Pelatih Jepang Hajime Moriyasu. | AP Photo/Alessandra Tarantino

Piala Dunia

Samurai Biru Pulang dengan Kepala Tegak

Tidak semua tim hebat bisa membendung raksasa sekaliber Spanyol dan Jerman.

DOHA -- "Kami ingin bertarung seperti samurai". Demikian petikan ucapan bek sayap tim nasional Jepang, Yuta Nagatomo, sebelum timnya berhadapan dengan Kroasia pada babak 16 besar Piala Dunia 2022. Ia membakar semangat rekan-rekannya bak prajurit abad pertengahan di negerinya.

Cara demikian terbukti ampuh ketika wakil Asia ini berkuasa di Grup E. Skuad polesan Hajime Moriyasu menumbangkan Jerman dan Spanyol. Dua raksasa itu dikalahkan dengan skor 2-1.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Japan Football (@japan_football__)

Sayangnya, catatan impresif Jepang dihentikan elite Eropa lainnya. Nagatomo dan rekan-rekannya gagal melewati the Blazers. Sepanjang 120 menit, duel di Stadion Al Janoub, Al-Wakrah, Senin (5/12) malam WIB, berkesudahan imbang 1-1.

Laga berlanjut ke sesi adu penalti. Petaka mendera laskar Samurai Biru. Taji mereka di lapangan hilang sekejap. Takumi Minamino, Kaoru Mitoma, serta Maya Yoshida tak bisa menggetarkan jala Dominik Livakovic.

Tangis pecah di arena. Sekumpulan penggemar Nippon sulit membendung air mata yang tumpah. Begitu juga dengan para idola mereka. “Kami tidak bisa menyalahkan siapa pun. Kami membiarkan laga diselesaikan lewat adu penalti adalah alasan kekalahan ini," kata gelandang Jepang, Wataru Endo, dikutip dari AP, Selasa (6/12).

 
 
Saya pikir para pemain menunjukkan era baru sepak bola Jepang. Mereka harus menggunakan perasaan ini untuk mencoba menang pada lain waktu.
 
 

Endo beserta rekan-rekannya tak bisa menciptakan sejarah baru. Sepanjang keikutsertaan di Piala Dunia, prestasi terbaik wakil Asia itu yakni melaju ke babak 16 besar. Lagi-lagi, mereka terjegal di sana. Dua kali lewat sesi adu penalti, yakni pada 2010 dan 2022. Sisanya dalam waktu normal, yaitu pada 2002 dan 2018.

Moriyasu angkat bicara. Sebagai pelatih, ia berupaya meredam kekecewaan pasukannya. Ia fokus pada hasil positif yang sudah Jepang tunjukkan. Kini, tim-tim dari Eropa atau Amerika Selatan wajib mewaspadai tim Negeri Sakura jika bertemu dalam satu pertandingan tunggal.

"Saya pikir para pemain menunjukkan era baru sepak bola Jepang. Mereka harus menggunakan perasaan ini untuk mencoba menang pada lain waktu," ujar juru taktik 54 tahun itu, dikutip dari Daily Mail.

 
 
Kami memiliki kiper fantastis. Hari ini dia hebat. Dia menyelamatkan setiap penalti dengan cara yang sangat kuat dan stabil.
 
 

Samurai Biru pulang dengan kepala tegak. Kendati tak bisa lolos ke perempat final, nama mereka harum di Qatar. Tidak semua tim hebat bisa membendung raksasa sekaliber Spanyol dan Jerman.

Kroasia juga dibuat ketar-ketir. Tapi, itulah sepak bola. Terkadang muncul kegembiraan, tak jarang menghadirkan tangisan.

Duel di Stadion Al Janoub juga menjadi ruang bagi penjaga gawang the Blazers unjuk kemampuan. Livakovic mementahkan sepakan tiga eksekutor Jepang dengan gagah berani. Pada akhir pertandingan, ia mendapat pelukan dari semua elemen di timnya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Hrvatski nogometni savez (@hns_cff)

"Kami memiliki kiper fantastis. Hari ini dia hebat. Dia menyelamatkan setiap penalti dengan cara yang sangat kuat dan stabil," tutur pelatih Kroasia, Zlatko Dalic.

Masih panjang perjalanan negara pecahan Yugoslavia itu. Anak asuh Dalic ditantang Brasil pada tahapan selanjutnya. Big match ini bakal berlangsung di Stadion Education City, Al Rayyan, Jumat (9/12) malam WIB.

Memperkuat Kontribusi BPRS dalam Ekosistem Syariah

Saat ini, belum banyak BPRS yang masuk ke ranah pembiayaan properti.

SELENGKAPNYA

Rupiah Digital Terhubung dengan Mata Uang Global

BI belum memberikan batas waktu peluncuran rupiah digital.

SELENGKAPNYA

Giroud, Sang Raja Gol Prancis

Giroud sempat disindir Benzema bahwa kualitas mereka jauh berbeda bak mobil F1 dan gokart.

SELENGKAPNYA