Pekerja menyelesaikan produksi pakaian rajut di salah satu industri rumahan di Sentra Rajut Binong Jati, Binong, Kota Bandung, Senin (14/11/2022). | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

Ekonomi

Apindo Dorong Peningkatan Investasi Padat Karya

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS juga diperkirakan menguat setelah kuartal I 2023.

JAKARTA -- Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani menilai, Indonesia perlu menyerap lebih banyak investasi padat karya atau investasi yang menyerap lebih banyak tenaga kerja. Menurut dia, serapan tenaga kerja oleh investasi yang masuk ke Indonesia terus mengalami penurunan.

Dia menyebut, pada 2013, setiap Rp 1 triliun investasi yang masuk menyerap 4.594 tenaga kerja. Akan tetapi, pada 2019, investasi dengan nilai yang sama hanya menyerap 1.340 tenaga kerja.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by APINDO Nasional Official (@apindo.nasional)

“Investasi yang masuk ke Indonesia banyak, tapi itu tidak menyerap tenaga kerja,” kata Hariyadi dalam webinar Proyeksi Ekonomi Indonesia yang dipantau di Jakarta, Senin (5/12).

Menurut dia, investasi yang masuk perlu turut menyelesaikan persoalan kemiskinan. Dia menjelaskan, sebanyak 161,7 juta penduduk Indonesia atau mencapai sekitar 59 persen dari total penduduk Indonesia masih menerima subsidi dari pemerintah dengan total senilai Rp 431,5 triliun.

“Kalau hampir 60 persen rakyat masih disubsidi, jangan harap kita bisa menikmati bonus demografi. Yang ada justru beban demografi beserta seluruh masalahnya,” katanya.

Hariyadi menyebut, pemerintah perlu mempererat koordinasi antara kementerian dan lembaga agar tidak menerbitkan kebijakan yang tumpang-tindih dan menyulitkan pelaku usaha di lapangan. Di samping itu, investasi untuk publik juga perlu dipastikan agar tetap berjalan.

 
 
Selain ekspor, konsumsi dan investasi juga menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi kita.
 
 

“Yang penting tujuan-tujuannya kementerian atau lembaga tercapai. Itu yang diberikan reward. Bukan kementerian atau lembaga yang berhasil menghabiskan belanjanya,” ujar Hariyadi.

Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan berkisar 4,5 persen sampai 5,3 persen secara tahunan pada 2023. "Pertumbuhan akan naik menjadi 4,7 sampai 5,5 persen pada 2024. Selain ekspor, konsumsi dan investasi juga menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi kita," kata Perry.

Ia mengatakan, hilirisasi komoditas sumber daya alam (SDA), pembangunan infrastruktur, penanaman modal asing (PMA), dan bergeraknya sektor pariwisata juga akan menjadi penopang perekonomian pada 2023. Inflasi pada tahun depan dibidik kembali ke sasaran 3 plus minus 1 persen dengan inflasi inti kembali ke bawah 4 persen pada semester I 2023.

“Pada 2024, tentunya akan lebih turun lagi ke dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen. Ini hasil koordinasi erat antara subsidi energi pemerintah, kenaikan suku bunga BI yang terukur, stabilitas nilai tukar rupiah, dan koordinasi tim pengendali inflasi,” ujarnya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Bank Indonesia (@bank_indonesia)

Didukung oleh penguatan fundamental perekonomian nasional, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat juga diperkirakan akan menguat setelah kuartal I 2023. Penyaluran kredit perbankan diperkirakan akan tumbuh sekitar 10 sampai 12 persen secara tahunan pada 2023.

“Ekonomi digital juga akan semakin marak. Transaksi niaga daring diperkirakan akan mencapai Rp 572 triliun pada 2023, transaksi uang elektronik akan mencapai Rp 528 triliun, dan transaksi perbankan digital akan mencapai Rp 67 ribu triliun,” ujar Perry. 

Messi dan Tim Unggulan Mulai Bertaji

Messi terpilih sebagai pemain terbaik dalam laga Argentina vs Australia

SELENGKAPNYA

Menanti Kejutan Ketiga Jepang

Kroasia ditopang rekam jejak yang mengesankan dalam sistem gugur Piala Dunia.

SELENGKAPNYA

Empat Macam Fitnah

Sekelompok pemuda yang berjuang menjaga imannya dan mengajak orang lain agar beriman kepada Allah SWT.

SELENGKAPNYA