IMAN SUGEMA | Daan Yahya | Republika

Analisis

Pengendalian Inflasi

Inflasi merupakan fenomena moneter sehingga pengendaliannya menjadi tugas utama BI.

OLEH IMAN SUGEMA

Tingkat inflasi di Indonesia yang sekarang ini berada di bawah enam persen setidaknya menunjukkan bahwa inflasi masih relatif terkendali dan cenderung mengalami penurunan. Ini merupakan berita menggembirakan sebab inflasi merupakan beban tambahan bagi masyarakat.

Kalau dibandingkan dengan Inggris yang akhir-akhir ini inflasinya sempat menyentuh double digit, tentu tambahan beban masyarakat akibat inflasi di negeri kita tidak seberat di Inggris. Posisi kita juga masih lebih baik dibandingkan Amerika Serikat yang inflasinya sempat berada di atas delapan persen.

Problem yang dihadapi Indonesia sebenarnya lebih berat. Selain harga komoditas dunia yang menyeruak naik, kita juga menghadapi depresiasi nilai tukar. Keduanya tentu berimplikasi terhadap naiknya harga-harga. Lantas apa yang mengakibatkan lebih terkendalinya angka inflasi.

Hal yang pertama harus diingat adalah inflasi merupakan fenomena moneter sehingga pengendaliannya menjadi tugas utama dari bank sentral. Jurus utama Bank Indonesia adalah dengan menaikkan suku bunga yang cenderung menguras likuiditas di masyarakat.

 
Hal yang pertama harus diingat adalah inflasi merupakan fenomena moneter sehingga pengendaliannya menjadi tugas utama dari bank sentral. 
 
 

Dengan ditariknya likuiditas maka tekanan inflasi dari sisi permintaan akan berkurang. Bank akan cenderung lebih selektif dalam memberikan kredit. Perusahaan juga akan lebih berhati-hati dalam meminjam karena beban pembayaran bunga meningkat. Itulah sebabnya akhir-akhir ini Bank Indonesia semakin rajin menaikkan suku bunga.

Untuk bisa menutupi kenaikan beban bunga maka perusahaan dan rumah tangga mau tidak mau harus melakukan realokasi anggaran. Dana yang tadinya dialokasikan untuk konsumsi, misalnya, sekarang dipakai untuk membayar sebagian cicilan. Akibatnya permintaan terhadap barang dan jasa secara agregat akan menurun yang pada gilirannya akan menekan harga. Perusahaan juga akan cenderung mengerem ekspansi usaha sehingga investasi akan tertekan.

Kenaikan suku bunga juga akan mencegah penurunan cadangan devisa yang terlalu drastis. Memang, walaupun setelah kenaikan suku bunga dilakukan tetap saja terjadi arus modal yang lari dari Indonesia.

Kalau suku bunga tidak dinaikkan maka pelarian modal akan menjadi sangat parah. Sementara itu, kalau suku bunga dinaikkan terlalu tinggi maka investasi dan konsumsi akan sangat tertekan. Mencari keseimbangan antara keduanya merupakan pekerjaan yang sangat dilematis.

 
Kenaikan suku bunga juga akan mencegah penurunan cadangan devisa yang terlalu drastis.
 
 

Dalam kondisi seperti ini langkah yang ditempuh oleh bank sentral akan selalu suboptimal. Senjata yang dimilikinya hanya satu, yakni suku bunga. Mencegah pelarian modal membutuhkan kenaikan suku bunga yang lebih tinggi. Sementara itu, kenaikan yang terlalu berlebihan tidak memungkinkan untuk menjaga konsumsi dan investasi tetap kondusif. Kalau hanya punya satu peluru maka hanya satu burung yang Anda bisa bidik secara tepat.

Karena itu diperlukan "peluru" selain suku bunga. Salah satunya adalah Tim Pengendalian Inflasi Daerah atau TPID. Lembaga ini diperlukan untuk mengendalikan harga-harga di tingkat kabupaten/kota atau provinsi. Sesuai namanya, lingkup kerjanya lebih berskala lokal. Tetapi kalau mereka bisa dikoordinasikan secara serempak, maka lingkupnya menjadi nasional.

Kebijakan moneter untuk pengendalian inflasi merupakan resep generik dan tanpa pandang bulu. Naik turunnya suku bunga berlaku untuk semua pihak, semua sektor, dan semua daerah. Sebaliknya, TPID bisa menyasar lebih detail. Misalnya, suatu daerah menghadapi inflasi pangan yang berlebihan. Maka daerah tersebut akan memfokuskan diri untuk mengatasi masalah tersebut.

Sementara itu, wilayah yang lain mungkin isunya adalah tingginya biaya transportasi dan karena itu fokus pengendalian adalah perbaikan infrastruktur transportasi. Kalau semua daerah fokus mengatasi masalahnya masing-masing maka hasilnya adalah berkurangnya tekanan inflasi di setiap daerah.

 
Wilayah yang lain mungkin isunya adalah tingginya biaya transportasi dan karena itu fokus pengendalian adalah perbaikan infrastruktur transportasi.
 
 

Secara kumulatif, kita akan mendapatkan inflasi yang lebih rendah secara nasional. Angka inflasi nasional merupakan penjumlahan terbobot atas inflasi yang terjadi di daerah.

Koordinasi antardaerah juga memiliki peran penting. Bisa jadi harga pangan di suatu daerah melesat secara tajam karena kelangkaan pasokan. Sementara itu, di wilayah yang lain justru menghadapi masalah yang sebaliknya, pasokan terlalu berlebih. Koordinasi dan kerja sama antar TPID dapat mengatasi persoalan seperti ini. Ini pun hanya salah satu contoh saja. Banyak hal yang bisa dikoordinasikan bersama-sama.

Uraian tersebut lebih dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa ruang pengendalian yang dimiliki oleh TPID lebih luas dan bervariasi. Dalam situasi di mana ruang untuk memakai resep generik sangatlah terbatas maka bisa jadi resep melalui TPID justru dapat dijadikan andalan utama. Kita sangat beruntung telah bisa menginstitusionalisasikan sebuah perangkat pengendali inflasi yang bisa menyediakan solusi yang beragam sesuai dengan tantangan yang dihadapi di daerah masing-masing.

Peran strategis TPID akan semakin terbukti di masa-masa sulit seperti sekarang ini. 

Jangan Buru-buru Menikah Mengapa?

Cara komunikasi perlu menjadi refleksi bagi pasangan suami istri.

SELENGKAPNYA

Biden Bersinar, Trump Kian Redup

Hasil Pemilu 2022 membuat jalan Biden untuk nyapres di Pemilu 2024 semakin lempang.

SELENGKAPNYA

Karya Seni dari Tenunan Ikat

Tenun ikat bukan sekadar kain yang bisa dibeli dan dinikmati, tapi juga wujud karya seni. 

SELENGKAPNYA