PHK Massal di dunia startup | Pixabay/Pexels

Halaman 8

Menantikan Angin Perubahan Pascabadai PHK

Profitabilitas dan menjaga value kepada konsumen adalah kunci bertahan dalam situasi yang sulit..

OLEH NOER QOMARIAH KUSUMAWARDHANI 

Industri startup dunia saat ini sedang tidak baik-baik saja. Menurut data Layoffs.fyi, sejak awal tahun sampai 23 November 2022 sudah ada 850 usaha rintisan dan perusahaan teknologi mapan di seluruh dunia yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK), dengan jumlah total karyawan yang dipecat mencapai 137 ribu orang.

Secara global, pemecatan paling banyak terjadi pada November 2022 dengan korban PHK sekitar 45 ribu orang. Angka tersebut mencakup PHK karyawan Meta, Amazon, Twitter, GoTo, serta Sirclo.

Pada November 2022 perusahaan induk Facebook, Instagram, dan Whatsapp, yaitu Meta, telah melakukan PHK terhadap 11 ribu karyawan. Pada bulan yang sama Amazon memecat 10 ribu karyawan, Twitter 3.700 karyawan, dan GoTo 1,3 ribu karyawan.

Di Indonesia saja, beberapa nama besar di dunia teknologi juga melakukan langkah serupa. Di antaranya, GoTo yang merumahkan 12 persen atau sebanyak 1.300 karyawannya, Koinworks yang merumahkan 70 karyawan, Zenius 200 karyawan, dan LinkAja yang merumahkan 33 persen atau sekitar 200 orang karyawannya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Meta (@meta)

Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira mengatakan, penyebab usaha rintisan beramai-ramai melakukan PHK, salah satunya karena mereka terindikasi mengalami overstaffing atau melakukan rekrutmen secara besar-besaran. Hal ini, Bhima menyebut, karena kesalahan membaca pola konsumsi masyarakat yang ternyata berubah sangat dinamis.

Contohnya, pada waktu pandemi masyarakat membeli barangnya secara daring. Begitu pula dengan pengantaran makanan dan pendidikan yang juga dilakukan secara daring.

Namun, ternyata pascapandemi perilaku masyarakat ini tidak sesuai ekspektasi dari para usaha rintisan. Hal ini kemudian mengakibatkan penurunan omzet yang cukup tajam.

“Bahkan, ketika pendidikan misalnya kembali lagi secara tatap muka, pendapatan dari belajar secara daring itu menurun drastis. Kemudian, staf yang sebagian besar direkrut pada saat pandemi terpaksa harus dikurangi agar bisnis bisa berjalan,” ujar Bhima saat dihubungi Republika, beberapa waktu lalu.

Kemudian ada lagi di financial technology (fintech), Bhima melanjutkan, yang kejadian spesifiknya karena para rintisan ini tidak mengantisipasi perubahan regulasi. Contohnya, di fintech peer to peer lending (P2P) ternyata regulasi modal minimum fintech semakin ketat.

Selanjutnya, Bhima mengungkapkan, ada juga non performing loan (NPL) fintech yang melonjak di tingkat P2P. “Nah, kemudian di fintech payment atau sistem pembayaran, ternyata dengan munculnya standardisasi QRIS, orang ternyata menggunakan mobile banking, tidak menggunakan e-wallet lagi,” katanya.

Dengan adanya perubahan regulasi yang sangat sensitif terhadap industri, terutama di jasa keuangan digital, membuat omzet mereka tertekan.

Dia melanjutkan, sebagian besar para usaha rintisan di Indonesia ini mendapatkan pendanaan dari investor luar negeri atau modal venturanya berasal dari luar negeri. Sementara, kondisi ekonomi, inflasi, naiknya suku bunga, ancaman resesi, membuat beberapa pendanaan asing lebih hati-hati. Termasuk, dalam hal mencari rintisan yang lebih tinggi profitabilitasnya dibanding hanya mengejar valuasi.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Amazon (@amazon)

“Jadi, ada game changer juga dari sisi permintaan investor yang kini makin selektif dalam memilih model bisnis rintisan di Indonesia. Salah satunya sebabnya ada kesulitan pendanaan,” ujar Bhima.

Pertimbangan Risiko

Menentukan keputusan dalam berinvestasi, terutama dengan adanya ancaman resesi, tentu perlu dilakukan dengan sangat hati-hati. CEO NoLimit Indonesia Aqsath Rasyid Naradhipa melihat, adanya faktor risiko yang berbeda saat ditanya bagaimana industri usaha rintisan saat ini akan terus dapat bertahan di tengah ancaman resesi.

Apalagi, suku bunga bank saat ini juga makin bertambah tinggi. Misalnya, investor yang ingin menaruh uangnya di startup, kata Aqsath, memang dia memiliki satu risiko yang cukup tinggi.

Oleh karena itu, ia meyakini, potensi investor tetap akan melirik usaha rintisan sebagai alokasi investasi sejatinya akan tetap ada. Namun, yang kini jadi perhatian utama adalah usaha rintisan seperti apa yang akan mendapatkan pendanaan pada masa depan.

Menurut Aqsath, sekarang gelanggang pendanaan di industri usaha rintisan sudah berbeda dari waktu-waktu sebelumnya. Dia menyebutkan kalau dulu mungkin fokus usaha rintisan lebih ke pertumbuhan atau traksi, kini mereka pasti akan lebih fokus ke profitabilitas.

“Artinya, at least usaha rintisan ini memiliki peta jalan menuju profitability. Enggak cuma sekadar gede-gedean growing. Tapi, sekarang benar-benar akan dilihat apakah usaha ini bisa generate revenue,” kata dia.

Sisi lain, Aqsath menyatakan, selama ini NoLimit Indonesia memang sudah sejak awal menempatkan diri sebagai perusahaan yang fokus ke profitabilitas. Selain itu, perusahaan yang bergerak di bidang pengembang software as a service (SaaS) berplatform big data untuk monitor dan analisis media sosial ini, juga berupaya untuk fokus ke nilai pelanggan.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Asosiasi FinTech Indonesia (@fintechid)

Ketika produk NoLimit Indonesia digunakan oleh pelanggan, itu menjadi nilai yang perusahaan ciptakan dengan pelanggan. Dengan strategi ini, menurut Aqsath, perusahaan pun memiliki tingkat pertumbuhan yang lebih sehat.

 

Saatnya Berfokus pada Cuan

Untuk dapat terus bertahan di situasi ekonomi yang penuh tantangan, saat ini industri rintisan Tanah Air harus mulai mengubah paradigma berpikirnya.

Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira menjelaskan, sebaiknya saat ini para usaha rintisan harus lebih mengejar profitabilitas. Artinya, profitabilitas ini menjadi kunci juga dalam mencari pendanaan.

Kedua, lebih lanjut ia menjelaskan, mereka harus mendorong dibandingkan promosi dan diskon besar-besaran. Mungkin yang ditawarkan ke konsumen adalah perlombaan fitur yang memang konsumen butuhkan.

“Kalau saat ini konsumen belanja secara fisik sebagian, yang harusnya didorong adalah omnichannel. Misalnya, digitalisasi warung, digitalisasi UKM, atau pasar tradisional, mungkin itu yang jauh lebih dibutuhkan,” katanya.

Selain itu, juga founder itu diminta untuk solid. Artinya, mempunyai komitmen untuk menjadi pemimpin dari startup.

Berikutnya, usaha rintisan ini harus makin pintar membaca model bisnis ke depan. “Contohnya business to consumer atau B2C itu kan cukup keras kompetisinya, dan sudah mengerucut ke tiga pemain besar, kan? GoTo, Lazada, Shopee. Nah, sementara yang prospek yang menarik itu justru business to business. Yaitu membantu para pemain tradisional untuk masuk ke lantai distribusi secara digital,” kata Bhima menjelaskan.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Tokopedia (@tokopedia)

Selain itu, para usaha rintisan ini juga harus jeli dalam melihat dinamika yang kini terjadi di masyarakat. Misalnya, konser yang kini terjadi di berbagai tempat, masyarakat melakukan rekreasi di tempat wisata pascapandemi reda.

Hal ini berarti yang dibutuhkan adalah aplikasi pariwisata atau online travel agent (OTA) yang akan kembali naik daun. Berbagai perubahan perilaku masyarakat ini pun harus langsung direspons dengan lebih lincah pada masa depan.

Ada berbagai prediksi yang mengisi tahun mendatang, pascabadai PHK ini terjadi. Menurut Bhima, pasca-PHK, besar peluang industri yang satu ini ini akan mengalami fase-fase konsolidasi. Maksudnya, merger atau akuisisi antar-startup akan marak.

Sehingga jumlah usaha rintisan mungkin tidak akan terlalu banyak. Kemudian unit bisnis yang tidak profit atau tidak memiliki prospek, juga berpeluang akan dihapus, dilikuidasi, atau ditutup. Sementara dari sisi pendanaan, kata Bhima, pendanaan juga mungkin akan lebih berfokus pada alokasi di dalam negeri untuk sepanjang 2023.

Blacklist Orang Bermasalah di Perusahaan Pelat Merah

Direksi dan komisaris yang diberhentikan karena kesalahan tidak memiliki kesempatan lagi di BUMN.

SELENGKAPNYA

Smelter Freeport Diminta Pakai Listrik PLN

Progres pembangunan smelter Freeport di Gresik mencapai 45,5 persen.

SELENGKAPNYA

Percontohan Campuran Pertamax dan Bioetanol Segera Dimulai

Percontohan dimulai dari campuran lima persen bioetanol dalam Pertamax.

SELENGKAPNYA