Hipertensi | yourlawyer.com

Medika

Menjaga Diri dari Bahaya Tersembunyi Hipertensi

Pada 2029, data WHO menunjukkan lebih dari 1,13 miliar orang di seluruh dunia menderita hipertensi.

Hipertensi, atau dikenal juga dengan istilah tekanan darah tinggi, adalah kondisi medis yang umum dijumpai di masyarakat, tetapi sering kali tidak disadari oleh pengidapnya. Jika tidak dikelola dengan baik, kondisi ini berisiko menimbulkan masalah terhadap kesehatan. 

Dokter spesialis penyakit dalam RS Pondok Indah – Puri Indah, dr Wirawan Hambali SpPD FINASIM menjelaskan, hipertensi adalah kondisi medis di mana tekanan darah dalam arteri tubuh meningkat secara persisten. Sementara itu, tekanan darah merupakan kekuatan yang diberikan oleh darah saat mengalir melalui arteri. 

"Hipertensi sering disebut sebagai silent killer karena umumnya tidak menimbulkan gejala yang jelas pada penderitanya, tetapi berisiko menyebabkan masalah serius pada pembuluh darah dan organ penting tubuh, seperti jantung, otak, mata, ginjal, dan organ tubuh lainnya jika tidak ditangani dalam jangka panjang," ujarnya dalam siaran pers yang diterima Republika, Rabu (11/10/2023).

Berdasarkan panduan American College of Cardiology/American Heart Association pada 2017, hipertensi dapat didiagnosis apabila tekanan darah menetap tinggi lebih dari satu kali pengukuran, yaitu jika menetap lebih dari sama dengan 130/80 mmHg. Adapun, pengukuran tekanan darah harus mengikuti kaidah seperti tidak sambil berbicara, kandung kemih kosong, menggunakan ukuran manset yang tepat, telapak tangan tidak mengepal, dan lengan sejajar dengan jantung. 

Pengukuran tekanan darah dapat dilakukan baik dalam posisi duduk maupun berbaring, selama lengan yang diukur berada dalam posisi sejajar dengan jantung. Selain itu, tungkai atau kaki tidak menyilang serta tubuh dan kaki dalam topangan yang cukup.

Prevalensi hipertensi 

Hipertensi adalah masalah kesehatan global yang umum dijumpai. Menurut data dari World Health Organizaon (WHO), pada 2019, lebih dari 1,13 miliar orang di seluruh dunia menderita hipertensi.

Prevalensi ini cenderung meningkat seiring dengan pertambahan usia dan gaya hidup yang dak sehat. Di Indonesia, hipertensi juga menjadi masalah serius. Menurut laporan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, pada 2018, sekitar 34,1 persen penduduk dewasa Indonesia menderita hipertensi (Riskesdas 2018).

Angka ini menunjukkan bahwa lebih dari seperga populasi Indonesia berpotensi terkena risiko komplikasi serius akibat hipertensi jika dak diatasi dengan baik. Permasalahan juga muncul bahwa dari sebagian besar masyarakat yang terkena hipertensi dak menyadari bahwa mereka mengidap penyakit ini. Sementara sebagian besar pengidap hipertensi dak menjalani pengobatan serta dari sebagian yang menjalani pengobatan dak mencapai target tekanan darah yang diharapkan.

Faktor Risiko

Lima langkah manajemen hipertensi - (Republika)

  ​

Beberapa faktor risiko yang berhubungan dengan hipertensi meliputi:

1. Usia

Risiko hipertensi meningkat seiring bertambahnya usia 

2. Faktor genetik

Adanya anggota keluarga dengan riwayat hipertensi dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit yang sama 

3. Gaya Hidup

Konsumsi garam berlebihan, kurangnya aktivitas fisik, obesitas, merokok, dan konsumsi alkohol berlebihan merupakan faktor-faktor gaya hidup yang berkontribusi pada timbulnya penyakit ini

4. Diet tidak sehat

Kebiasaan diet dengan kandungan tinggi lemak jenuh, kolesterol, dan gula dapat berperan dalam perkembangan hipertensi

5. Stres

Kondisi tekanan psikologis kronis dapat turut memengaruhi tekanan darah

6. Gangguan hormon

Gangguan tidur seperti sleep apnea, penyakit pankreas, dan lain sebagainya juga dapat meningkatkan risiko hipertensi

Hipertensi Bisa Membunuh

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan silent killer. Penyakit ini bisa perlahan membunuh pengidapnya jika tidak ditangani dengan baik. Menurut dr Wirawan, pencegahan dan pengelolaan hipertensi sangat penting untuk menghindari komplikasi yang lebih serius seper serangan jantung, strok, atau kerusakan organ lainnya. 

Beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengelola hipertensi antara lain: 

1. Perubahan gaya hidup

Menerapkan pola makan sehat, mengurangi konsumsi garam, meningkatkan aktivitas fisik, berhenti merokok, dan mengurangi konsumsi alkohol.

2. Terapi pengobatan

Dokter mungkin akan meresepkan obat untuk menurunkan tekanan darah jika perubahan gaya hidup dak cukup efektif membantu. Ada baiknya obat rutin yang sudah diresepkan dokter diminum secara teratur untuk membantu kerja organ tubuh dalam menurunkan tekanan darah.

Obat rutin yang sudah diresepkan oleh dokter tidak akan membuat ginjal rusak, karena dosisnya sudah disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. Sebaliknya, resep obat rutin yang tidak dikonsumsi dengan baik, justru dapat memperberat kerja organ ginjal.

3. Pemantauan rutin

Lakukan pemeriksaan tekanan darah secara teratur, bahkan jika Anda merasa sehat. Hal ini penting untuk memantau kemajuan dan memastikan bahwa pengobatan berjalan dengan baik.

4. Konsultasi medis

Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam jika memiliki riwayat keluarga dengan hipertensi atau faktor risiko lain yang meningkatkan peluang berkembangnya kondisi ini.

5. Edukasi diri

Perkaya pengetahuan mengenai berbagai informasi terkait hipertensi dan cara mengelolanya. Hal ini dapat membantu dalam menentukan langkah-langkah yang lebih baik untuk menjaga kesehatan.

Menyandang predikat sebagai “the silent killer”, bukan berarti penyakit hipertensi menjadi akhir dari segalanya. Ketahui kondisi Anda dan orang tercinta dengan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin, tidak hanya untuk hipertensi, tetapi juga untuk mengetahui risiko penyakit lainnya. 

"Jangan ragu berkonsultasi dengan dokter spesialis penyakit dalam, terutama jika memiliki faktor risiko hipertensi. Semakin cepat hipertensi dideteksi dan ditangani, semakin kecil risiko terjadinya penyakit komplikasi yang lebih berat," ujarnya. 

 

 
Hipertensi adalah kondisi medis di mana tekanan darah dalam arteri tubuh meningkat secara persisten.
 
DR WIRAWAN HAMBALI SPPD FINASIM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Pondok Indah – Puri Indah. 
 
 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat