Ustaz Dr Amir Faishol Fath | Republika

Motivasi Alquran

Empat Macam Fitnah

Sekelompok pemuda yang berjuang menjaga imannya dan mengajak orang lain agar beriman kepada Allah SWT.

DIASUH OLEH USTAZ DR AMIR FAISHOL FATH; Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute

Surah al-Kahfi (gua) mengandung empat kisah yang masing-masing menggambarkan fitnah (ujian). Pertama, kisah Ashabul Kahfi sebagai representasi fitnah iman. Yakni, tentang sekelompok anak muda yang berjuang menjaga imannya dan mengajak orang lain agar beriman kepada Allah SWT. “Wa rabathnaa alaa quluubihim iz qaamuu fa qaaluu rabbunaa rabbussamaawaati wal ardh.” (QS 18: 14).

Namun, perjuangan dakwah kepada tauhid ini menyebabkan mereka diancam oleh kaumnya. Karena itu, mereka diperintahkan agar bersembunyi dalam gua “fa’wuu ilal kahfi” (QS 18: 16). Secara lahir di dalam gua tidak ada kehidupan, tetapi karena itu perintah-Nya, Allah menjaminkan memberikan segala kebutuhan yang diperlukan selama di dalamnya.

Beberapa fasilitas yang Allah sediakan di dalam gua tersebut adalah ditebarkannya rahmat Allah berupa penjagaan terhadap badan dan imannya “yansyur lakum rabbkum mir rahmatihii” dan disediakan baginya segala kebutuhannya “wa yuhayyi’ lakum min amrikum mirfaqaa” (QS 18: 16).

 
Beberapa fasilitas yang Allah sediakan di dalam gua tersebut adalah ditebarkannya rahmat Allah berupa penjagaan terhadap badan dan imannya.
 
 

Cahaya matahari juga dibuat tidak langsung menyerang tubuh mereka supaya tidak rusak (QS 18: 17). Mata mereka dibuat terbelalak seperti terjaga, padahal mereka tidur “wa tahsabuhum ayqaahzaw wahum ruquud”. Lebih dari itu, Allah membolak-balik tubuhnya ke kiri dan ke kanan supaya tidak lembab karena menempel dengan tanah “wa nuqallibuhum dzaatal yamiin wa dzzatasysyimaal”. (QS 18: 18).

Berikutnya kisah dua orang pemilik kebun sebagai representasi fitnah harta. Satunya menzalimii diri sendiri “wa huwa zhaalimun linafsihii”, terlena dengan kekayaannya sehingga ia bersikap sombong dan meyakini bahwa dirinya dengan harta sebanyak itu tidak akan mati selamanya “maa azhunnu an tabiida haadzhii abadaa”. (QS 18: 35).

Sementara satunya berhasil menginfakkan hartanya dalam kebaikan. Ia menasihati saudaranya agar segera menyadari bahwa perbuatannya itu salah. Namun, nasihat tersebut ditolak. Allah segera menurunkan azab, seketika kebun-kebun itu musnah dan tidak tersisa sama sekali “wa uhiitha bitsamarihii fa ashbaha yuqallibu kaffaihi”. (QS 18: 42).

Lalu, kisah Nabi Musa dan Khidir, sebagai representasi atas fitnah ilmu. Saat itu, Nabi Musa merasa bahwa dirinyalah yang paling alim di muka bumi. Allah memberikan pelajaran dengan menunjukkan kepada Nabi Musa bahwa ada orang yang lebih alim darinya, yaitu Khidir.

Nabi Musa diperintahkan agar belajar darinya. Khidir menunjukkan beberapa sikap yang Nabi Musa tidak bisa memahaminya: tentang perahu yang dirusak, anak yang dibunuh, dan bangunan yang diperbaiki. Sampai akhirnya Khidir menjelaskan maksud semua sikap tersebut secara terperinci. Itulah ilmu takdir yang belum diketahui Nabi Musa.

Terakhir kisah Dzul Qarnain, seorang penguasa dunia, sebagai reperesentasi fitnah kekuasaan. Namun, Dzul Qarnain, tidak terlena dengan kekuasaan yang dimilikinya.

Malah sebaliknya ia berhasil menggunakannya untuk berdakwah kepada tauhid, menegakkan hukum seadil-adilnya, dan melindungi rakyatnya dari kezaliman orang-orang bejat, yaitu ya’juj dan ma’juj (QS 18: 83-98).

Bagaimana Hukum Syariah Paroan Sawah?

Paroan sawah merupakan kerja sama antara pemilik sawah dan orang yang punya keterampilan.

SELENGKAPNYA

Berbaik Sangka kepada Allah

Tidak ada yang berhak menanyakan tentang apa ditakdirkan dan ditentukan-Nya

SELENGKAPNYA

Pengendalian Inflasi

Inflasi merupakan fenomena moneter sehingga pengendaliannya menjadi tugas utama BI.

SELENGKAPNYA