Internasional
Israel Kembali Gencarkan Serangan ke Gaza
Serangan dilakukan dari udara, darat, hingga lautan.
GAZA – Pasukan penjajah Israel meningkatkan operasi militer di Jalur Gaza pada Jumat pagi, memusatkan serangan udara dan tembakan keras ke Rafah. Mereka juga melakukan serangan di wilayah tengah dan selatan, yang merupakan pelanggaran terus-menerus terhadap gencatan senjata yang berlaku sejak 10 Oktober 2025.
Jet tempur dan helikopter Israel melakukan beberapa serangan udara sepanjang malam hingga Jumat pagi di wilayah timur Rafah, disertai dengan tembakan keras dari kendaraan lapis baja dan tembakan helikopter di seluruh kota.
Tentara Israel mengklaim delapan warga Palestina terdeteksi keluar dari terowongan bawah tanah di timur Rafah pada malam hari. Menurut pihak militer, serangan udara menewaskan tiga dari mereka, sementara serangan tambahan dilancarkan di daerah di mana orang lain berusaha melarikan diri. Tentara mengatakan pihaknya terus melanjutkan operasi pencarian dan penilaian di daerah tersebut.
Sumber-sumber Palestina belum secara independen mengkonfirmasi klaim Israel tersebut.
Eskalasi ini terjadi ketika masalah warga Palestina yang terjebak di terowongan di bawah Rafah masih belum terselesaikan. Hamas mengatakan pada akhir 2025 bahwa mereka telah mengadakan pembicaraan dengan mediator untuk mengizinkan sekitar 200 pejuang dari sayap bersenjatanya, Brigade Qassam, keluar dari terowongan Rafah dengan aman, namun mengatakan Israel tidak menanggapinya.
Di Gaza tengah, sumber medis di Rumah Sakit Martir Al-Aqsa mengonfirmasi bahwa dua warga Palestina, Walid Hassan Darwish dan Yasser Mohammad Abu Shahada, syahid ketika pesawat Israel membom perkumpulan warga sipil di kamp pengungsi Al-Maghazi.
The aftermath of the Israeli occupation drone strike on a tent sheltering displaced Palestinians in Al-Mawasi, Khan Younis, in the southern Gaza Strip, which left six Palestinians injured. pic.twitter.com/DGKCXB2bVY — Quds News Network (QudsNen) January 30, 2026
Para saksi mata melaporkan bahwa sebuah drone Israel menargetkan daerah dekat bundaran Abu Namous di sebelah timur kamp, sebuah daerah di mana pasukan Israel telah mundur berdasarkan gencatan senjata. Beberapa lainnya terluka.
Di Gaza selatan, setidaknya enam warga Palestina, termasuk seorang wanita hamil, terluka setelah pesawat tempur Israel mengebom tenda yang menampung keluarga pengungsi di daerah Al-Mawasi sebelah barat Khan Yunis.
Sumber medis di Rumah Sakit Lapangan Al-Hilal dan Rumah Sakit Nasser membenarkan adanya cedera tersebut. Anadolu Agency melaporkan bahwa serangan itu menargetkan tenda-tenda yang menampung warga sipil yang mengungsi akibat serangan Israel sebelumnya.
Kendaraan dan helikopter militer Israel juga melepaskan tembakan besar-besaran dan sembarangan di timur Khan Yunis, di wilayah yang berada di bawah kendali Israel.
Kapal angkatan laut Israel mengejar kapal nelayan Palestina di lepas pantai Kota Gaza, melepaskan tembakan ke arah pantai, menurut sumber lokal.
Helikopter Israel juga melepaskan tembakan ke arah Rafah, sementara tembakan tambahan menargetkan Kota Gaza bagian timur dan Khan Yunis bagian timur. Pada Kamis malam, pasukan Israel melancarkan serangan tembakan dan meledakkan bangunan tempat tinggal di Rafah, menurut laporan lokal.
Peningkatan ketegangan pada Jumat ini merupakan bagian dari pelanggaran yang dilakukan Israel terhadap perjanjian gencatan senjata yang hampir terjadi setiap hari. Sejak perjanjian tersebut berlaku, pasukan Israel telah membunuh sedikitnya 513 warga Palestina dan melukai 1.356 lainnya, menurut laporan media Palestina.
Gencatan senjata tersebut mengakhiri perang genosida Israel selama dua tahun yang dilancarkan pada Oktober 2023, yang menewaskan lebih dari 71.667 warga Palestina, melukai lebih dari 171.343 orang, dan menghancurkan sekitar 90 persen infrastruktur sipil Gaza. PBB memperkirakan biaya rekonstruksi hampir mencapai 70 miliar dolar AS.
Operasi militer Israel di Gaza terus berlanjut meskipun ada diskusi mengenai perjanjian gencatan senjata tahap kedua.
Sementara, tentara Israel telah menerima keakuratan angka kematian Kementerian Kesehatan Palestina di Gaza, setelah bertahun-tahun menolak mengakui laporan tersebut. Menurut Haaretz, tentara mengatakan jumlah korban tewas sekitar 71.000 orang tewas sebagian besar benar, dan menambahkan bahwa jumlah tersebut tidak termasuk mereka yang terkubur di bawah reruntuhan.
Pemerintah Israel selama bertahun-tahun menolak menerima jumlah korban tewas yang dilaporkan oleh Kementerian Kesehatan di Gaza, bahkan mencap laporan tersebut “menyesatkan dan tidak dapat diandalkan”.
Pihak militer mengatakan pihaknya sedang menganalisis data tersebut, yang juga tidak mencakup jumlah korban meninggal karena kelaparan atau penyakit yang diperburuk oleh genosida Israel yang telah berlangsung selama bertahun-tahun di Gaza.
Meski menerima keakuratan laporan tersebut, pihak militer mengatakan pihaknya berupaya membedakan kematian warga sipil dan militer di wilayah kantong tersebut.
Pembukaan Rafah
Sementara, pembukaan perbatasan Rafah yang memisahkan Gaza dan Mesir kian dekat. Sementara laporan dari media-media Israel mengisyaratkan rencana jahat negara Zionis terkait mekanisme keluar masuk warga Gaza melalui perbatasan itu.
Pensiunan Jenderal Israel Amir Avivi, yang masih menjadi penasihat militer, Israel menyatakan Zionis telah membuka lahan di Rafah untuk membangun fasilitas besar guna memperkuat kendali dan kehadiran militernya di Gaza untuk jangka panjang.
Avivi menggambarkan proyek tersebut sebagai “kamp besar dan terorganisir” yang mampu menampung ratusan ribu orang. Dia mengatakan itu akan dilengkapi dengan “pemeriksaan identitas, termasuk pengenalan wajah”, untuk melacak setiap warga Palestina yang masuk dan keluar.
Citra satelit terbaru yang dianalisis oleh tim investigasi digital Aljazirah mengungkapkan pembukaan lahan secara sistematis dan perataan tanah di Rafah barat, dekat poros Morag yang dikuasai Israel.
Gambar-gambar tersebut, yang diambil antara 2 Desember 2025 dan 26 Januari 2026, menunjukkan penggalian skala besar dan perataan tanah seluas sekitar 1,3 kilometer persegi, menunjukkan persiapan untuk rencana masa depan Israel daripada pembersihan puing-puing rutin.
Saat ini, perselisihan memanas antara Mesir dan Israel mengenai siapa dan berapa banyak warga Palestina yang boleh meninggalkan dan kembali. Menurut laporan media Israel Kan pada Rabu, perunding Israel telah mengajukan syarat mengenai arus pelintas: jumlah warga Palestina yang meninggalkan Gaza dan memasuki Mesir melalui penyeberangan harus melebihi jumlah mereka yang diizinkan masuk.
Media penyiaran tersebut melaporkan bahwa para pejabat Mesir menolak formula asimetris ini, dan bersikeras pada “rasio yang sama” antara masuk dan keluar. Kairo dilaporkan khawatir bahwa sikap Tel Aviv adalah upaya yang diperhitungkan untuk merekayasa emigrasi dan secara permanen mengurangi populasi Gaza.
Meskipun Gubernur Sinai Utara Khaled Megawer menegaskan kepada media lokal kesiapan operasional Mesir “untuk semua skenario”, mekanisme teknologi yang diterapkan di lapangan menunjukkan adanya sistem yang dirancang untuk menyaring populasi.
Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.
