ILUSTRASI Imam al-Ghazali merupakan seorang ulama paling berpengaruh dalam sejarah Islam. | DOK WIKIPEDIA

Mujadid

Pengembaraan Panjang Imam Ghazali

Sang Hujjatu Islam, Imam Ghazali, meninggalkan jabatan tinggi di Baghdad untuk mencari ilmu dan temukan ketenangan batin.

Abu Hamid Muhammad al-Ghazali lahir di Tus, Persia, pada 450 Hijriyah (1058 Masehi). Pada masa mudanya, al-Ghazali belajar pada imam Masjid al-Haram, al-Juwayni. Kecerdasannya tidak hanya dikagumi sesama pelajar, tetapi juga guru-gurunya.

Di antara para murid Imam al-Juwayni, al-Ghazali termasuk yang paling brilian. Saat menjadi asisten gurunya tersebut, Ghazali mulai menulis sejumlah karya.

Imam al-Juwayni wafat pada 475 Hijriyah (1086 Masehi). Karena itu, Ghazali memutuskan meninggalkan Nishapur dan bertolak menuju Baghdad.
Saat itu, kota di tepian Sungai Eufrat tersebut merupakan pusat peradaban Islam yang paling unggul. Di sana, Ghazali belajar di bawah bimbingan Nizam al-Mulk, yang tersohor sebagai pendiri Madrasah Nizamiyyah.

Tak membutuhkan waktu lama, Imam Ghazali ditunjuk menjadi guru di institusi terhormat itu. Kelasnya lebih mirip wahana debat antarsarjana hukum Islam. Para pemula begitu bersemangat menyimak kuliahnya.

Saat berusia 33 tahun, Imam Ghazali diamanahi sebagai kepala Universitas Nizamiyyah di Baghdad. Inilah puncak kariernya di dunia pendidikan.

Namun, posisinya yang dalam puncak kemapanan justru memunculkan kegelisahan batin. Ia lantas memutuskan meninggalkan Baghdad dan berkelana mencari ketenangan spiritual.

Imam Ghazali menulis, "Dalam enam bulan saya dalam keadaan yang dirundung cemas luar biasa, sampai-sampai saya tak bisa bicara, makan, atau mengajar.
Saya sampai pada kesimpulan bahwa kebahagiaan di akhirat tidak akan bisa tanpa takwa, mengendalikan hawa nafsu. Dan semua ini hanya bisa tercapai bila kecintaan terhadap dunia disudahi."

 

Imam Ghazali meninggalkan Baghdad dan menuju Syam pada 488 Hijriyah/1096 Masehi). Dari keputusan itulah, perjalanan spiritual dan intelektualnya kian terasah.

Di Damaskus, Imam Ghazali hidup sendirian dan menghabiskan hari-hari dengan beribadah. Dia akan menyusuri tangga naik di menara Masjid Agung Umawiyah. Di sana, ia seharian merenung dan beribadah.

 

Di masjid yang sama, ia juga mengajar beberapa murid. Dua tahun kemudian, Imam Ghazali bertolak ke Yerussalem dan tinggal di Kubah Batu. Lantas, ia berjalan ke Kota Khaleef di Tepi Barat.

Tiga komitmen

Saat sedang berziarah di makam Nabi Ibrahim, Imam Ghazali menyatakan tiga hal sebagai komitmen pribadi. Pertama, tidak akan lagi mengunjungi pengadilan. Kedua, tidak akan lagi menerima hadiah dari kalangan kerajaan. Ketiga, tidak akan lagi mendebat orang.

Imam Ghazali kemudian memutuskan pergi berhaji. Selama 10 tahun, ia mencari ketenangan batin. Ia menjelajahi padang gurun, hutan, perkotaan, dan pegunungan. Dalam pada itu, ia juga menulis banyak buku.

Setelah sekian lama itu, Imam Ghazali akhirnya kembali ke Baghdad. Dia diterima dengan sukacita oleh pemerintah dan masyarakat. Tidak lama kemudian, dirinya berpindah ke Nishapur. Di sinilah ia menulis karya akbarnya, Ihya Ulumu ad-Din.

photo
Kitab Ihya Ulumuddin. - (DOK WIKIPEDIA)

Namun, Imam Ghazali hanya mengajar tidak lama di Nizamiyya Nishapur. Ia kemudian kembali ke kampung halamannya, Tus, di mana ia mendirikan sekolah sendiri dan mengajar.

Imam Ghazali wafat pada 505 Hijriah (1111 Masehi) dalam usia 53 tahun. Saudaranya, Ahmad Ghazali, menyaksikan saat-saat terakhir sang Hujjatul Islam. Katanya, "Pada Senin pagi, Imam (Ghazali) bangun dan mengambil wudhu. Kemudian, ia shalat sunah Fajar. Lalu, ia meminta serbannya dan sambil menciumnya ia menjelaskan, 'Aku menerima Allah sebagai Tuhanku'. Kemudian, ia wafat."

Sebuah bekal

Imam al-Ghazali pernah menulis kumpulan nasihat yang ditujukan kepada muridnya. Nasihat tersebut merupakan permintaan khusus sebagai bekal sang murid agar sukses di dunia maupun akhirat.

Petuah bijak itu sedianya,hanya lewat lisan, tetapi sang murid menginginkan kekekalan wasiat tersebut. Tokoh yang berjuluk Hujjatul Islam (Pembela Islam) itu akhirnya mengabulkan lewat karyanya yang berjudul Ayyuha al-Walad al-Muhib. Risalah ini juga dikenal dengan sebutan Ar-Risalah al-Waladiyah lantaran banyaknya kata walad dalam risalah tersebut.

Hal mendasar yang digarisbawahi tokoh bernama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali itu ialah, Muslim harus memiliki iman dan amalan yang saleh serta kejernihan jiwa. Apa yang ditulisnya merupakan sebentuk kasih sayang kepada murid.

Langkah awal dalam menuntut ilmu adalah niat yang baik.

Langkah awal dalam menuntut ilmu adalah niat yang baik. Itu akan mengarahkan seseorang kepada ilmu yang bermanfaat, bukan yang sekadar memberikan pemahaman, tetapi akhirnya tidak berguna baik bagi sendiri maupun orang lain.

"Sungguh tak berguna jika ilmu yang didapat digunakan untuk kemaksiatan dan keangkuhan. Sebab, jika demikian adanya, sesungguhnya orang seperti itu adalah yang dimaksud dalam hadis, 'Orang yang berat menanggung siksa di hari kiamat ialah orang yang berilmu, tetapi tidak mendapat manfaat dari ilmunya itu.'"

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Ar-Rihlah, Narasi Perjalanan Menakjubkan Ibnu Battuta

Ibnu Battuta berkelana ke pelbagai negeri di dunia selama kira-kira 30 tahun.

SELENGKAPNYA

Simbol Kejayaan Mamluk Mesir

Masjid Sultan Hasan di Kairo, Mesir, merupakan saksi kejayaan Dinasti Mamluk pada abad ke-14.

SELENGKAPNYA