Retaurant Signora Pasta, di Cirendeu, Tangerang Selatan. |

Kuliner

Signora Pasta Rasa Sicilia di Selatan Jakarta

Resto Italia asli, kata Pino, harus berkoki Italia.

Oleh STEVY MARADONA

Giuseppe Coglitore (Pino) membuka percakapan kami lewat anggur. "Segelas anggur sehari dan olive oil baik bagi tubuhmu," kata dia dengan bahasa Inggris cengkok Italia. Pino berdiri di depan saya, masih dengan seragam kokinya yang penuh bercak.

Kami berada di restorannya yang mungil, Signora Pasta, di Jalan Cirendeu Raya, daerah di selatan Jakarta. Tak ada jam di sana. Saya membuka ponsel sebentar dan melirik, sudah lewat pukul 22.00 WIB.

Tamu di restorannya tinggal dua meja. Meja saya dan meja teman Pino di ujung ruangan. Perut saya sudah kenyang dan membuncit. Tadi kami melahap spageti, piza, lasagna, dengan pencuci mulut es krim rumahan serta kue tiramisu yang super lembut.

photo
Retaurant Signora Pasta di Cirendeu, Tangerang Selatan. - (Republika)

Yang paling terasa nendang bagi saya adalah pizanya. Adonan roti piza Signora Pasta sangat berbeda dengan piza lain di Jakarta. Lebih renyah tapi sekaligus 'berisi'. Apalagi ditambah toping menawan di atasnya. This is not ordinary pizza, kata saya dalam hati.

Tapi, Pino memaksa kami melahap tiga potong piza lagi. "Ini saya buat spesial," kata dia sambil menyodorkan piza dalam bentuk persegi panjang. "Ini rasa Italia asli, dengan keju dan minyak zaitun. Orang Italia biasa makan piza dengan segelas anggur," kata dia.

Pino masih semangat bicara. "Ah, olive oil!" kata saya. "Ingat Gencko Olive Oil?" tanya saya pada Pino. Matanya langsung berbinar.

"Maariooo Puuzooo! Il Padrino!" jawab dia sambil menyebut judul film "Godfather" dalam bahasa Italia itu. Pino nyerocos cepat. Betapa ia menyukai trilogi "Godfather" dan Mario Puzo. Ia punya koleksi buku Mario Puzo serta koleksi DVD-nya. Lengkap!

"Don Corleone," kata saya.

"Corleonee .... Saya berasal dari Palermo Sicilia, kamu harus ke sana! Beritahu saya kalau kamu ke sana. Saya akan tunjukkan restoran terbaik di sana. Saya akan telepon teman-teman saya di sana," kata dia dengan semangat. Matanya berbinar-binar dan mulutnya tak berhenti tertawa.

photo
Retaurant Signora Pasta di Cirendeu, Tangerang Selatan - (Republika)

Ia kemudian menjelaskan soal beda piza di Palermo dan piza Italia lainnya. Di Palermo, adonan pizanya lebih tebal dan bertangkup.

"Well, saya belum pernah ke Sicilia, tapi saya pernah ke Venezia," kata saya. "Ya Venezia. Kota yang cantik. Tapi, kamu harus ke sana di musim dingin, indah dan sepi turis. Kalau musim panas penuh turis," kata Pino.

Ia lalu mengembalikan pembicaraan ke "Godfather". Ia katakan, ia tergila-gila dengan cerita itu. Mario Puzo adalah pengarang jenius yang memotret kondisi sosial imigran Italia dengan tepat. Ia tanya apakah saya sudah baca seluruh karya Puzo, seperti Omerta dan The Last Don. Saya jawab sudah.

"Eh, dari mana asal kata mafia? Kalau tak salah dari singkatan Morte Alla Francia-Italia Anella (Death to France, Italy cries)," tanya saya.

"Oh, bukan," sergah Pino, "Mario Puzo pernah menulis asal usul katanya di salah satu bukunya. Ini dari jeritan seorang ibu yang melihat putrinya tewas di tangan penjajah Italia, dia berteriak, "Mia Figliaaa (anakku)", dari situlah pergerakan Sicilia melawan penjajah dimulai," kata Pino menjelaskan.

photo
Retaurant Signora Pasta di Cirendeu, Tangerang Selatan. Pemilik, pria Italia bernama Giuseppe Coglitore alias Pino (kanan) melayani pelanggan dengan ramah. - (Republika)

Ia lantas bercerita tentang keluarganya yang turun-temurun membuat sepatu dan memasak. Pino adalah garis terakhir pembuat sepatu. Ia lama berbisnis sepatu. Memasok sepatu dari Hong Kong dan Cina ke Italia. Ia punya pabrik sepatu di Tangerang Selatan. Ia juga memasukkan sepatu ke sejumlah departemen store di Jakarta.

Tapi, ia akhirnya memilih berbisnis restoran. Bisnis sepatunya sudah tertekan oleh produk Cina. Dan, pelanggannya selalu minta Pino menjual dengan harga murah. Di bisnis restoran, dia bisa 'santai'. Ia bilang, bakat masaknya datang dari neneknya yang bekerja di restoran di Palermo. Dan istrinya, Maria, yang memang jago di dapur.

"This is my home," kata Pino sambil melihat ke restorannya yang apik. Ia lantas memanggil Maria yang mungil, keturunan Cina. Kami semakin akrab dan asyik mengobrol.

Signora Pasta boleh dibilang restoran unik karena sejumlah hal. Pertama, lokasinya nyempil di satu blok pertokoan yang jauh ditempuh dari Jakarta. Kedua, restoran ini mungil. Hanya ada delapan meja di dalam dan tiga meja di luar. Kalau Anda datang akhir pekan, siap-siap antre karena pelanggan masakan Signora Pasta sudah berebut duduk di sana. Anda juga disarankan telepon lebih dulu untuk memastikan kursi.

photo
Retaurant Signora Pasta di Cirendeu, Tangerang Selatan. Pemilik, pria Italia bernama Giuseppe Coglitore alias Pino (kiri) dan Maria sang istri (kanan). - (Republika)

Ketiga, Pino dan istrinya turun langsung ke dapur. Mereka memasak segala hidangan yang ada di menu untuk Anda dengan dibantu sejumlah orang. Pino mengakui, ia kesulitan menyewa koki yang bisa masakan Italia otentik. Sewa koki dari Italia? Biayanya terlampau mahal, bisa Rp 80 juta per bulan. Dan lagi pula, tegas Pino, "Restoran Italia yang asli harus punya koki Italia di dapurnya. Malah yang otentik, di sana pelanggan langsung menelepon si empunya restoran, bilang dia mau datang dan minta dimasakkan ini itu layaknya teman," kata Pino.

Ia dan Maria berupaya sekuat mungkin menyajikan masakan Italia yang otentik. Ia katakan, bersantap di Signora Pizza berarti sama dengan bersantap makanan rumahan di Sicilia.

Keempat, ini yang mungkin terunik, adalah nuansa kekeluargaannya. Pino bakal keluar dari dapur sejenak untuk menyapa tiap tamu di mejanya. Bukan sekadar basa basi, dia akan mengajak Anda mengobrol, mulai dari makanannya. "Apakah enak? Anda harus sisakan tempat sedikit di perut Anda," kata dia.

Urusan sepak bola. Pino adalah Juventini sejati. Ia memajang foto tua skuat Juventini di belakang kasir. Di pintu depan, ia tempelkan stiker Juventus Fans Club. Ia bahkan membagi-bagikan ratusan stiker Juventus pada tamunya.

Atau, dia akan menyanyi. Di pojok ruangan ada sebuah organ tua. Ia menggunakannya untuk menyanyi lagu-lagu bahasa Italia atau kadang Koes Plus. Kalau ada tamu yang berulang tahun, ia akan menyanyi "Happy Birthday" ala Italia tentunya. Saat kami sedang mengobrol soal mafia dan Mario Puzo, Pino tiba-tiba berlari ke balik pianonya. Ia langsung melantunkan lagu tema mafia yang terkenal itu, "Speak Softly Love", dalam bahasa Italia. Kami semua tertawa.

Pino juga tak segan kasih bonus gelato (es krim) buatannya sendiri ke tiap meja. "Ini complimentary dari Pino," kata si pelayan seraya meletakkan segelas gelato cokelat yang terlihat sangat lezat di meja kami.

Signora Pasta baru buka Maret 2011. Tapi, sambutannya luar biasa untuk restoran di daerah jauh dari Jakarta. Beberapa pengunjung sudah menawarkan Pino dan istri untuk buka cabang atau mewaralabakan. "Dalam enam bulan ini, saya menjadi kaya berkat restoran ini," kata Pino. "Bukan kaya harta, tapi kaya teman. Saya mendapat banyak sekali teman baru. Itu sangat menyenangkan bagi saya."

Pino berdiri di balik bangku, di depan saya. Wajahnya masih ceria. Matanya masih segar. Jam di telepon genggam saya sudah menunjukkan pukul 23.30 WIB. Saya teringat sutradara film La Vita e Bella (Live is Beautiful), Roberto Benigni, yang kocak itu. Pino juga kocak dan ramah.

Kami masih meneruskan obrolan sana-sini. Seperti dua sahabat lama yang baru bertemu. Saya merasa, saya bukan makan di sebuah restoran. Saya merasa saya berkunjung ke rumah sahabat karib dan ia memasak untuk saya dari hatinya. Di sini, di Signora Pasta.

Disadur dari Harian Republika Edisi Sabtu, 15 Oktober 2011.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Balada Smartphone Mewah dan Legalitas IMEI

Jangan tergiur ponsel ilegal yang murah.

SELENGKAPNYA

Masuk ke Trunyan

Masyarakat Bali Aga di Trunyan mengajak kita berkelana ke era awal Bali.

SELENGKAPNYA

Menikmati Bumi di Batur

Selama ini kawasan Batur sering lebih dikenal sebagai stopover.

SELENGKAPNYA