Tips Menjalankan Hidup Hemat Ala Syariat | Freepik

Laporan Utama

Utamakan yang Prioritas

Hidup hemat bukan hanya saat menjelang resesi.

Konsep hemat bukan berarti pelit atau kikir sebagaimana yang dilarang dalam agama. Hemat berarti memiliki dan menentukan prioritas keuangan yang dialihkan untuk porsi-porsi tertentu, baik konsumsi maupun kebutuhan yang sifatnya sekunder.

Peneliti ekonomi syariah dari Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (SEBI), Azis Setiawan, mengatakan, di tengah ancaman resesi ekonomi dunia maka setiap individu sebaiknya mulai mengatur kembali skala prioritas keuangan yang dimiliki. Meskipun ancaman resesi tersebut masih dalam kategori makro, tidak ada salahnya untuk membentengi diri dengan mengatur keuangan kembali.

“Tentu semua orang menghadapi tantangan resesi, maka menghadapinya harus hati-hati. Salah satu bagian yang perlu dijalankan adalah bersifat hemat. Ini hal yang positif, karena bagi orang yang beriman, dia akan meninjau kembali mana yang prioritas tentang kebutuhan karena ini sangat esensial,” kata Azis saat dihubungi Republika, Rabu (30/11).

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (@republikaonline)

Menurut dia, menjalankan pola hidup hemat juga bukan berarti harus dilakukan saat momentum tertentu saja, seperti hadirnya resesi. Di tengah kondisi ekonomi baik-baik saja pun, kata dia, sudah sewajarnya setiap individu mempersiapkan dan mempertimbangkan lagi kebutuhan prioritas untuk dikonsumsi.

Sebab, menurut dia, dalam ekonomi Islam terdapat tiga aspek penting yang harus dipahami. Yakni aspek kebutuhan, keinginan, dan aspek syahwat ekonomi. Dia menekankan, aspek kebutuhan dasar harus menjadi prioritas yang tidak boleh diintervensi oleh aspek keinginan.

“Maka ketika ada resesi, misalnya jika sebelumnya seseorang pola konsumsinya dikendalikan oleh syahwat konsumsi, hedonisme, maka prinsip hemat menjadi hal yang positif. Ini ajaran konsepsi Islam yang mendasar,” kata dia.

 
Jika sebelumnya seseorang pola konsumsinya dikendalikan oleh syahwat konsumsi, hedonisme, maka prinsip hemat menjadi hal yang positif. 
AZIS SETIAWAN Peneliti Ekonomi Syariah SEBI
 

Maka, bagaimana caranya untuk mengatur keuangan? Azis mengatakan, bahwa selain menentukan kebutuhan belanja prioritas, maka seseorang juga harus menjauhkan syahwat belanja hedonismenya. Di sisi lain, dia mengingatkan bahwa dalam melihat gejolak ekonomi pada masa mendatang yang sewaktu-waktu dapat menghadapi turbulensi, dana darurat bisa dipersiapkan.

Jika biasanya dana darurat hanya dipersiapkan untuk cadangan selama 5-6 bulan, dia menekankan, untuk menambahkan masa cadangan dana darurat lebih lama. Mengingat pengalaman pandemi selama lebih dari dua tahun yang mengguncang ekonomi dunia berdampak langsung kepada kehidupan rumah tangga atau mikro.

Selain perlu mengatur prioritas, mempersiapkan dana darurat, setiap individu juga harus bersikap optimistis. “Di tengah situasi ekonomi yang gelap badai, biasanya akan ada peluang. Jadi jangan takut berlebih, harus melihatnya optimistis. Setiap krisis biasanya ada peluang,” kata dia.

photo
Kewajiban berzakat bagi kaum Muslim merupakan bentuk dasar pengembangan akhlak untuk menjauhi sifat pelit. - (Pixabay)

Berhemat bukan pelit

Setelah kebutuhan mendasar dapat terpenuhi, seseorang harus menunaikan ibadah sosial, seperti zakat. Berhemat bukan berarti menjadikan seseorang bersikap pelit. Diperlukan porsi pendapatan untuk kebutuhan mendasar, bersenang-senang, dan kebutuhan bersedekah.

 
Ada pula bakhil yang sifatnya tidak baik dalam etika sosial, yakni abai dan enggan menyisihkan harta kepada orang-orang yang membutuhkan.
KH AHSIN SAKHO Pakar Ilmu Alquran
 

Pakar ilmu Alquran, KH Ahsin Sakho, mengatakan, level pelit itu terbagi-bagi. Ada bakhil (pelit) yang sifatnya berdosa, yakni orang pelit yang tidak mau memberikan zakat meskipun itu wajib. Padahal konsep hemat itu sendiri bukan untuk menjadikan orang kikir, namun untuk mengatur kebutuhan agar tidak hidup berlebih-lebihan. “Ada pula bakhil yang sifatnya tidak baik dalam etika sosial, yakni abai dan enggan menyisihkan harta kepada orang-orang yang membutuhkan,” kata dia.

Terhadap orang-orang tersebut, kata Kiai Ahsin, agama sangat melarang sikap-sikap demikian. Bahkan, dalam suatu kesempatan, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Laisa minna, laisa minna.” Yang artinya, “Orang yang pelit itu) bukan bagian dari kami.”

Adu Strategi Hadapi Resesi

Ekonomi digital diharapkan bisa menjadi tumpuan berbagai sektor lain di tengah resesi.

SELENGKAPNYA

Zakat Penyelamat Resesi

Dengan bantuan riil, setidaknya mustahik mampu bertahan di situasi kritis saat resesi.

SELENGKAPNYA

Antisipasi Resesi, Cek Finansial Anda

Tinjau kembali pengeluaran selama ini dan mulailah berhemat.

SELENGKAPNYA