Cerpen Sebatang Kara | Daan Yahya/Republika

Sastra

Sebatang Kara

Di usia yang masih muda, Kara harus mencari gantungan hidup baru, setelah ibunya seakan tertelan bumi dan ayahnya perlahan terbakar matahari.

Oleh FATHUL WAHID

Beberapa malam setelah peristiwa itu, Kara sering terbangun tanpa sebab. Bukan mimpi buruk, bukan pula suara gaduh. Hanya perasaan kosong yang sulit dijelaskan. Rumah terasa utuh, tetapi tidak lagi menjadi tempat pulang. Ia kadang duduk di serambi sampai dini hari, mendengar suara jangkrik, berharap pintu terbuka dan ibunya memanggil seperti biasa. Namun yang datang hanya angin.

***

Di perkampungan yang sejuk, Kara dilahirkan di tengah keluarga yang tidak bisa dikatakan berkecukupan. Situasi ekonomi ketika itu masih karut-marut. Ibunya, ketika menikah masih belia, lebih muda empat belas tahun dari ayahnya.

Karena kemiskinan, kedua orang tuanya harus bekerja. Hasilnya pun tak seberapa. Namun rasa syukur menjadikannya cukup. Cukup karena keberkahan. Itulah mengapa harapan orang tuanya digantungkan ke dalam nama anaknya: Karamah. Mereka berharap anaknya kelak tumbuh menjadi manusia yang mulia dan dermawan.

Sejak kecil, Kara belajar dua cara mencintai kehidupan.

Ibunya mengajarinya berjalan kaki menyusuri kampung. Hampir setiap perjalanan selalu berhenti: di rumah orang sakit, rumah janda tua, atau ladang petani yang gagal panen.

“Kalau kita punya satu piring nasi,” kata ibunya, “setengahnya milik orang lain.”

Suatu sore Kara bertanya, “Kenapa Ibu membantu semua orang, bahkan yang tidak kenal?”

Ibunya tersenyum. “Bumi tidak memilih siapa yang boleh berpijak di atasnya. Maka manusia yang baik harus seperti bumi, menopang tanpa menghitung.”

Kara pernah memperhatikan tangan ibunya yang kasar karena sering mencuci dan memasak untuk orang lain. Ia baru sadar: ibunya hampir tidak pernah makan duluan. Sejak itu, ia diam-diam mengurangi porsinya sendiri, walau lapar. Ia ingin mengerti, meski belum sepenuhnya mampu.

Ayahnya berbeda. Ia bangun sebelum fajar, menyalakan lampu kecil, lalu membaca buku-buku tebal. Kara sering duduk di sampingnya. “Ayah, kenapa Ayah sering mengkritik kepala kampung?”

Ayahnya menutup buku perlahan. “Karena kekuasaan itu mudah lupa. Tugas orang berilmu bukan memusuhi penguasa, tetapi mengingatkannya.”

“Kalau dimarahi?”

“Lebih baik dimarahi penguasa daripada dimarahi hati nurani.”

Kara tumbuh di antara dua cahaya: kasih sayang ibunya dan ketegasan ayahnya.

Namun suatu hari, orang-orang berjas datang. Mereka membawa peta, angka, dan janji kesejahteraan. Bukit di belakang kampung, tempat mata air warga, dipasang patok.

Sejak patok pertama berdiri, Kara mulai merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya: orang-orang kampung saling curiga. Di warung kopi, percakapan terpecah. Sebagian berharap pekerjaan, sebagian takut kehilangan tanah. Untuk pertama kalinya ia melihat tetangga tidak saling menyapa.

Ibunya gelisah. “Air tidak bisa diganti uang,” katanya.

Ayah awalnya berdiri bersama warga. Dalam rapat kampung ia berkata tegas, “Pembangunan tidak boleh menghilangkan kehidupan.”

Orang-orang mengangguk. Kara bangga. Tetapi bulan-bulan berikutnya berubah. Ayah mulai sering ke kota. Tamu berdasi datang malam hari. Pembicaraan dilakukan dengan pintu tertutup. Suatu malam Kara mendengar percakapan orang tuanya.

“Kau sekarang jarang bicara di depan warga,” kata ibu pelan.

Ayah menarik napas panjang. “Kita diberi ruang masuk ke dalam. Kita bisa mengawasi dari sana.”

“Masuk ke dalam apa?”

“Ke lingkaran pengambil keputusan.”

Ibu menimpali pelan, “Pengaruh yang dibeli bukan pengaruh. Itu hanya jebakan untuk membungkam.”

Ayah tidak menjawab.

Malam itu Kara tidak bisa tidur. Ia mendengar suara sendok beradu pelan di dapur. Ibunya tidak makan, hanya duduk lama. Ia ingin memanggil ayahnya, tapi takut. Untuk pertama kalinya ia merasakan rumahnya terbelah, bukan oleh dinding, melainkan oleh pilihan.

Tambang akhirnya berjalan. Bukit digali. Tanaman dibabat. Sumber air terganggu. Sungai keruh. Ibunya berdiri bersama warga menghadang alat berat. Ia tidak berteriak, hanya berdiri.

Kara menggenggam tangannya. “Bu… mereka banyak.”

Ibunya menatap lurus ke depan. “Kebenaran tidak diukur dari jumlah.”

Kerusuhan pecah. Debu berterbangan, teriakan bersautan, dan kepanikan menyeruak. Setelah hari itu, ibunya tak pernah pulang lagi. Orang-orang berkata ia tertelan bumi. Bagi Kara, ibunya hanya kembali menjadi bumi yang selama ini ia bela.

Ayah datang ke pemakaman dengan pakaian rapi. Wajahnya tenang. Terlalu tenang. Setelah pemakaman, Kara menyentuh tanah kubur yang masih hangat. Ia berharap merasakan sesuatu: sedih, marah, atau tangis. Tetapi yang datang hanya sunyi. Ia takut, bukan karena kehilangan, melainkan karena ia belum mampu membenci siapapun.

Hari-hari berikutnya berjalan tanpa arah. Rumah tetap berdiri, perabot tetap di tempatnya, tetapi kehidupan seperti dicabut dari akarnya. Dapur jarang berasap. Tikar ruang tamu lebih sering tergulung. Bahkan suara ayahnya yang biasa membaca sebelum subuh tidak lagi terdengar setiap hari. Kara mulai mengerti: kehilangan tidak selalu berupa tangisan. Kadang ia hadir sebagai kekosongan yang menetap.

Beberapa minggu kemudian ayah menerima jabatan baru dalam lembaga yang mengelola proyek tambang.

Tidak lama setelah itu, seorang perempuan datang ke rumah mereka. Kara mengenal wajah itu. Ia pernah melihatnya duduk di ruang tamu, berbisik dengan orang-orang berjas ketika ayah masih sering menerima tamu malam hari. Dulu ia mengira perempuan itu hanya staf perusahaan. Kini ia datang tanpa rombongan, membawa tas kecil dan senyum yang hati-hati.

Ayah memperkenalkan, suaranya datar namun berusaha hangat. “Ini… nanti akan tinggal bersama kita. Dia akan banyak membantu urusan ayah.”

Kara mengangguk sopan. Ia berdiri agak jauh. Tidak ada amarah, tetapi juga tidak ada yang bisa ia katakan. Perempuan itu menyapanya lembut.

“Kamu Kara, ya? Ayahmu sering bercerita.”

Kara menjawab pelan, “Iya, Bu.”

Kara menghormatinya. Kara tahu, ayahnya mencintai perempuan itu. Ia tidak kasar. Ia bahkan sering menyiapkan makanan dan menanyakan sekolah Kara. Namun setiap kali Kara duduk di hadapannya, ia merasa seperti tamu di rumah sendiri. Tidak ada permusuhan, hanya jarak yang tak terlihat. Kara tidak bisa memanggilnya dengan akrab seperti dulu memanggil ibunya. Kata “Bu” keluar dari mulutnya, tetapi tidak pernah benar-benar sampai ke hatinya.

Suatu malam mereka makan bersama. Perempuan itu berkata, “Tambang sebenarnya bisa membawa kemajuan kalau dikelola baik. Banyak desa berkembang karena itu.”

Kara menatap piringnya lama sebelum menjawab pelan, “Kalau kemajuan membuat orang kehilangan air... itu kemajuan untuk siapa?”

Perempuan itu terdiam. Ayah tidak menyela. Ruang makan dipenuhi keheningan.

Sejak saat itu Kara menyadari sesuatu: ayahnya bukan hanya berubah karena jabatan, tetapi juga karena lingkungan baru yang kini mengelilinginya. Rumah mereka perlahan terasa seperti kantor kecil: penuh berkas, peta, dan pembicaraan proyek.

***

Pada sebuah sore, Kara menemui ayahnya di beranda.

“Ayah masih percaya pada yang dulu Ayah ajarkan?”

Ayah menatap matahari sore. “Kadang kita harus berkompromi agar tetap punya pengaruh.”

Kara menggeleng. “Kalau pengaruh membuat kita berhenti membela yang lemah, itu pengaruh atau kehilangan?”

Ayah terdiam. Cahaya matahari menyilaukan wajahnya.

Sejak itu, Kara merasa ayahnya terbakar matahari karena terlalu dekat dengan cahaya kekuasaan hingga tak lagi melihat bayangan penderitaan di tanah.

***

Kara yang mulai beranjak dewasa, kini berjalan sendiri. Ia mengajar anak-anak membaca di langgar kecil. Ia menulis keluhan petani, membantu warga mengurus air, dan menemani ibu-ibu ke balai desa. Kadang ia lelah. Kadang ia ragu. Tetapi setiap kali ingin berhenti, ia teringat tangan ibunya yang kasar dan suara ayahnya di subuh hari.

Seorang teman berkata, “Kau melawan sendirian. Tidak takut?”

Kara tersenyum. “Aku tidak sendirian. Aku berpijak di bumi yang mengajariku peduli dan tersinari matahari yang mengajariku berani.”

“Lalu ayahmu?”

Kara terdiam sebentar. “Ayahku masih ada. Hanya saja, aku menunggunya pulang.”

Kara menatap bekas bukit yang menjadi lubang besar. Angin membawa suara anak-anak mengaji dari langgar kecil di tepi sungai.

“Ibuku mengajariku peduli. Ayahku mengajariku berani. Kalau mereka berhenti, bukan ajarannya yang harus berhenti.”

Kara lalu berbisik pada dirinya sendiri, “Ketika panutan hilang, mungkin itu tanda kita harus dewasa.”

Sejak hari itu, Karamah, tidak lagi sekadar nama. Ia menjadi sikap: kemuliaan yang tidak diwariskan, tetapi diperjuangkan. ***

Fathul Wahid adalah seorang warga kampu sekaligus pecinta dan pembelajar sastra.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat