Alwi Shahab | Daan Yahya/Republika

Nostalgia

Pasang Hwa Hwee, Minta Kode dari Orang Gila

Saat warga lokal ikut-ikutan berjudi.

OLEH ALWI SHAHAB

Dari 11 orang yang pernah menjabat gubernur DKI, hanya Ali Sadikin (1966-1977) yang berhasil melokalisasi perjudian. Tempatnya tidak di Kepulauan Seribu, seperti usul Bang Yos (Sutiyoso), Bang Ali (panggilan akrab Ali Sadikin, Red), membuka dua buah kasino dalam kota. Satu tempat di Jl Thamrin, Jakarta Pusat, atau tepatnya di belakang Bioskop Jakarta Theater, di samping Sarinah. Sedang satunya lagi di Copacabana, Ancol, Jakarta Utara.

Walikotapraja Jakarta Sudiro (1953-1960) pernah ingin membuka kasino di Pulau Edam, kepulauan Seribu. Tapi ditentang keras parpol-parpol Islam. Sejak semula, Ali Sadikin ingin agar lokalisasi judi hanya diperuntukkan orang Cina. "Karena judi budaya Cina," katanya.

"Kalau ada umat Islam berjudi, orang itu bobrok ke-Islam-annya. Saya orang Islam tidak pernah berjudi," tegasnya waktu itu.

Untuk mewujudkan niatnya, Bang Ali mengadakan tender di antara para cukong Cina untuk memilih bandar judi.

Tender ini dimenangkan Apyang Jinggo. Gelar di belakang namanya karena pria itu selalu merokok kretek 'Minakjinggo'. Konon, ketika Apyang diharuskan membayar terlebih dulu Rp 100 juta, ia pun memberikan cek sebesar itu pada Pemda DKI.

Sambil meminta, agar jangan diuangkan lebih dahulu, tapi tunggu beberapa hari. Hanya dalam waktu 5 hari cek 'kosong' itu sudah bisa diambil Pemda. Ini tidak aneh karena hanya dalam beberapa hari setelah kedua kasino dibuka, Apyang telah mendapatkan keuntungan besar.

Menurut beberapa orang yang mengenalnya, sampai 1960'an Apyang yang kini menetap di Singapura, termasuk orang tidak berpunya. Sehari-hari ia hanya berkendaraan sepeda.

 
Mengenai istilah judi sebagai budaya dari Cina, sejak awal berdirinya VOC, orang Belanda terheran-heran akan sifat keberanian mereka dalam berjudi.
 
 

Mengenai istilah judi sebagai budaya dari Cina, sejak awal berdirinya VOC, orang Belanda terheran-heran akan sifat keberanian mereka dalam berjudi, ketagihan mereka akan arak, serta kelebihannya dalam urusan seks.

Dalam buku Oei Hong Kiam Dokter Gigi Soekarno, ketika menceritakan leluhurnya di abad ke-19 yang hidup di Magelang, dikatakan, di kota kecil ini para pria setelah bekerja keras, menghabiskan malam dengan berjudi atau pergi ke tempat pelacuran.

Saat itu berjudi merupakan pembunuh waktu yang sangat disukai anak-anak muda. Banyak pula wanita yang mengikuti kebiasaan suaminya berjudi. Seorang encim ketika suaminya mengeluh karena kebiasaannya berjudi tanpa kenal waktu, malah memberi hadiah seorang gundik supaya bisa menyalurkan hobinya tanpa gangguan sang suami.

Waktu Nyoo Cheong Seng mengawinkan anaknya pada 3 Oktober 1948, dalam reportasenya majalah Tjantik melaporkan, "Tiap pesta kawin di Betawi artinja jadi pesta joedi. Kebanyakan njonja Betawi segala golongan, kacoeali golongan siocia dan hoedjin intelect dalem otaknja senantiasa ada mempoenjai program joedi."

Ketika Bang Ali melegalkan kasino dan Hwa Hwee, apa yang dimaksudkannya ternyata tidak kesampean. Karena pribumi ikut-ikutan berjudi. Banyak warga minta kode nomor dengan mendatangi dukun, topekong, orang pintar, para normal, kuburan, dan entah apa lagi namanya marak di mana-mana. Bahkan banyak yang mengejar-ngejar orang gila. Pernah seorang gila tengah nongkrong di tengah jalan dengan rambut awut-awutan.

 
Ketika Bang Ali melegalkan kasino dan Hwa Hwee, apa yang dimaksudkannya ternyata tidak kesampean. Karena pribumi ikut-ikutan berjudi.
 
 

Oleh mereka yang gila hwa hwee ditanya sedang ngapaian. "Mencari kodok," jawaban secara ngaco-ngacoan ini rupanya ditanggapi serius. Malamnya banyak yang memasang kodok.

Hwa hwee terdiri dari 36 nomor, terdiri atas nama binatang. Seperti anjing, kucing, kuda, babi, dan kelenci. Pernah seorang ibu karena pagi-pagi ada yang melihat rambutnya basah, oleh orang yang gila hwa hwee itu diartikan nanti malam akan keluar udang, nomor 31. Udang dalam istilah kode hwa hwee diartikan 'alat vital' pria.

Waktu itu demam hwee hwee melanda hampir seluruh tempat di Ibukota. Ada yang sanggup nongkrong berjam-jam untuk mencari dan mengutak ngatik kode nomor. Dikabarkan banyak pasangan berantakan gara-gara hwa hwee karena hartanya ludes. Judi memang dilarang agama, mudharatnya jauh lebih besar katimbang manfaatnya.

Disadur dari Harian Republika edisi 17 April 2022. Alwi Shahab adalah wartawan Republika sepanjang zaman. beliau wafat pada 2020.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Belajar di Tanah Suci ala Santri

Selama di Tanah Suci, para santri Taruna Alquran mempraktikan kemahiran berbahasa Arab.

SELENGKAPNYA

Cukup 15 Menit, Hidup Makin Happy

Menulis buku harian berisi rasa syukur dapat membantu meningkatkan optimisme,

SELENGKAPNYA

Gen Z Cina yang tak Lagi Percaya Pemerintah

Generasi Z adalah yang paling pesimistis dari semua kelompok umur di Cina.

SELENGKAPNYA