ILUSTRASI Menghadapi kecemburuan istrinya, Rasulullah SAW adakalanya memilih diam. | Dok pxhere

Kisah

Kecemburuan Istri dan Diamnya Rasulullah

Adakalanya, Rasulullah SAW memilih sikap diam saat menghadapi kecemburuan istrinya.

Dalam ajaran Islam, cemburu dipandang sebagai sesuatu yang penting. Tidak ada sanksi atas seseorang yang cemburu terhadap pasangan halalnya. Bahkan, istri-istri Nabi Muhammad SAW pun sesekali menampakkan perasaan tersebut.

Pernah suatu hari, seorang ummul mu'minin memecahkan piring hantaran yang dibawakan madunya kepada Rasulullah SAW. Alih-alih marah, beliau shalallahu ‘alaihi wasallam hanya tersenyum dan mengumpulkan pecahan piring itu.

Kepada para tamunya, al-Musthafa berujar, “Ibu kalian sedang cemburu.” Lantas, dibawakannya sebuah piring baru sebagai ganti dari barang yang dipecahkan istrinya tadi.

Kisah lain juga berkaitan dengan kecemburuan dua istri beliau shalallahu ‘alaihi wasallam yang berumur sebaya: ‘Aisyah dan Hafshah. Tibalah saatnya mereka mengetahui kabar tentang kelahiran Ibrahim, buah cinta Rasulullah SAW dengan Mariyah al-Qibthiyyah.

Saat sang bayi tiba di kediamannya, ‘Aisyah dengan nada cemburu mengatakan kepada Nabi SAW, wajah Ibrahim tidak menyerupai beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. Mendengar hal itu, Rasul SAW sempat menunjukkan wajah tidak suka.

Perasaan cemburu yang berlebihan juga ditunjukkan Hafshah. Putri Umar bin Khaththab itu pun merasa tersaingi oleh hadirnya Mariyah. Apalagi, wanita asal Mesir itu telah melahirkan seorang anak laki-laki, putra Rasul SAW.

 
Dalam menghadapi sikap keduanya yang diwarnai cemburu hebat ini, Rasulullah SAW memilih bersikap lemah-lembut.
 
 

Dalam menghadapi sikap keduanya yang diwarnai cemburu hebat ini, Rasulullah SAW memilih bersikap lemah-lembut. Bagaimanapun, beliau sebagai pemimpin umat tidak punya waktu untuk melayani perangai cemburu yang ekstrem.

Demikian pula, beliau shalallahu ‘alaihi wasallam tak mau membiarkan diri dipermainkan istri. Keduanya dinilai harus mendapat pelajaran, yakni dengan sikap yang tegas. Akhirnya, selama sebulan penuh Nabi SAW mendiamkan keduanya.

Dalam rentang waktu itu, Rasulullah SAW memusatkan perhatian pada upaya-upaya dakwah dan penyebaran Islam di Jazirah Arab. Pada saat demikian, Abu Bakar dan Umar sebagai para mertua Nabi SAW merasa gelisah sekali.

Mereka khawatir, Rasulullah SAW tidak hanya akan menceraikan masing-masing putri mereka. Bukan tak mungkin perangai ‘Aisyah dan Hafshah yang menyulitkan Nabi SAW akan menyebabkan kemurkaan Allah SWT.

Maka, kini keduanya menyesal. Mereka merasa khilaf lantaran telah terdorong rasa cemburu yang berlebihan sampai-sampai melukai hati sang suami yang tadinya sangat lemah-lembut itu.

Kini, Rasulullah SAW menjauhi mereka. Lebih memilih menghabiskan sebagian waktu dalam sebuah bilik, alih-alih rumah keduanya.

Selama beliau shalallahu ‘alaihi wasallam tinggal dalam bilik itu, ada pelayannya yang bernama Rabah. Dia selalu menunggu di ambang pintu, menjaga agar tidak ada orang yang masuk kecuali atas izin Rasulullah SAW. Desas-desus bahwa Nabi SAW akan menceraikan istri-istrinya itu mencuat.

Alhasil, rasa cemas pun kian menggelayuti pikiran Abu Bakar dan Umar.

Suatu hari, Umar begitu ingin bertemu dengan Nabi SAW. Dipanggilnya Rabah agar memintakan izin baginya untuk bisa menemui Rasulullah SAW.

Namun, Rabah tidak berkata apa-apa. Artinya, Nabi SAW belum mengizinkan. Sekali lagi, Umar mengulangi permintaannya. Namun, Rabah tetap tidak memberikan jawaban. Demikian seterusnya hingga sahabat bergelar al-Faruq itu meminta sebanyak tiga kali.

Ketika Umar hendak beranjak pergi, Nabi SAW memberikan isyarat kepada Rabah agar mengizinkan sahabatnya itu masuk. Umar pun gembira. Setelah mengucapkan salam, dia memasuki bilik kecil itu.

Ketika Umar sudah duduk dan membuang pandang ke sekeliling tempat itu, ia tiba-tiba menangis. “Apa yang membuatmu menangis, ya Ibnul Khathab?” tanya Rasulullah SAW dengan nada lembut.

Umar mengatakan, dirinya menangis setelah menyaksikan tikar tempat Nabi SAW berbaring begitu kasar, sampai-sampai meninggalkan bekas pada punggung dan dada beliau shalallahu ‘alaihi wasallam yang mulia. Selain itu, di dalam bilik sempit tersebut nyaris tak ada apa-apa kecuali segenggam gandum, kacang-kacangan, dan alas kusam.

Setelah itu, Nabi SAW menasihatinya. Segala yang dilihatnya itu adalah perkara duniawi. Urusan dunia adalah sementara. Umar pun kembali tenang.

“Wahai Rasulullah,” kata Umar,

“Apakah yang menyebabkan engkau tersinggung adalah karena para istri itu? Kalau mereka itu engkau ceraikan, niscaya Allah mendukung engkau. Demikian juga para malaikat, Jibril dan Mikail, juga saya, Abu Bakar, dan semua orang-orang beriman. Mereka berada di pihakmu.”

Umar terus berbicara. Nabi SAW mendengarnya dan kemudian tersenyum. Rasulullah SAW menyatakan kepadanya, beliau tidak akan menceraikan mereka.

Mendengar itu, Umar merasa gembira. Dia pun meminta izin kepada Nabi SAW untuk mengumumkan hal ini kepada orang-orang yang masih menunggu di luar masjid.

Cemburunya Istri Nabi dan Asbabun Nuzul at-Tahrim

Rasa cemburu dari istri Nabi SAW menjadi asbabun nuzul ayat berikut.

SELENGKAPNYA

Azab Allah pada Kaum Aylah

Sebagian besar kaum Aylah melanggar ketentuan Allah SWT.

SELENGKAPNYA

Jaringan Yahudi di Indonesia

Konon, warga Yahudi sudah sejak kolonial Belanda banyak berdiam di Indonesia.

SELENGKAPNYA