Pedagang merapikan beras di kiosnya di Pasar Kosambi, Kota Bandung, Senin (7/11/2022). Bank Indonesia melalui Survei Pemantauan Harga, inflasi pada pekan pertama November 2022 diperkirakan sebesar 0,08 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Komoditas | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

Tajuk

Polemik Stok Beras

Harga beras sejak Juli lalu sampai November terus mengalami kenaikan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat komoditas beras masih mengalami inflasi hingga November 2022. Deputi Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Setianto, menjelaskan laju inflasi beras hingga November, mencapai 0,37 persen month to month (mtm). Kendati demikian, angka inflasi itu lebih kecil dari periode Oktober yang mencapai 1,13 persen mtm.

Data BPS menyebutkan, inflasi beras pada Juli 2022 sebesar 0,05 persen mtm, kemudian meningkat jadi 0,54 persen mtm di periode Agustus. Memasuki September, inflasi beras melonjak 1,44 persen mtm dan mulai turun menjadi 1,13 persen pada Oktober.

Jika kita melihat data inflasi BPS yang dirilis, Kamis (1/12), terjadi penurunan laju inflasi komoditas beras pada November. Walaupun demikian, penurunan laju inflasi tersebut tidak berarti harga beras pada November ini tidak mengalami kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya. Harga beras sejak Juli lalu sampai November terus mengalami kenaikan. Harga beras premium pada November sebesar Rp 11.877 per kilogram, naik dari Oktober yang sebesar Rp 11.837.

 
Harga beras sejak Juli lalu sampai November terus mengalami kenaikan.
 
 

Deputi Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Setianto, mengatakan kenaikan harga beras dalam empat bulan terakhir dipengaruhi oleh efek musiman, seperti penurunan produksi beras menjelang akhir tahun dan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM).

Khusus untuk November, produksi beras diproyeksi mencapai 2,24 juta ton atau turun dari periode Oktober sebesar 2,43 juta ton. Faktor penawaran dan permintaan secara umum menjadi penyebab kenaikan harga beras akhir tahun ini. Di sisi lain, terdapat kenaikan biaya produksi di tingkat produsen, yang berdampak pada harga jual kepada konsumen.

Kita berharap kenaikan harga beras dapat dikendalikan pemerintah. Sebab, beras merupakan makanan pokok masyarakat. Kenaikan harga beras sebesar berapa pun akan sangat memukul masyarakat luas. Terutama masyarakat kelas menengah ke bawah yang pendapatannya terbatas. 

Perlunya  mengendalikan  harga beras juga karena pemerintah saat ini sedang menjaga laju inflasi. Sangat penting bagi pemerintah untuk mengendalikan inflasi agar daya beli masyarakat tidak melemah. Karakter pertumbuhan ekonomi kita yang kontribusi utamanya konsumsi rumah tangga, membuat pemerintah harus terus mempertahankan daya beli masyarakat.

 
Kita berharap kenaikan harga beras dapat dikendalikan pemerintah. Sebab, beras merupakan makanan pokok masyarakat.
 
 

Jika daya beli masyarakat terjaga, Indonesia diharapkan mampu menghadapi kondisi ekonomi global yang penuh ketidakpastian akibat perang Rusia-Ukraina. Karena kita sama-sama tahu, hasil pertemuan G-20 di Bali November lalu hampir semua kepala negara menyampaikan perlu kerja ekstra untuk bisa lepas dari ancaman resesi ekonomi pada 2023. Lembaga ekonomi dunia, seperti IMF dan Bank Dunia, pun sudah memprediksi suramnya ekonomi tahun depan yang akan melanda Eropa, Amerika, dan sejumlah negara lainnya.

Untuk itu, persoalan beras ini menjadi amat penting diseriusi pemerintah.  Jangan sampai pemerintah terlena sehingga harga beras melonjak tinggi dan butuh waktu untuk dapat mengendalikannya. Bila kenaikan harga beras akibat distribusi yang tersendat, untuk memulihkannya membutuhkan waktu yang lebih singkat. Sebab, ketika distribusinya kembali normal maka harga akan kembali bisa dikendalikan, sejalan dengan persoalan beras yang lancar ke masyarakat.

Yang harus sangat dikhawatirkan ketika kenaikan harga akibat produksi beras nasional turun dan lebih kecil dari permintaan. Apabila kenaikan harga beras selama empat bulan terakhir ini karena masalah produksi yang turun, pemerintah harus sangat waspada.

Sebab, mengendalikan harga beras akibat produksi beras di bawah konsumsi butuh waktu yang tak singkat untuk menormalkan. Lamanya waktu tersebut, antara lain karena untuk mencukupi kebutuhan beras nasional harus ditutupi dengan impor. Sedangkan proses impor membutuhkan waktu sekitar tiga bulan sampai produk beras tersebut ke masyarakat.

 
Yang harus sangat dikhawatirkan ketika kenaikan harga akibat produksi beras nasional turun dan lebih kecil dari permintaan.
 
 

Karena itu, pemerintah harus menemukan penyebab utama harga beras yang naik dalam empat bulan ini. Dari situ barulah pemerintah mengambil langkah apa yang harus dilakukannya. Kita tidak ingin saling klaim di antara instansi mengenai stok beras di dalam negeri.

Jangan sampai klaim Kementerian Pertanian yang menyebutkan, stok beras nasional sangat mencukupi, tapi kenyataan di masyarakat, harga beras terus naik.

Apalagi, BPS pun telah mengeluarkan data produksi beras nasional. Data Kerangka Sampel Area (KSA) BPS memperkirakan, produksi beras pada November mencapai 2,2 juta ton dan Desember 1 juta ton sehingga totalnya sekitar 3 juta ton. Adapun kebutuhan konsumsi beras sekitar 2,5 juta ton per bulan atau 5 juta ton di dua bulan terakhir 2022, sehingga terdapat selisih defisit sekitar 2 juta ton. 

Muzakarah Haji Dorong Penyesuaian Bipih

Muzakarah juga merekomendasikan larangan penggunaan dana talangan untuk berhaji.

SELENGKAPNYA

Jalur Tambang Parung Panjang-Rumpin Segera Dibangun

Jalur tambang sudah dilaksanakan empat tahun lalu

SELENGKAPNYA

Anggaran Belanja Produk UMKM Capai Rp 3 Triliun

Pelaku UMKM diajak memanfaatkan kesempatan tersebut dengan melengkapi legalitas usaha.

SELENGKAPNYA