Siswa keluar dari gerbang sekolah di SDN Pondok Cina 1, Kota Depok, Jawa Barat, Selasa (15/11/2022). | Republika/Putra M. Akbar

Tajuk

Mencetak Generasi Berkarakter, Tugas Siapa?

Presiden menekankan, mentalitas dan karakter anak didik sangat penting untuk dibangun, sehingga mereka memiliki sikap santun, jujur, budi pekerti yang baik, dan juga peduli terhadap sesama.

Puncak Peringatan HUT ke-77 Persatuan Guru Republik Indonesia dan Hari Guru Nasional (HGN) 2022 di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (3/12).  Pada acara tersebut Presiden Joko Widodo  (Jokowi) meminta para tenaga pendidik untuk mencetak generasi yang unggul, baik dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi maupun dalam hal mentalitas dan karakter.

Presiden menekankan, mentalitas dan karakter anak didik sangat penting untuk dibangun, sehingga mereka memiliki sikap santun, jujur, budi pekerti yang baik, dan juga peduli terhadap sesama. “Ini yang terus harus kita bangun, sikap santun, jujur, budi pekerti yang baik, peduli terhadap sesama, kerja keras, dan mampu bergotong royong ini semakin penting untuk kita berikan kepada anak-anak kita,” ujar Jokowi.

Tak hanya itu, Presiden juga ingin generasi muda Indonesia memiliki karakter kebangsaan yang kuat, karakter Pancasilais yang moderat dan toleran, serta memahami Bhinneka Tunggal Ika.

Pertanyaannya, mampukah para guru mencetak generasi yang memiliki mentalitas dan karakter di era serbadigital sekarang ini? Inilah tantangan berat yang yang harus dihadapi paa guru di era serbainternet ini.

Mencetak generasi muda yang yang memiliki sikap santun, jujur, berbudi pekerti baik dan peduli terhadap sesama adalah tentu bukan hanya tugas para guru. Namun memang, sehari-hari anak menghabiskan waktunya di sekolah.

Selama beberapa jam di sekolah inilah, harapan para orang tua dan juga pemerintah ditumpukan kepada para guru untuk mendidik siswanya memiliki mentalitas dan karakter yang kuat dan baik.

 

 
Presiden menekankan, mentalitas dan karakter anak didik sangat penting untuk dibangun, sehingga mereka memiliki sikap santun, jujur, budi pekerti yang baik, dan juga peduli terhadap sesama.
 
 

 

Tapi, itu tak akan cukup. Membangun karakter dan mentalitas sebuah generasi bangsa ditentukan semua elemen. Guru, orang tua, pemerintah, lingkungan, penegak hukum, ulama dan tokoh agama, media massa, kalangan dunia usaha, serta organisasi kemasyarakatan. Tanpa dukungan semua elemen ini, berharap munculnya generasi muda yang benar-benar memiliki mentalitas dan karakter sangat sulit dicapai.

Mari kita tengok lingkungan sekitar kita. Pertama, kasus perundungan terhadap anak tak pernah sepi. Selalu ada saja kasus perundungan. Dan bahkan, modus perundungannya sudah semakin mengkhawatirkan, semakin sadis, dan tak sedikit anak-anak kita yang meninggal akibat dirundung.

Kedua, kasus tawuran antarpelajar kian brutal. Hampir di berbagai daerah muncul di pemberitaan media massa, pelajar dengan beragam jenis senjata tajam berkelahi di jalan-jalan, lapangan, bahkan gang. Sudah berapa jumlah anak-anak berseragam putih biru dan putih abu-abu yang tewas sia-sia akibat bacokan senjata tajam.

Ketiga, maraknya geng motor di berbagai kota di Tanah Air. Mereka rata-rata adalah pelajar SMP dan SMA. Konvoi menggunakan sepeda motor dalam kondisi mabuk dengan senjata tajam. Kalau tak membacok masyarakat yang berada di sekitarnya, ya tawuran dengan geng motor lainnya. Sudah berapa nyawa anak bangsa yang tewas sia-sia?

 
Propaganda gerakan yang tentu saja tak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan agama ini akan semakin berbahaya apabila dibiarkan.
 
 

Keempat, saat ini anak-anak bangsa dihadapkan pada gencarnya propaganda gerakan LGBT. Propaganda gerakan yang tentu saja tak sesuai dengan nilai-nilai Pancasila dan agama ini akan semakin berbahaya apabila dibiarkan. Lalu siapa yang membentengi anak-anak bangsa dari beragam propaganda gerakan ini?

Sekali lagi, berharap pada para guru boleh saja. Namun, peran guru saja tak akan cukup untuk membentengi anak-anak bangsa dari berbagai pengaruh buruk, khususnya yang muncul dari media sosial. Saat ini, anak-anak mengonsumsi beragam program tayangan di media sosial tanpa sensor.

Pakar komunikasi selalu mengingatkan, setiap program dan tayangan tak diproduksi dalam ruang hampa. Akan selalu ada nilai, kepentingan, dan ideologi yang disusupkan di dalamnya.  Dan anak-anak kita, mulai dari usia 1 tahun sudah mengonsumsi beragam tayangan melalui media sosial secara bebas, tanpa sensor.

Inilah momentum bagi bangsa Indonesia untuk menjaga, mengawal, dan membentengi moral anak-anak kita. Seluruh elemen harus terlibat dan merapatkan barisan. Itupun jika kita memang betul mendambakan lahirnya Generasi Emas Tahun 2045. 

Jangan Buru-buru Menikah Mengapa?

Cara komunikasi perlu menjadi refleksi bagi pasangan suami istri.

SELENGKAPNYA

Menjaga Tubuh Tetap Bugar

Setiap orang seharusnya tidak malas beraktivitas fisik selama pandemi demi menjaga kebugaran tubuh. 

SELENGKAPNYA