vp,,rm
Sejumlah siswa-siswi membasuh kaki guru sebagai tanda penghormatan seusai upacara peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2022 di Madrasah Tsanawiyah Swasta (MTsS) Harapan Bangsa dan Madrasah Ibtidayah Negeri 11 Aceh Barat Desa Kuta Padang, Johan Pahlawan, Ac | ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas

Kabar Utama

Presiden Minta Guru Bangun Mentalitas Anak Didik

Presiden Jokowi ingin para generasi muda memiliki karakter kebangsaan yang kuat.

JAKARTA – Presiden Joko Widodo memberi pesan khusus untuk para guru pada akhir pekan lalu. Presiden meminta para guru untuk terus mengembangkan diri dan meningkatkan kualitasnya agar bisa menghasilkan anak didik berpemikiran kritis.

Namun, di pidatonya tersebut Presiden tidak menyinggung persoalan mendesak yang dihadapi dunia guru saat ini, yakni guru honorer. Forum guru honor pun mengaku kecewa dengan hal itu.

Presiden berpesan, pembangunan mentalitas dan karakter anak didik harus menjadi fondasi untuk mencetak generasi unggul masa depan. Untuk mewujudkannya, peran guru sangat penting dan krusial, terutama untuk memastikan peserta didik tidak hanya mumpuni dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), tetapi juga berkarakter dan berkepribadian luhur.

“Harus terus kita bangun sikap santun, jujur, budi pekerti yang baik, peduli terhadap sesama, kerja keras, dan mampu bergotong royong, ini makin penting untuk kita berikan kepada anak-anak kita,” ujar Presiden Joko Widodo pada acara Puncak Peringatan HUT ke-77 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Hari Guru Nasional (HGN) 2022 di Kota Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (3/12).

Presiden Jokowi ingin para generasi muda memiliki karakter kebangsaan yang kuat, karakter Pancasilais yang moderat dan toleran, serta memahami Bhinneka Tunggal Ika. Semua itu tetap harus ditambah penguasaan iptek dan peningkatan keterampilan teknis untuk mengikuti perkembangan zaman yang sangat cepat saat ini. Menurut dia, para guru harus mengikuti perkembangan berbagai ilmu maupun teknologi baru yang terus bermunculan.

“Guru pun harus selalu meng-update informasi dan proses yang terpenting dalam pengajaran. Saat ini adalah bagaimana proses pengajaran itu agar anak memiliki daya kritis yang baik sehingga fleksibilitas itu diperlukan, tidak kaku, harus fleksibel karena ilmunya berkembang sangat cepat sekali,” ujar dia.

Mantan wali kota Solo itu tak ingin para guru justru memberikan ilmu yang sudah usang dan ketinggalan zaman kepada anak-anak didik. Sebab, ilmu yang diberikan para guru di sekolah akan menjadi bekal generasi muda untuk menghadapi tantangan dan perubahan zaman pada masa depan.

Hal yang tak kalah penting dalam menyiapkan sumber daya manusia (SDM) unggul adalah kesehatan jasmani. Menurut Jokowi, ilmu dan keterampilan tinggi yang dimiliki seseorang harus dibarengi dengan kondisi fisik dan mental yang sehat. “Penguasaan ilmu yang hebat juga akan menjadi sia-sia jika anak didik kita tidak sehat jiwanya dan tidak sehat badannya. Hati-hati mengenai ini karena sakit fisik maupun sakit mental adalah pengali nol dari prestasi akademis,” ujarnya.

Karena itu, kata Jokowi, para guru perlu bekerja sama dengan pemerintah untuk mencegah terjadinya stunting pada anak-anak. Pola hidup sehat pun harus dikenalkan kepada anak-anak sejak dini, yakni dengan makan sehat dan olahraga yang cukup yang harus dibiasakan sejak dini.

photo
Sejumlah siswa-siswi membasuh kaki guru sebagai tanda penghormatan seusai upacara peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2022 di Madrasah Tsanawiyah Swasta (MTsS) Harapan Bangsa dan Madrasah Ibtidayah Negeri 11 Aceh Barat Desa Kuta Padang, Johan Pahlawan, Aceh Barat, Aceh, Jumat (25/11/2022). - (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)

Presiden Jokowi mengapresiasi kerja keras para guru selama pandemi Covid-19 di Indonesia. Selama pandemi berlangsung, para tenaga pendidikan menghadapi proses belajar-mengajar yang sangat berat. Selain karena banyak yang terkena Covid-19, proses belajar-mengajar pun harus dilakukan secara daring dengan segala keterbatasan.

“Terima kasih atas kerja keras bapak-ibu guru semuanya saat pandemi dan terima kasih telah mengawal masa depan anak-anak kita selama pandemi dan terima kasih telah mengawal masa depan bangsa, negara, lewat pendidikan kepada anak didik kita,” ujar dia.

Namun, dalam pidato di HUT PGRI tersebut, Presiden Jokowi tak menyinggung sama sekali tentang nasib guru honorer. Hingga saat ini, pengangkatan guru honorer menjadi pegawai negeri sipil (PNS) atau pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) masih belum kunjung tuntas. Isu kesejahteraan guru honorer yang terus bergulir sekian lama seolah tak ada ujung penyelesaian dan terus timbul tenggelam.

“Soal guru honorer itu kecewa berat lah. Dasarnya kita mendapatkan menteri yang hanya janji saja soal rekrutmen PPPK, sekarang presidennya statement-nya menyinggung pun tidak,” ujar Kepala Bidang Advokasi Guru Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Iman Zanatul Haeri.

photo
Dalam rangka memperingati hari guru, puluhan guru yang tergabung dalam Forum Guru Prioritas Pertama Negeri dan Swasta (FGPNS) Jabar berunjuk rasa di depan Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (28/11/2022). Mereka menuntut kejelasan nasib terkait penempatan formasi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (P3K). Para peserta aksi merupakan guru yang telah lolos seleksi P3K. Namun hingga kini belum mendapatkan kejelasan. - (Edi Yusuf/Republika)

Menurut Iman, guru honorer sudah turut mendidik masyarakat di tengah situasi kekurangan guru. Dengan tidak disinggungnya guru honorer dalam peringatan HUT PGRI, keberadaan sekitar 700 ribu guru dengan status honorer tersebut seolah dianggap tidak ada.

“Kami sangat menyayangkan sekali mengapa Pak Jokowi tidak memperhitungkan guru honorer yang sebetulnya bekerja bagi pendidikan Indonesia dengan gaji yang tidak layak,” kata dia.

Selain itu, dia juga menyayangkan karena melihat persoalan utama yang ada di tengah para guru saat ini yakni tentang seleksi guru PPPK. Iman mengatakan, pemerintah tidak perlu berbicara jauh mengenai pemberian jaminan hari tua bagi para guru atau soal keinginan guru untuk menjadi ASN. Sebab, proses rekrutmen guru PPPK saja saat ini masih karut-marut.

“Ini yang sudah jelas lolos pun pada 2021 ada sekitar 193 ribu sekian yang tidak mendapatkan formasi sampai hari ini. Jadi, kami kira kepedulian pemerintah terhadap guru honorer ini sebetulnya makin rendah makin ke sini,” kata Iman.

Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim mengatakan, pemerintah sudah menyiapkan rencana kebijakan seleksi guru PPPK. Rencana yang disiapkan itu merupakan upaya pemerintah untuk memastikan kesejahteraan guru di Indonesia terjamin.

“Ini mendorong janji kami untuk memastikan kesejahteraan guru di negara ini terjamin. Inilah komitmen kami yang akan terus kami jaga dan kuatkan,” ujar Nadiem dalam sambutannya pada peringatan HUT PGRI ke-77.

Nadiem mengatakan, rencana pertama adalah kolaborasi antara Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, dan Kementerian Keuangan. Dalam kolaborasi tersebut, jika pada Maret 2023 pemerintah daerah tidak mengajukan formasi sesuai kebutuhan, pemerintah pusat yang akan melengkapi formasi tersebut. 

Kedua, Kemendikbudristek akan berkoordinasi lintas kementerian untuk memastikan anggaran gaji dan tunjangan guru PPPK tidak boleh untuk kebutuhan lain. Rencana ketiga, anggaran bagi guru PPPK hanya akan ditransfer setelah guru honorer diangkat menjadi PPPK.

photo
Dalam rangka memperingati hari guru, puluhan guru yang tergabung dalam Forum Guru Prioritas Pertama Negeri dan Swasta (FGPNS) Jabar berunjuk rasa di depan Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (28/11/2022). Mereka menuntut kejelasan nasib terkait penempatan formasi pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (P3K). Para peserta aksi merupakan guru yang telah lolos seleksi P3K. Namun hingga kini belum mendapatkan kejelasan. - (Edi Yusuf/Republika)

Ketua Umum PGRI Unifah Rosyidi mengajak para guru maupun dosen serta tenaga kependidikan untuk bangkit memulihkan pendidikan. Menurut dia, teknologi yang berkembang amat pesat perlu diiringi dengan kreativitas dan inovasi oleh para guru sehingga materi ajar dapat tetap relevan dengan kebutuhan siswa dan kehadiran guru selalu dinantikan siswa.

“Melalui kesempatan ini, saya juga menitipkan para guru kepada para pemimpin saat ini maupun yang akan datang untuk tetap berpihak pada guru,” kata dia.

Ribuan Guru Honorer Islam Masih Jadi PR

Sebanyak 1.074 guru Pendidikan Agama Islam (PAI) tingkat SD dan SMP se-Kabupaten Bogor masih berstatus honorer. Ribuan guru tersebut tengah menanti surat keputusan (SK) untuk segera diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Bogor, Agus Salim menyebutkan, masih ada 1.074 guru honorer PAI yang belum terakomodasi menjadi PPPK. Hal itu terjadi karena rekomendasi dan verifikasi yang tak kunjung selesai, sehingga masih menjadi pekerjaan rumah (PR) Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor.

“Masalahnya di mana? Dinas Pendidikan, Kementerian Agama (Kemenag), atau Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM)? Ternyata nggak terkejar saat ketok palu APBD 2023,” kata Agus Salim, Sabtu (3/12).

Agus menyebut, anggaran gaji PPPK untuk guru honorer PAI sebenarnya ada. Namun, secara aturan belum bisa dialokasikan dan ditetapkan. Dia pun berharap, pada APBD Perubahan 2023 nanti anggaran untuk PPPK guru PAI bisa dialokasikan. Sebab, ia merasa miris melihat kondisi guru di Kabupaten Bogor, terutama guru agama.

“Guru secara umum masih banyak guru honorer yang masih jadi PR kami. Karena kaitannya dengan pusat. Di sisi lain, guru agama jadi prioritas,” katanya.

Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Bogor, Dadeng Wahyudi, mempertanyakan komitmen pemerintah terhadap guru. Guru yang mendidik anak-anak bangsa justru kenyamanan hidupnya masih belum diperhatikan. “Bagaimana bisa jadi guru bangsa kalau insentifnya teu puguh (tidak jelas)?” kata Dadeng yang juga ketua Asosiasi Yayasan Pendidikan Islam (AYPI) Jawa Barat.

Ia pun menceritakan, beberapa waktu lalu, Guru Pendidikan Agama Islam (GPAI) Kabupaten Bogor mendatangi DPRD Kabupaten Bogor untuk menanyakan nasib SK-nya. Pihaknya pun menghadirkan Disdik Kabupaten Bogor, Kemenag Kabupaten Bogor, dan BKPSDM Kabupaten Bogor. Dadeng menyebut, saat itu terdapat kesalahan prosedur, yakni Disdik, Kemenag, dan BKPSDM saling melempar tanggung jawab.

photo
Puluhan guru honorer dari berbagai daerah di Jawa Barat menggelar aksi di depan Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (25/7/2022). Mereka meminta kejelasan terkait guru honorer yang sudah menjalani uji passing grade, tetapi belum kunjung diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Jumlah guru yang telah lulus passing grade di Jawa Barat mencapai 10.397 orang. Namun, hanya 6.425 yang mendapatkan kepastian penempatan. Selebihnya, belum pasti. - (Edi Yusuf/Republika)

“Akhirnya, kita mengadakan rembuk MoU antara Kemenag dan Disdik. Harus lewat Plt Bupati, sudah ditandatangani,” ujar dia.

Ketua Umum AYPI dan Pendiri Fajar Hidayah, Mirdas Eka Yora mengatakan, tantangan guru dalam mengajar ke depannya semakin berat. Sebab, saat ini guru dihadapkan dengan fenomena anak-anak yang terpengaruh penggunaan internet. Dia menyebut, anak didik yang terpengaruh penggunaan internet rata-rata berusia 5 hingga 8 tahun. Menurut Mirdas, internet memang membuat pembelajaran lebih mudah. Namun, tidak ada keseimbangan dalam kepribadian anak itu sendiri.

“Anak jadi eksplosif, egois, pacaran di usia dini, melakukan bullying (perundungan) dan kekerasan di usia dini. Ini fenomena baru terjadi, terdapat ketidakseimbangan dalam pertumbuhan anak,” kata Mirdas.

Mirdas menjelaskan, berdasarkan penuturan Ulama Besar, Abdullah bin Mubarak, mempelajari ilmu membutuhkan waktu 20 tahun. Namun dalam mempelajari adab diperlukan waktu 30 tahun. “Kami, guru agama, adalah yang paling bertanggung jawab. Kita harus memperbaiki cara kita mengajar,” ujar dia.

Bentuk Santri Lewat Kurikulum Tersembunyi

Pendidikan di Ponpes an-Nur Darunnajah 8 merujuk kepada kearifan Islam.

SELENGKAPNYA

Mengembalikan Pesona Planetarium Jakarta

Planetarium Jakarta kini tenggelam di antara bangunan gedung-gedung tinggi.

SELENGKAPNYA

Karya Seni dari Tenunan Ikat

Tenun ikat bukan sekadar kain yang bisa dibeli dan dinikmati, tapi juga wujud karya seni. 

SELENGKAPNYA