ILUSTRASI Dukun mencoba untuk mempengaruhi Nabi Muhammad SAW, tetapi belakangan ia justru yang masuk Islam. | DOK FLICKR

Kisah

Kisah Dukun Memeluk Islam

Semula, dukun ini hendak mempengaruhi Rasulullah SAW dengan mantra-mantranya.

Dalam menyebarkan risalah, Nabi Muhammad SAW menghadapi banyak tantangan. Khususnya ketika fase dakwah di Makkah masih berlangsung. Tidak seperti tahap Madinah, yang di dalamnya Rasulullah SAW memiliki peran sebagai pemimpin sosial-politik masyarakat.

Pada masa pra-hijrah, posisi Nabi SAW cenderung lemah, sedangkan kaum kafir dan musyrik Quraisy sebaliknya. Mereka dengan leluasa dapat menindas dakwah Islam, baik secara lisan maupun perbuatan.

Rasul SAW pun tidak sepi dari hujatan yang dilayangkan orang-orang musyrik. Tujuan mereka jelas: minimal, yakni ingin membunuh karakter beliau. Macam-macam intimidasi dialamatkan kepadanya. Salah satu caranya adalah menuding Nabi SAW sebagai orang gila.

 
Salah satu caranya (yang dilakukan musyrikin) adalah menuding Nabi SAW sebagai orang gila.

Tuduhan demikian menyebar ke seantero Makkah. Bahkan, para pelancong atau kafilah yang datang untuk berniaga di sana pun tak sedikit yang mempercayai fitnah itu. Di antara mereka adalah seorang dukun dari Bani Azd Syanu’ah, Yaman. Dhimad al-Azdi, demikian namanya.

Seperti dikisahkan dalam Sirah Nabawiyah, suatu hari Dhimad al-Azdi memasuki Kota Makkah. Saat berada di pasar, ia tertarik pada pembicaraan orang-orang mengenai sosok Muhammad. Menurut mereka, lelaki itu sudah sakit jiwa karena meracaukan mantra-mantra aneh bernama Alquran.

Dengan rapalan itu, lanjut mereka, banyak orang yang meninggalkan agama nenek moyang Makkah. Orang-orang itu lebib memilih menjadi Muslimin—sebutan bagi pengikut Muhammad.

“Bila orang gila itu dibiarkan, bisa-bisa tak ada lagi yang menyembah berhala di kota ini!” seru salah seorang dari kerumunan itu.

Al-Azdi kian penasaran. Siapa pula Muhammad, orang yang dicap gila dan menyebar keresahan bagi seantero Makkah itu? Ia pun bertanya kepada seseorang. Akhirnya, diketahuinya di mana Muhammad tinggal dan bagaimana perawakannya.

“Aku seorang dukun yang bisa membuat orang gila menjadi sadar. Aku akan menyembuhkannya,” kata al-Azdi.

 
Aku seorang dukun yang bisa membuat orang gila menjadi sadar. Aku akan menyembuhkannya.

Ia pun berangkat ke alamat yang dimaksud. Setelah mencari-cari, al-Azdi pun menemukan Rasulullah SAW sedang berdoa di depan Ka’bah. Ia membiarkan lelaki itu dengan ibadahnya. Sekilas, ia merasa tak ada yang aneh dengan penampilan Muhammad. Seperti kebanyakan warga Makkah pada umumnya.

Al-Azdi pun menyapa Rasulullah SAW yang sudah selesai dengan shalatnya. Ia memperkenalkan diri sebagai dukun yang ahli. Ia mengaku dapat memberikan pengobatan dengan cara menghembuskan angin yang dibacai mantra-mantra.

Orang Yaman itu langsung menawarkan jasanya kepada Rasulullah SAW. Ia merasa perlu persetujuan dari Muhammad sebelum melakukan aksinya. Sebab, metode yang ia jalankan mesti dengan kerelaan orang yang bersangkutan.

Rasulullah SAW tidak mengiyakan. Akan tetapi, beliau mengajak al-Azdi untuk mengikutinya dan duduk di dekat Ka’bah.

Saat berhadapan itu, Nabi SAW mengatakan kepada si dukun, “Sesungguhnya pujian itu bagi Allah. Kami memuji dan memohon pertolongan kepada-Nya. Siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, tak seorang pun bisa menyesatkannya. Dan siapa yang disesatkan Allah, tak seorang pun bisa memberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Allah semata. Tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya.”

 
Dukun itu takjub bukan kepalang dengan perkataan Rasulullah SAW.

Mendengar itu, al-Azdi terkesima. Dukun itu takjub bukan kepalang dengan perkataan Rasulullah SAW barusan. Ia tidak menduga, lelaki yang disebut-sebut sebagai orang gila ternyata menyampaikan perkataan yang menakjubkan.

“Bagaimana mungkin ia kehilangan akal?” gumam al-Azdi dalam hati.

Tiga kali dukun itu mencoba merapalkan mantranya, tiga kali pula Rasulullah SAW menyampaikan perkataan yang sama. Akhirnya, al-Azdi diam dan bertanya langsung.

“Apakah pesan yang Anda sampaikan?”

Rasulullah SAW pun menjelaskan tentang Alquran, wahyu dari Allah SWT kepada seluruh umat manusia. Diterangkannya pula perihal iman dan Islam, serta keutamaan orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir. Nabi SAW juga menasihati dukun tersebut tentang kesesatan penyembah berhala.

Setelah menerima nasihat Rasulullah SAW, al-Azdi mengurungkan niatnya semula untuk “mengobati” Rasulullah. Dengan kerelaan hati, ia menyatakan diri masuk Islam. Setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, al-Azdi menuturkan pengakuannya.

“Saya sudah menghafal seluruh kata dalam kamus, dalam berbagai kitab. Namun, tak satu pun yang lebih menakjubkan dibanding dengan Alquran, ya Rasulullah!” kata dia.

“Sungguh merugi orang-orang yang memfitnahmu. Mereka mengecapmu sebagai orang gila, tukang tenung, atau penyair. Padahal, engkau semata-mata menyampaikan kebenaran. Yang engkau sampaikan adalah perkataan dari Tuhan Yang Maha Esa!” lanjut al-Azdi.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Ribuan Warga Yaman Kecam Aksi Militer di Jenin

Mereka juga mengecam aksi pembakaran Alquran di Swedia pekan lalu.

SELENGKAPNYA

Pengembaraan Panjang Imam Ghazali

Sang Hujjatu Islam, Imam Ghazali, meninggalkan jabatan tinggi di Baghdad untuk mencari ilmu dan temukan ketenangan batin.

SELENGKAPNYA