ILUSTRASI Rasulullah SAW memberikan teladan tentang cara menghadapi perasaan cemburu yang ditunjukkan pasangan. | Dok pxhere

Kisah

Cemburunya Istri Nabi dan Asbabun Nuzul at-Tahrim

Rasa cemburu dari istri Nabi SAW menjadi asbabun nuzul ayat berikut.

Cemburu adalah sebuah gejolak batin yang diungkapkan seseorang kepada pasangannya. Kadang kala, adanya rasa cemburu menjadi “bumbu” dalam kehidupan berumah tangga. Bahkan, kehilangan perasaan tersebut akan membuat hubungan antara suami dan istri lebih dingin atau kurang hangat.

Dalam hayat Nabi Muhammad SAW pun terdapat perasaan cemburu yang diungkapkan istri-istri beliau. Malahan, Rasulullah SAW pernah menjadi “korban” kecemburuan sebagian dari mereka. Simaklah kisah berikut.

Pada suatu hari, Nabi SAW mendatangi rumah salah seorang istrinya, Zainab binti Jahsy. Pernikahan beliau dengan perempuan tersebut merupakan ketentuan langsung dari Allah SWT, yakni dengan turunnya surah al-Ahzab ayat 37.

Melihat kedatangan sang suami, Zainab pun amat bersuka cita. Di rumahnya, laki-laki yang mulia itu singgah dalam waktu yang cukup lama. Al-Musthafa juga menikmati madu yang dihidangkan istrinya tersebut.

 
Di rumah Zainab, Rasulullah SAW singgah dalam waktu yang cukup lama. Al-Musthafa juga menikmati madu yang dihidangkan Zainab.
 
 

Sementara itu, istri beliau yang lain—‘Aisyah RA—mendapati kabar tersebut. Rupanya, putri Abu Bakar ash-Shiddiq itu merasa amat cemburu lantaran Zainab dapat menyuguhkan madu. Sajian itu merupakan salah satu makanan favorit Nabi SAW.

‘Aisyah merasa tersaingi. Ia kemudian menemui Hafshah, seorang istri Rasulullah SAW yang lain. Keduanya memang berusia sebaya. Lagipula, jarak antara kediaman ‘Aisyah dan putri Umar bin Khattab itu cukup dekat.

‘Aisyah dan Hafshah lantas bersepakat. Apabila sang suami menemui salah seorang dari mereka berdua, maka hendaklah dikatakan, beliau telah meminum madu, tetapi yang berkualitas tidak baik. Sebab, lebahnya telah mengonsumsi getah pohon maghafir yang terkenal memiliki bau tak sedap.

Demikianlah. Setelah kesepakatan diambil, ‘Aisyah kembali ke rumahnya. Beberapa saat kemudian, Rasulullah SAW mengetuk pintu.

Istri beliau itu pun menyambutnya dengan ramah. Namun, saat beliau berkata-kata, ‘Aisyah memberikan isyarat dengan tangannya, seperti mencium bau tak sedap.

“Aku hanya memakan madu di rumah Zainab,” kata Rasulullah SAW.

“Barangkali lebahnya mengisap getah pohon 'urfut, yang getahnya menghasilkan maghafir. Karena itulah, baunya terasa di madu yang engkau minum,” ujar ‘Aisyah.

Selang beberapa lama, beliau mendatangi rumah Hafshah. Percakapan serupa pun terjadi.

Pada akhirnya, Rasulullah SAW berkata, “Aku hanya minum madu di rumah Zainab binti Jahsy, dan aku tidak akan meminumnya lagi.”

Seketika, turunlah permulaan surah at-Tahrim. Nama surah itu berarti “mengharamkan". Secara harfiah, penamaan itu mengingatkan Nabi SAW agar jangan “keceplosan” mengharamkan apa-apa yang tidak diharamkan oleh Allah SWT.

Demikianlah, firman Allah SWT dalam surah itu merupakan suatu teguran. Terjemahan ayat 1-2 surah tersebut berbunyi: “Hai Nabi, mengapa kamu mengharamkan apa yang Allah menghalalkannya bagimu; kamu mencari kesenangan hati istri-istrimu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kamu sekalian membebaskan diri dari sumpahmu; dan Allah adalah Pelindungmu dan Dia Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Adapun riwayat lainnya menuturkan, asbabun nuzul surah at-Tahrim berkaitan dengan suatu peristiwa yang juga dipicu kecemburuan berlebihan dari istri-istri Nabi SAW.

Kali ini, sasaran cemburu itu ialah Mariyah al-Qibthiyyah. Perempuan tersebut awalnya merupakan seorang budak yang dikirimkan penguasa Mesir sebagai hadiah kepada Rasulullah SAW.

Dari Mariyah, beliau memiliki seorang anak bernama Ibrahim—meskipun kelak sang buah hati ini wafat saat masih berusia kanak-kanak. Sementara, ‘Aisyah tak dikaruniai anak. Melihat Mariyah, kecemburuan pun terbit dari dalam dirinya. Hafshah pun mencemburui Mariyah.

Peristiwa bermula ketika Rasulullah SAW berduaan dengan Mariyah di kediaman Hafshah. Saat itu, sang putri Umar bin Khaththab tersebut sedang berada di luar. Ketika Hafshah tiba di rumahnya, dirinya mendapati sang suami masih bersama dengan Mariyah.

Rasa cemburu pun membuncah di dalam dadanya. “Ya Rasulullah, engkau lakukan hal itu di rumahku, di atas tempat tidurku, dan pada hari giliranku,” kata Hafshah dengan nada kesal.

Rasulullah SAW segera meredakan amarah Hafshah. Dengan maksud hendak menyenangkan perasaan Hafshah, Nabi SAW menyatakan, sejak saat itu Mariyah haram bagi beliau. Beliau juga berpesan kepada Hafshah agar tidak menceritakan kejadian ini kepada siapapun.

Namun, siapa sangka Hafshah ternyata tidak memerhatikan pesan Rasulullah SAW? Rasa cemburu begitu berkecamuk di dalam hatinya.

Perempuan itu pun tidak sanggup lagi menyimpan perasaannya. Dan Hafshah menceritakan kejadian itu kepada ‘Aisyah. Keduanya memang sejak awal menyimpan rasa cemburu terhadap kehadiran perempuan asal Mesir tersebut.

Bagaimanapun, siapakah yang mampu bersembunyi dari penglihatan Allah SWT?

Mengenai dua peristiwa itu—madu dan pesan Nabi untuk Hafshah—maka Allah menurunkan wahyu-Nya kepada Nabi SAW. Ayat-ayat itu turun sebagai teguran agar Rasulullah SAW tidak mengharamkan segala yang Allah halalkan semata-mata untuk mencari keridaan istri-istri.

Ayat berikut ini secara gamblang pula menegur kedua istri Rasulullah SAW itu—Hafshah dan ‘Aisyah—agar segera bertobat.

Arti ayat ketiga dan keempat surah at-Tahrim itu: “Dan ingatlah ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya (Hafshah) suatu peristiwa. Maka tatkala (Hafshah) menceritakan peristiwa itu (kepada ‘Aisyah) dan Allah memberitahukan hal itu (semua pembicaraan antara Hafshah dan ‘Aisyah) kepada Muhammad lalu Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafshah).

Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafshah dan ‘Aisyah) lalu (Hafshah) bertanya: ‘Siapakah yang telah memberitahukan hal ini kepadamu?’ Nabi menjawab, ‘Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.

Jika kamu berdua bertobat kepada Allah, maka sesungguhnya hati kamu berdua telah condong (untuk menerima kebaikan); dan jika kamu berdua bantu membantu menyusahkan Nabi, maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya dan (begitu pula) Jibril dan orang-orang mukmin yang baik; dan selain dari itu malaikat-malaikat adalah penolongnya pula.”

Azab Allah pada Kaum Aylah

Sebagian besar kaum Aylah melanggar ketentuan Allah SWT.

SELENGKAPNYA

AMKI: Aktivitas Masjid Kampus Tetap Berjalan

Program di masjid kampus tetap berjalan hanya saja dalam bentuk daring.

SELENGKAPNYA

Jaringan Yahudi di Indonesia

Konon, warga Yahudi sudah sejak kolonial Belanda banyak berdiam di Indonesia.

SELENGKAPNYA