ILUSTRASI Fairuz ad-Dailamy dan Muslimin Yaman berhasil menumpas gerakan nabi palsu. | DOK WIKIPEDIA

Kisah

Fairuz ad-Dailamy, Sang Penumpas Nabi Palsu

Fairuz ad-Dailamy dan Muslimin Yaman berhasil menumpas gerakan nabi palsu.

Fairuz ad-Dailamy merupakan seorang sahabat Nabi Muhammad SAW yang berdarah Arab-Persia. Keluarganya berasal dari Bani al-Asawirah yang lama menghuni Kota Basrah.

Sebelum memeluk Islam, Abu adh-Dhahhak—demikian julukannya—termasuk dalam pasukan yang diutus Raja Kisra untuk menaklukkan Yaman.

Ketika dakwah agama tauhid sampai ke sana, ia pun turut dalam delegasi Persia untuk menemui Rasulullah SAW. Di Madinah, rombongan ini mendengar nubuat dari beliau tentang kematian raja mereka.

Setelah mengetahui bahwa ramalan Nabi SAW itu benar adanya, Fairuz ad-Dailamy menyatakan iman dan Islam. Dengan izin Rasul SAW, ia pun kembali ke Yaman untuk berdakwah.

Salah satu heroisme yang dilakukan Fairuz ad-Dailamy berkenaan dengan munculnya nabi palsu di Arab selatan. Bemula dari kondisi fisik Rasulullah SAW yang memburuk sekembalinya dari Haji Wada’. Berita tentang sakitnya beliau lalu menyebar ke seluruh Jazirah Arab.

Tiga orang tokoh yang berpengaruh menjadi murtad begitu menerima informasi tersebut. Di Yaman, seorang di antaranya adalah Aswad al-Ansy. Lelaki dari Bani Asad itu bahkan mengaku-aku sebagai nabi baru.

Bukan hanya pemuka politik, al-Ansy memiliki keahlian sebagai tukang tenung. Dalam menyebarkan pengaruh, ia mengelabui mata para korbannya dengan mempergunakan musya'widz (semacam alat sulap). Tambahan pula, nabi palsu itu mempunyai kemampuan orasi yang memikat khalayak pendengar.

Di Yaman, kaum Muslimin yang teguh beriman berada dikepalai Fairuz ad-Dailamy. Mereka menyaksikan, kekuatan pasukan al-Ansy tiap hari kian berbahaya.

Dari Sana’a, si nabi palsu menggerakkan pengikutnya untuk menyerang daerah-daerah lain. Dampaknya, hampir seluruh kawasan antara Hadhramaut hingga Thaif, dan juga antara Bahrain hingga Aden, berada di bawah kendali musuh Allah ini.

Fairuz mengirimkan utusan ke Madinah guna melaporkan perkembangan situasi. Begitu mendapatkan laporan, Rasulullah SAW mengutus 10 sahabat dengan membawa surat kepada Muslimin di Yaman. Isinya memerintahkan mereka untuk menumpas bencana yang membahayakan iman dan Islam.

Orang yang mula-mula bertindak melaksanakan perintah Nabi SAW itu adalah Fairuz ad-Dailamy.

Orang yang mula-mula bertindak melaksanakan perintah Nabi SAW itu adalah Fairuz ad-Dailamy. Ia kemudian menemui Dadzan, saudara sepupunya. Setelah itu mereka berdua menemui Qais dan menunjukkan surat Rasulullah SAW kepadanya.

Mereka juga mengajak Qais segera bertindak sebelum terlambat. Yang diajak dengan senang hati menerima. Bahkan, dirinya berjanji akan menumpas Aswad dari dalam.

Dadzan adalah putri paman Fairuz yang dikawini secara paksa oleh Aswad setelah membunuh suaminya, Syahar bin Badzan. Di kemudian hari, dia turut berperan penting dalam pembunuhan Aswad, sang nabi palsu.

Menyusun strategi

Dadzan kemudian menceritakan seluk beluk istana, ketika Fairuz mengunjunginya. Ternyata tiap ruangan di istana Aswad dipenuhi para pengawal.

Hanya satu bangunan dalam istana itu yang tidak dikawal, yakni sebuah ruangan dalam puri. Kamar tersebut tidak dikawal karena telah dikelilingi parit dan terletak agak jauh.

"Dari sini ke sana ada lapangan. Bila malam sudah mulai gelap, lubangilah dinding kamar itu. Nanti kamu akan memperoleh senjata dan lampu di dalam. Aku akan menunggumu di sana. Sesudah itu masuklah ke ruangan dalam, maka bunuhlah dia!" kata Dadzan pada Fairuz.

"Tetapi melubangi dinding tembok seperti puri ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Jika kebetulan ada orang lewat, tentu dia akan berteriak memanggil pengawal. Akibatnya akan buruk sekali..." kata Fairuz sedikit keberatan.

"Kamu benar! Tapi aku mempunyai pikiran lain yang lebih baik."

"Apa itu?"

"Besok pagi," kata Dadzan, "Kirim kepadaku seorang yang kamu percayai untuk menjadi pekerja. Aku akan menyuruhnya membuat lubang dari dalam, namun tidak sampai tembus. Tinggalkan setipis mungkin, supaya kamu dapat mencoblosnya dengan mudah malam hari."

"Cara yang baik sekali," timpal Fairuz.

Setelah itu, Fairuz pergi memberitahu rekan-rekannya tentang rencana yang telah disepakati dengan Dadzan. Mereka pun menyiapkan segala sesuatunya, bertindak dengan sangat hati-hati dan rahasia serta menetapkan kata-kata sandi. Aksi akan dilakukan esok hari di waktu fajar.

Eksekusi dijalankan

Ketika malam mulai gelap, dan waktu yang ditentukan sudah tiba, Fairuz dan kawannya pergi ke sasaran. Dinding yang dimaksud berhasil ditembus dengan mudah. Mereka kemudian masuk ke dalam gudang dan mengambil senjata yang telah disiapkan Dadzan.

Setelah itu mereka mengelilingi puri Aswad. Dadzan telah berdiri di muka pintu. Dia memberi isyarat kepada Fairuz dan kawannya.

Begitu masuk kamar, mereka mendapati Aswad tengah tidur mendengkur. Fairuz kemudian mengayunkan pedangnya ke leher Aswad yang membuatnya melenguh seperti sapi, kemudian mengelepar-gelepar.

Ketika pengawal mendengar lenguhan Aswad, mereka datang ke puri lalu bertanya pada Dadzan, "Ada apa?"

"Tidak ada apa-apa. Kembalilah kalian! 'Nabi Allah' sedang mendapat wahyu," kata Dadzan.

Para pengawal kembali tanpa kecurigaan sedikit pun. Fairuz dan kawannya tetap berada di istana hingga fajar.

Setelah terbit fajar, Fairuz naik ke sebuah pilar lalu berseru lantang, "Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad utusan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Aswad Al-Ansy sesungguhnya adalah seorang pendusta!"

Dan aku bersaksi bahwa Aswad Al-Ansy sesungguhnya adalah seorang pendusta!

Kalimat terakhir adalah sandi yang telah disepakati Fairuz dengan kawan-kawan Muslimin lainnya. Mendengar teriakan Fairuz, kaum Muslimin berhamburan ke istana dari segala penjuru. Para pengawal terkejut kebingungan. Perang tanding pun berkecamuk di pagi buta itu.

Fairuz kemudian bergegas kembali ke puri dan mengambil kepala Aswad yang telah lepas dari tubuhnya. Begitu kembali ke tengah pertempuran, ia langsung melempar kepala itu ke arah para pengawal istana.

Melihat kepala Aswad menggelinding di hadapan mereka, nyali prajurit istana langsung ciut. Sebaliknya kaum Muslimin kian bersemangat menyerbu dan menyerang musuh-musuh Allah. Pertempuran pun usai, dengan kemenangan di pihak Muslimin.

Begitu matahari mulai menebar kehangatan cahayanya, Fairuz menulis surat kepada Rasulullah SAW. Isinya menyampaikan kabar gembira bahwa musuh-musuh Allah telah ditumpas habis.

Sayangnya, ketika sampai di Madinah, utusan dari Muslimin Yaman ini mendapati bahwa Nabi SAW telah berpulang ke Rahmatullah. Bagaimanapun, beliau sesungguhnya telah mendapatkan nubuat perihal kemenangan ini.

Sebelum ajal menjemputnya, Rasulullah SAW sempat bersabda kepada para sahabat, "Aswad Al-Ansy telah meninggal dunia tadi malam, dibunuh oleh orang yang penuh berkah dan berasal dari rumah tangga yang diberkahi."

Aswad Al-Ansy telah meninggal dunia tadi malam, dibunuh oleh orang yang penuh berkah dan berasal dari rumah tangga yang diberkahi.

"Siapa orang itu, wahai Rasulullah?" tanya para sahabat.

Beliau menjawab, "Fairuz... Fairuz menang!"

Kisah Dua Istri Abu Darda

Abu Darda memiliki dua istri, al-Kubra dan ash-Shugra, yang masing-masing bersifat salehah dan penyabar.

SELENGKAPNYA

Sifat Warak Sahabat Nabi, Abu Dujanah

Abu Dujanah khawatir bila anaknya memakan buah kurma yang bukan haknya.

SELENGKAPNYA

Abdurrahman bin Abu Bakar, Mujahid Hingga Ujung Usia

Putra Abu Bakar ash-Shiddiq ini semula memusuhi Islam, baik di kancah Badar hingga Uhud.

SELENGKAPNYA

Ikuti Berita Republika Lainnya