat terbatasnya akses bantuan kemanusiaan. Laporan itu menyebut seluruh perlintasan menuju Gaza telah ditutup selama lebih dari 650 hari sehingga lebih dari 390 ribu truk bantuan dan bahan bakar tidak dapat masuk.

Sebanyak 48 dapur umum dan 64 pusat distribusi bantuan dilaporkan menjadi sasaran serangan. Sebanyak 556 relawan kemanusiaan meninggal dunia, sementara 128 konvoi bantuan juga disebut diserang.

Menurut laporan tersebut, sekitar 2.605 warga meninggal dan lebih dari 19 ribu lainnya terluka di lokasi distribusi bantuan yang oleh Kantor Media Pemerintah Gaza disebut sebagai "jebakan maut". Selain itu, sekitar 650 ribu anak menghadapi ancaman kelaparan, 40 ribu bayi terancam akibat kekurangan susu, lebih dari 22 ribu pasien membutuhkan pengobatan di luar negeri namun belum memperoleh izin keluar, dan sekitar 12.500 pasien kanker menghadapi ancaman kematian akibat terbatasnya layanan kesehatan.

Pada sektor infrastruktur, sebanyak 725 sumur air utama, 134 proyek penyediaan air bersih, lebih dari 5.000 kilometer jaringan listrik, lebih dari 700 ribu meter jaringan pipa air, serta lebih dari tiga juta meter jalan dilaporkan mengalami kerusakan. Sebanyak 253 gedung pemerintahan, 292 fasilitas olahraga, dan 208 situs sejarah serta warisan budaya juga disebut menjadi sasaran serangan.

Sektor pertanian mengalami kerusakan berat. Lebih dari 87 persen lahan pertanian hancur, 8.700 sumur pertanian tidak lagi berfungsi, hampir 7.800 peternakan rusak, dan 99 persen sektor perikanan terdampak. Produksi sayur dan buah turun dari sekitar 524 ribu ton per tahun menjadi hanya sekitar 20 ribu ton.

Kantor Media Pemerintah Gaza memperkirakan total kerugian langsung awal pada 15 sektor vital mencapai sekitar 80 miliar dolar AS. Kerugian terbesar berada pada sektor perumahan yang mencapai sekitar 34 miliar dolar AS, disusul sektor kesehatan dan layanan publik masing-masing sekitar 6 miliar dolar AS, perdagangan sekitar 5 miliar dolar AS, serta pendidikan dan pertanian masing-masing sekitar 4 miliar dolar AS.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat