Sejumlah anak mengikuti lomba menggambar tingkat Sekolah Dasar (SD) bertajuk Aku Anak Jujur saat peringatan Hari Antikorupsi Sedunia (Hakordia) 2022 yang digelar KPK di Plaza Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (5/12/2022) | Edi Yusuf/Republika

Opini

Jangan Menukar Mimpi Anak-Anak

Saat anak keluarga kaya memiliki guru yang peduli, anak miskin menghadapi guru yang absen dari kelas.

ANGGI AFRIANSYAH, Peneliti Sosiologi Pendidikan di Pusat Riset Kependudukan BRIN

Anak-anak besar dengan memperhatikan orang dewasa di sekitarnya. Dalam sosiologi, itu disebut proses sosialisasi di mana anak-anak belajar di rumah, sekolah, dan masyarakat.

Berger mendefinisikan sosialisasi sebagai proses di mana anak belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat (Sunarto, 2000). Di setiap daerah, proses sosialisasi anak untuk menjadi bagian dari masyarakat sangat beragam.

Di daerah minim akses teknologi informasi dan komunikasi, prosesnya berlangsung di keluarga, sekolah, dan masyarakat. Bagi daerah dengan akses memadai, prosesnya sangat dipengaruhi jaringan televisi, radio, maupun internet.

Mereka mengamati, meniru, memodifikasi, dan menerapkan apa yang dilihatnya. Proses ini bagian dari pembelajaran kehidupan yang kadang luput diperhatikan.

 
Di daerah minim akses teknologi informasi dan komunikasi, prosesnya berlangsung di keluarga, sekolah, dan masyarakat.
 
 

Dalam konteks ini, sering terjadi ketimpangan. Anak-anak miskin berharap sepenuhnya pada pendidikan di sekolah. Anak keluarga yang lebih mampu, punya ruang belajar lebih banyak di rumah, keluarga, kursus, dan di internet.

Agar tumbuh percaya diri, anak-anak dari keluarga mampu mendapatkan pelatihan memadai. Mereka diajak menjadi sosok pemberani. Di sekolah, anak-anak ini dibiasakan berbicara di depan teman-temannya.

Untuk melatih kepercayaan diri, guru-guru memberi tugas. Anak-anak tersebut melakukan presentasi setiap tugas yang diberikan. Bahkan di sekolah-sekolah swasta elite, sejak kecil anak-anak sudah diminta presentasi hal-hal sederhana.

Perlahan kapasitas anak bertumbuh, juga rasa percaya diri mereka. Di dunia kerja, mereka melejit. Hal berseberangan terjadi di dunia kecil anak-anak miskin. Di rumah, orang tua sibuk mencari penghidupan untuk menunjang kehidupan.

 
Perlahan kapasitas anak bertumbuh, juga rasa percaya diri mereka.
 
 

Tidak ada visi tentang pendidikan karena mereka tak paham pendidikan seperti apa yang dibutuhkan anak-anak. Orang tua ini memiliki keterbatasan apalagi kalau buta huruf, miskin, dan tak memiliki ruang penghidupan layak.

Anak-anak ini sepenuhnya berharap pada pendidikan di sekolah. Mereka beruntung jika bertemu guru berdedikasi dan membangkitkan visi untuk maju tetapi seringnya tidak.  

Dalam beberapa kasus, anak-anak miskin berhasil keluar dari jeratan kemiskinan ketika mendapatkan perhatian memadai dari orang dewasa peduli di sekitar mereka. Kapasitas mereka melejit ketika bertemu guru baik hati dan mendampingi mereka meraih mimpi.

Mimpi tak tergapai

Untuk sebagian besar masyarakat Indonesia yang terjerat kemiskinan, pendidikan sering tak tergapai. Mereka harus melalui jalan pendidikan yang terjal, menghadapi kebijakan yang belum berpihak pada mereka.

 
Kapasitas mereka melejit ketika bertemu guru baik hati dan mendampingi mereka meraih mimpi.
 
 

Saat anak keluarga kaya memiliki guru yang peduli, anak miskin menghadapi guru yang absen dari kelas. Di rumah, mereka tak mendapatkan pendampingan pendidikan dari keluarga. Di sekolah, mereka tak memperoleh pembelajaran yang memadai.

Pergaulan di masyarakat pun biasanya penuh tantangan. Ada juga situasi, anak-anak itu terjerat minuman keras, narkoba, seks bebas, dan tindakan yang cenderung destruktif. Seleksi alam berlangsung, banyak yang berguguran sebelum menyelesaikan garis finis pendidikan.

Pilihan pekerjaan yang diraih terbatas. Mereka tak dapat mengandalkan ijazah. Cobalah tengok situs pencari kerja, kualifikasi minimal lulusan SMA/SMK. Ada juga kualifikasi seperti penguasaan teknologi informasi dan komunikasi serta bahasa. Akhirnya, mereka masuk sektor informal.

Bekerja apa saja untuk memperbaiki nasib. Sialnya, sering kali mereka terjebak rentenir atau saat ini pinjaman online (pinjol). Sudah tidak berpendidikan, tak memiliki kerja layak, kemudian berutang. Lalu, mereka terjebak kemiskinan.

 
Bekerja apa saja untuk memperbaiki nasib. Sialnya, sering kali mereka terjebak rentenir atau saat ini pinjaman online (pinjol).
 
 

Dalam perspektif struktural-fungsional sekolah memiliki banyak tugas penting. Salah satunya mendorong sosialisasi di kalangan anak muda, mempersatukan keragaman masyarakat, dan mengajarkan norma dan nilai tertentu dalam masyarakat (Macionis, 2010).

Namun dalam konteks tertentu, perspektif sosial-konflik tampaknya sekolah justru mempertahankan ketidaksetaraan sosial yang ada di masyarakat (Macionis, 2010).Sebab justru anak-anak dari keluarga kaya mendapatkan kesempatan lebih baik di sekolah.

Melalui pendidikan mumpuni di sekolah, mereka mendapatkan lebih banyak peluang. Secara kultural, mereka memperoleh didikan memadai di rumah dan jaringan pertemanan. Relasi di sekolah ini bahkan terjalin hingga mereka sudah bekerja atau memulai usaha di masa depan.

Melaui pendidikan, mimpi dan harapan ditumbuhkan. Jangan sampai menukar mimpi anak-anak Indonesia hanya karena mereka tak dapat mengakses pendidikan berkualitas.

 

Magis Maroko dan Pan Arabisme

Bolehlah kita bersepakat bahwa apa yang Maroko capai ini menjadi salah satu episode gerakan 'Pan Arabisme' yang melegenda itu.

SELENGKAPNYA

Tobat, Lansia Mengaku Imam Mahdi dan Ratu Adil Bersyahadat

Keduanya hanya menunaikan shalat dua kali sehari pukul 05.00 WIB dan pukul 17.00 WIB.

SELENGKAPNYA

Restu Orang Tua di Balik Sukses Singa Atlas

Bagi beberapa orang, seperti ibu Regragui, Fatima, perjalanan itu merupakan kesempatan sekali seumur hidup.

SELENGKAPNYA