Presiden Indonesia Joko Widodo saat berbicara pada konferensi pers ajang G20 di Nusa Dua, Bali. | AP/Ajeng Dinar Ulfiana/POOL Reuters

Halaman 5

Ekonomi, Tantangan Terbesar Indonesia 2023

Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam akan menjadi yang terbaik di kawasan pada tahun ini. 

OLEH LINTAR SATRIA 

Indonesia menyelesaikan tugasnya sebagai presidensi pertemuan 20 perekonomian terbesar di dunia atau G-20 tahun ini. Tahun depan, Indonesia mendapat giliran sebagai ketua Asosiasi Negara-Negara Asia Tenggara (ASEAN). 

Posisi Indonesia sebagai ketua ASEAN akan dibayangi resesi, gejolak geopolitik akibat perang Rusia di Ukraina, ketegangan di Selat Taiwan dan Semenanjung Korea, serta pemulihan pandemi tidak secerah yang diperkirakan. Tahun 2023 akan membuktikan kemampuan Indonesia berlayar di antara berbagai tantangan. 

Pada kuartal ketiga Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia tumbuh 5,72 persen, lebih tinggi dari kuartal sebelumnya, 5,44 persen. Pertumbuhan ini diikuti naiknya indeks kepercayaan konsumen Oktober 120.30 poin, lebih tinggi dari September yang 117.20 poin. 

Namun, rupiah belum menunjukkan tanda-tanda positif dan masih cenderung datar. Pada awal November ekonom senior dari Capital Economics, Gareth Leather, juga mengatakan kemungkinan pertumbuhan Juli sampai September 2022 menjadi yang terbaik yang bisa Indonesia capai. 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by G20 India (@g20org)

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia cepat di kuartal ketiga, tapi tampaknya ini yang paling bagus yang bisa didapat, kami memperkirakan turunnya harga komoditas, kebijakan moneter yang lebih ketat, dan naiknya inflasi menyeret pertumbuhan pada kuartal selanjutnya," kata Leather yang dikutip dari CNBC. 

Ia mengatakan, ekspor tampaknya masih kesulitan dalam menghadapi jatuhnya harga komoditas di tengah perlambatan pertumbuhan global. Saat ini, Indonesia yang merupakan eksportir komoditas besar mendapat manfaat dari kesenjangan rantai pasokan yang disebabkan perang di Ukraina. 

Namun, outlook atau prediksi pertumbuhan ekonomi lembaga keuangan Goldman Sachs yang dirilis pada 17 November lalu berpendapat berbeda. Laporan itu menyebutkan, Asia Tenggara dapat menikmati posisi geopolitiknya yang istimewa pada 2023. 

Oxford Economics yang memprediksi perekonomian enam negara Asia Tenggara (ASEAN), yakin Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam akan menjadi yang terbaik di kawasan pada tahun ini. PDB negara-negara itu rata-rata 5,9 persen. 

"Mencabut peraturan Covid-19 dalam negeri dan membuka kembali perjalanan lintas perbatasan telah menyuntikkan kekuatan lebih lanjut pada sektor jasa," kata ekonom wilayah Asia di Oxford Economics, Sian Fenner.

Baru Komitmen

Pengajar Hubungan Internasional Universitas Indonesia Raisa Maisa mengatakan, keberhasilan menyelenggarakan forum G-20 tidak memberikan jaminan Indonesia dapat mengarungi tahun depan dengan mulus. 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by ASEAN (@asean)

"Dalam penyelenggaraan sukses, Indonesia secara keseluruhan berhasil menempatkan diri sebagai negara yang sukses menyelenggarakan pertemuan G-20. Tapi agak tidak fokus," ujar Maisa kepada Republika, beberapa waktu yang lalu. 

Menurut Raisa, fokusnya G-20 itu finansial. Itu yang harus diperhatikan, ekonomi digital, perbankan, finansial, itu yang seharusnya menjadi fokus.

Di G-20 lalu, Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden berjanji membantu Indonesia untuk mengurangi ketergantungannya pada batu bara dengan dana sebesar 20 miliar dolar AS. Maisa mengatakan, Indonesia harus mencari tahu apa yang selanjutnya perlu dilakukan.

"Itu masih komitmen, belum MoU (memorandum of understanding) belum, apalagi perjanjian. Yang harus dipertanyakan adalah transformasi, sementara sumber ekonomi Indonesia masih batu bara. Ingin mengganti batu bara dengan apa? Itu salah satu kompenen pendapatan Indonesia, itu diganti dalam bentuk apa, apakah dana, apa teknologi, kita belum tahu, kalau dilihat dari sisi Amerika itu konsistensi dengan kebijakan luar negeri Biden sejak kampanye untuk mengembalikan posisi AS ke panggung dunia," kata Maisa.  

Di G-20 untuk pertama kalinya Biden sebagai presiden AS dapat bertemu dengan Presiden Cina Xi Jinping. Menurut Maisa, hal itu bukan sesuatu yang sangat istimewa sebab pada satu titik Biden dan Xi Jinping pasti bertemu karena dua perekonomian terbesar di dunia saling membutuhkan satu sama lain. “Kebetulan bertemunya di Bali," ujar Maisa.

Sementara itu, di ASEAN, menurut Maisa, akan terjadi apa yang ia sebut sebagai pertemuan yang akan membuat tensi di kawasan makin memanas. 

Maisa mengatakan, resesi yang terjadi di ASEAN dan Indonesia tahun depan akan berdampak pada industri yang saat ini sedang didorong pemerintah, terutama perusahaan rintisan. Sebab, tidak pernah ada pengukuran yang tepat bagaimana perusahaan rintisan dapat berkembang seperti apakah inovatif produksinya atau seperti apa penetrasi produk ke masyarakat.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by SAI20 (@sai20org)

 

Indonesia tak Main-Main

Bali menjadi saksi suksesnya keketuaan Indonesia di G-20 tahun ini. Indonesia berhasil mendatangkan 17 pemimpin negara dalam KTT yang digelar pada 15-16 November lalu. Dalam presidensinya, Indonesia dinilai menjalankan fungsi ganda, yakni antara diplomasi ekonomi dan perdamaian.  

Sejak G-20 dibentuk pada 1999, Indonesia baru pertama kali memegang kursi keketuaan. Meski perdana, tanggung jawab besar sudah mesti dipikul Indonesia. Saat perekonomian dunia belum pulih akibat pandemi Covid-19, krisis baru yang ditimbulkan akibat konflik Rusia-Ukraina tak dapat dihindarkan. Dalam isu konflik tersebut, Indonesia sebagai pengemban ketua G-20 2022 dituntut memiliki sikap yang bebas intervensi dan tekanan. 

Rusia merupakan salah satu anggota G-20. Ukraina, meski bukan anggota G-20, memperoleh dukungan Barat, termasuk dari Amerika Serikat (AS), Inggris, Kanada, dan Uni Eropa. Perpecahan itu dicoba disiasati Indonesia 

“Pekerjaan berat itu,” kata pengamat hubungan internasional dari Universitas Padjadjaran Teuku Rezasyah kepada Republika tentang presidensi Indonesia di G-20. 

Ia turut menyoroti upaya Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang berani menyambangi Rusia dan Ukraina untuk bertemu langsung Presiden Vladimir Putin serta Presiden Volodymyr Zelensky pada Juni lalu. Kunjungan itu dilakukan di tengah seruan Barat untuk mengucilkan Rusia. 

Menurut Teuku, lewat kunjungannya, Jokowi menunjukkan kepada Putin dan Zelenskyy bahwa Indonesia tidak main-main. 

Pengamat hubungan internasional dari Universitas Indonesia Suzie Sudarman turut memuji kinerja presidensi G-20 Indonesia. “Kinerjanya baik sekali. Pak Jokowi juga berusaha berdiplomasi secara baik,” katanya kepada Republika.

Menurut Suzie, Indonesia membuat sejarah lewat presidensinya di G-20. Sebab, di bawah Indonesia, G-20 tidak hanya berusaha mengatasi permasalahan atau isu ekonomi, tapi juga diharapkan menjadi pelerai konflik. 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by APEC Secretariat (@apec)

“Padahal, sebenarnya itu (pelerai konflik) bukan tujuan G-20. Tujuan G-20 bukan menciptakan perdamaian, tapi menciptakan makroekonomi yang sehat,” ujar Suzie.

Dia pun menyinggung tentang bagaimana G-20 Bali Leaders Declaration diadopsi penuh pada deklarasi KTT Asia-Pasific Economic Cooperation (APEC) yang digelar di Bangkok, Thailand, 18-19 November lalu. 

“Kita akan tercatat dalam sejarah bahwa sebuah deklarasi G-20, walaupun itu bukan komunike akhir, diadopsi oleh APEC. Ini sejarah; menunjukkan bagaimana karya-karya diplomat Indonesia bermanfaat bagi dunia umum,” ucap Suzie.

Sejumlah pemimpin negara telah memuji keketuaan Indonesia di G-20. Ucapan itu datang dari  Presiden Amerika Serikat Joe Biden, Presiden Cina Xi Jinping, Putra Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman, hingga Presiden Rusia Vladimir Putin.

Indonesia memang tak main-main. 

Digitalisasi BPRS Makin Potensial

Layanan harus diperluas untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

SELENGKAPNYA

Blacklist Orang Bermasalah di Perusahaan Pelat Merah

Direksi dan komisaris yang diberhentikan karena kesalahan tidak memiliki kesempatan lagi di BUMN.

SELENGKAPNYA

Smelter Freeport Diminta Pakai Listrik PLN

Progres pembangunan smelter Freeport di Gresik mencapai 45,5 persen.

SELENGKAPNYA