Angela Collins, seorang mualaf yang masuk Islam tidak lama sesudah Peristiwa 911 | DOK TANGKAPAN LAYAR YOUTUBE

Oase

Menemukan Hidayah Usai 9/11

Ketika AS dilanda Islamofobia pascaperistiwa 9/11, Angela Collins justru tertarik mempelajari Islam.

Benci dan rindu. Begitulah sikap publik di Amerika Serikat (AS) terhadap Islam setelah terjadinya peristiwa serangan teroris 11 September 2001. Kebencian dan ketakutan terhadap agama Islam melanda sebagian masyarakat di negeri adidaya itu. Sebagian mereka menuding Islam sebagai agama teroris yang telah melahirkan orang-orang jahat dan berhati pembunuh.

Berbeda dengan sebagian masyarakat Negeri Paman Sam yang kala itu dilanda Islamofobia, Angela Collins, seorang aktris, justru tertarik untuk mempelajari Islam. Ketertarikan itu mencuat setelah peristiwa runtuhnya menara kembar World Trade Center (WTC) di New York itu. Tak perlu lama bagi wanita ini untuk meyakini kebenaran ajaran Islam. Dua bulan setelah kejadian yang populer disebut "9/11" itu, ia mengucapkan dua kalimat syahadat.

“Islam adalah satu-satunya agama yang menyuruh kita melakukan penyerahan total kepada Sang Pencipta kita, Pencipta semua orang dan segala sesuatu,” ujar bintang televisi yang membintangi “Laguna Beach” itu. Angela pun haqul yaqin bahwa Alquran adalah firman Allah SWT. “Ini (Alquran) hanya bisa datang dari pencipta saya.”

Angela dibesarkan dalam keluarga Katolik tradisional. Setiap pekan ia pergi ke gereja bersama keluarganya, membaca dan memahami kitab sucinya, dan berdoa kepada Yesus. Secara fisik, Angela adalah seorang gadis California tulen yang diberkahi kesempurnaan fisik. Matanya biru, rambutnya pirang, dan bentuk tubuh yang menandakannya sebagai gadis pantai California.

photo
Seorang warga menyentuh plakat yang menampilkan sebagian nama-nama korban peristiwa 11 September 2001 di New York, AS. Kejadian 9/11 menjadi tonggak penting bagi Amerika Serikat abad ke-21 bahkan hingga kini.  - (AP/Craig Ruttle/Pool Newsday)

Sebagai bintang televisi, Angela cukup populer. Tak sedikit anak gadis yang mencoba meniru atau ingin menjadi seperti dirinya. Angela adalah pribadi yang unik. Ia mulai mencari jati dirinya ketika berusia 14 tahun. Saat itu, ia sudah mulai menolak konsep Trinitas.

Sepanjang hidupnya, ia berusaha untuk mencari dan memahami segala sesuatu. Namun ketika sampai pada konsep ketuhanan, Angela benar-benar bingung. “Terutama mengenai mengapa Tuhan datang sebagai manusia dan membiarkan dirinya mati demi dosa-dosa umatnya,“ ungkapnya, seperti dinukil laman Turn to Islam.

Jika memikirkan hal itu, hatinya selalu gundah. Ada rasa ketidakyakinan. Angela pun memutuskan untuk membicarakan masalah-masalah seperti itu dengan pastornya. Angela pun sering bertanya, “Mengapa agamanya begitu kompleks?” Ketika beranjak dewasa, ia memutuskan untuk membuatnya lebih sederhana. Hanya ada satu, yaitu Sang Pencipta. Ya, hanya itu.

Menurutnya, tak ada penjelasan lain yang masuk akal dari itu. Dan, setiap orang tidak bisa mengendalikan peristiwa yang terjadi pada diri masing-masing, termasuk dia. “Ada yang mengendalikan itu semua, Dialah Pencipta (Allah SWT),” ujarnya. Hingga akhirnya, Angela mengenal Islam. “Saya mencari kebenaran dan saya menemukannya di dalam Islam. Kini saya memiliki keyakinan itu dan saya menyukainya,” paparnya.

 

 
Menurut Angela, Islam adalah agama sederhana.

 

Ia memandang Islam sebagai agama yang datang untuk memperbaiki kesalahan manusia. Menurut Angela, Islam adalah agama sederhana. “Allah adalah Allah. Dia menciptakan manusia dan manusia menyembah Allah. Itu saja,” ucapnya. Tuhan, kata dia, mengutus Musa, Yesus (Nabi Isa AS), dan Muhammad untuk menyampaikan pesan-Nya dan membimbing manusia melalui firman-Nya.

“Dalam Islam, Yesus adalah satu-satunya nabi yang tidak mati, dan karena itulah ia menjadi utusan yang akan datang kembali pada Hari Penghakiman,” papar Angela. Ia berpendapat bahwa agama adalah pedoman hidup bagi setiap orang untuk berperilaku baik melalui spiritualitas. Esensi Allah (satu-satunya Tuhan) telah membuka hatinya.

Islam memberinya arah dan kini Angela hidup dengan panduan Alquran yang dipinjamkan oleh Penciptanya untuk kebahagiaan di bumi dan di akhirat nanti. Menurutnya, Islam tidak memberikan jalan ke surga hanya karena seseorang mengatakan bahwa dia adalah seorang Muslim.

Menurut dia, seseorang juga tidak mungkin langsung masuk surga hanya karena mempercayai Allah bersifat monoteis. “Anda pergi ke surga berdasarkan niat dan tindakan Anda untuk mengikuti pesan yang diajarkan kepada kita oleh para nabi. Dan, semua itu dapat dikonfirmasi dalam kitab yang Allah berikan (Alquran).”

Pilihan Angela untuk menjadi seorang Muslim yang dinilai sebagai agama ‘kontroversial’ membuat keluarga dan temantemannya heran. “Saya melihat Muslim secara umum di mata masyarakat Amerika Serikat. Namun mereka harus tahu bahwa (stigma) itu bukanlah Muslim yang sebenarnya. Muslim tidak bertindak seperti apa yang mereka pikirkan,” Angela mengemukakan pendapatnya dalam sebuah wawancara, seperti dilansir dari YouTube media NBC.

photo
Umat Islam menunaikan shalat id di New York, AS, Juli 2016. REUTERS/Shannon Stapletonmuslim amerika ; islam di amerika - (X90052)

Setelah menjadi bagian dari Islam, ia dapat mematuhi ajaran di dalam Alquran dan Hadis. Baginya, Islam adalah agama yang multibudaya dan merupakan sistem yang dapat diadopsi dalam lingkungan apa pun di setiap titik waktu.

Kini, Angela telah menjadi seorang Muslim. Tidak terlihat lagi gerai rambut pirangnya. Rambutnya yang indah itu telah ditutup oleh hijab (jilbab) yang membuatnya jauh lebih memesona dari penampilan sebelumnya.

Awalnya, tidak mudah untuk memakai hijab. Menurut dia, orang-orang di sekitarnya banyak berpikir bahwa apa yang dipakainya bukanlah sebuah aksesori keagamaan, tetapi justru sebuah mode pakaian terbaru. Namun, dengan niat yang tulus, Angela menunaikan kewajibannya sebagai seorang Muslimah: berjilbab.

Ia pun memutuskan untuk meninggalkan dunia keartisan yang gemerlap dan glamor. Kini, Angela berkhidmat di dunia pendidikan, sebagai direktur di Islamic School. Angela mencoba untuk memberi kontribusi bagi pengembangan pendidikan Islam di Amerika Serikat.

Ganjar Jadi 'Model' Azan Maghrib di TV, Bukan Politik Identitas?

Ganjar tampil dalam tayangan azan maghrib di TV milik Ketua Umum Perindo Hary Tanoe.

SELENGKAPNYA

Penyintas Gempa Maroko Mengiba, Bantuan Telat Tiba

Bantuan asing masih tertahan menunggu restu Kerajaan Maroko.

SELENGKAPNYA

Timnas U-23 Siap Mengukir Sejarah

Indonesia hanya membutuhkan hasil imbang melawan Turkmenistan untuk melaju ke putaran final Piala Asia.

SELENGKAPNYA

Ikuti Berita Republika Lainnya