Perempuan Palestina mengenakan kalung kunci yang merupakan lambang peringatan terusirnya ratusan ribu warga Palestina oleh Israel pada 1948. | EPA-EFE/WAEL HAMZEH

Internasional

PBB akan Peringati Nakba

PBB akan memperingati Nakba di Aula Majelis Umum pada 15 Mei 2023.

WASHINGTON – Majelis Umum PBB telah mengadopsi lima resolusi terkait isu Palestina dan Timur Tengah, Rabu (30/11). Pada salah satu resolusi, Majelis Umum PBB mengatakan akan memperingati 75 tahun Nakba, yakni momen terusirnya ratusan ribu warga Palestina dari tempat tinggalnya ketika Israel berdiri pada 1948.

Resolusi pertama yang diadopsi Majelis Umum PBB berjudul “Peaceful Settlement of the Question of Palestine”. Resolusi tersebut menyerukan Israel segera menghentikan semua kegiatan permukiman ilegalnya, termasuk penghancuran rumah dan penyitaan tanah milik warga Palestina. Israel pun diminta menghentikan penahanan dan penangkapan sewenang-wenang terhadap warga Palestina.

Lewat resolusi itu, Majelis Umum PBB juga menekankan perlunya untuk segera mengerahkan upaya kolektif guna meluncurkan negosiasi yang kredibel pada semua isu masalah status akhir dalam konflik Israel-Palestina. Proses tersebut harus dilakukan para pihak berdasarkan resolusi-resolusi PBB yang relevan, termasuk resolusi Dewan Keamanan 2334 pada 2016, kerangka acuan Madrid, Prakarsa Perdamaian Arab, dan peta jalan Kuartet Internasional.

Majelis Umum PBB juga mengadopsi resolusi berjudul “Division for Palestinian Rights of the Secretariat”. “Majelis (Umum) meminta Divisi tersebut untuk mendedikasikan kegiatannya pada 2023 untuk peringatan 75 tahun Nakba, termasuk dengan menyelenggarakan acara tingkat tinggi di Aula Majelis Umum pada 15 Mei 2023,” demikian bunyi keterangan pers yang dipublikasikan PBB di situs resminya.

Selain itu, Majelis Umum PBB juga mengadopsi bertajuk “Committee on the Exercise of the Inalienable Rights of the Palestinian People” dan “Special Information Programme on the Question of Palestine of the Department of Global Communications of the Secretariat”.

“Dengan ketentuan teks terakhir, Majelis (Umum) mengutuk pembunuhan jurnalis Palestina-Amerika Shireen Abu Akleh dan menyambut baik keputusan PBB untuk menghormati warisannya dengan mengganti nama program pelatihan menjadi ‘Shireen Abu Akleh Training Programme for Palestinian Broadcasters and Journalists’,” kata PBB dalam situsnya.

photo
Kepolisian Israel memukuli pembawa peti jenazah jurnalis Shireen Abu Akleh dalam prosesi pemakaman di Yerusalem, Jumat (135/2022). Abu Akleh gugur dibunuh tentara Israel saat meliput penggerebekan di Tepi Barat. - ( AP Photo/Maya Levin, File)

Kemudian resolusi terakhir yang diadopsi Majelis Umum PBB adalah “The Syrian Golan”. “Majelis menyatakan bahwa keputusan Israel pada 14 Desember 1981 untuk memberlakukan hukum dan yurisdiksinya di (Dataran Tinggi) Golan Suriah yang diduduki adalah batal demi hukum dan tidak memiliki validitas serta meminta Israel untuk membatalkannya,” katanya.

Delegasi Israel mengkritik pengadopsian resolusi-resolusi tersebut oleh Majelis Umum PBB. Menurutnya, serangkaian resolusi itu hanya bertujuan menyalahkan Israel atas segala sesuatu di Timur Tengah, termasuk yang terjadi di Palestina.

“Konflik ini (Israel-Palestina), seperti konflik lainnya, dapat diselesaikan dengan satu cara, dan hanya satu cara, yakni dengan kedua belah pihak duduk di meja perundingan,” katanya, tanpa menyebut pihak ketiga.

Sementara itu Palestina, yang hanya berstatus sebagai negara pengamat di Majelis Umum PBB, menyambut langkah badan tersebut mengadopsi resolusi yang akan memperingati 75 tahun Nakba. Palestina menilai, dengan pengadopsian resolusi itu, Majelis Umum PBB akhirnya mengakui ketidakadilan sejarah yang menimpa rakyat Palestina.

Palestina menegaskan, tidak ada solusi dua negara tanpa berdirinya negara mereka yang merdekan dan berdaulat. Yaitu dengan batas wilayah sesuai garis perbatasan sebelum Perang 1967 yang meliputi Tepi Barat dan Jalur Gaza, dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.

Israel Mutasi Batalion Netzah Yehuda

Militer Israel pada Rabu (30/11) memutasi unit tentara ultra-Ortodoks dari wilayah pendudukan Tepi Barat. Unit tentara tersebut dimutasi setelah seorang pria Palestina-Amerika berusia 78 tahun yang ditangkap oleh unit itu tewas.

photo
Tentara Palestina menembakkan gas air mata ke arah warga Palestina yang memeringati Nakba di Nablus, Tepi Barat, pada 2020. - (EPA-EFE/ALAA BADARNEH)

Militer Israel mengatakan, Batalyon Netzah Yehuda akan dipindahkan ke Dataran Tinggi Golan pada akhir tahun. Namun, unit itu akan kembali ke Tepi Barat pada akhir tahun depan. Menurut militer Israel, mutasi Batalyon Netzah Yehuda diambil karena untuk mendiversifikasi penyebaran operasional di berbagai area.

Militer Israel tidak menyinggung kematian Omar Assad dalam pengumuman pemindahan unit tersebut. Assad meninggal setelah ditahan, diborgol dan ditutup matanya oleh tentara Israel.

Netzah Yehuda atau "Judea Forever", adalah unit khusus untuk tentara Yahudi ultra-Ortodoks.  Unit tersebut dibentuk untuk mendorong para religius, yang sering mendapat pengecualian khusus dari wajib militer, untuk bergabung dengan tentara. Tetapi para anggotanya telah terlibat dalam kasus-kasus pelecehan di masa lalu.

photo
Warga Palestina membawa bendera raksasa dalam peringatan Nakba di Ramallah, Tepi Barat, Ahad (15/5/2022). - (AP/Majdi Mohammed)

Januari lalu, pasukan Netzah Yehuda menahan Assad di sebuah pos pemeriksaan. Assad diikat tangannya dan ditutup matanya.  Pasukan Israel kemudian melepaskan ikatan tangan Assad dan meninggalkannya dalam posisi tertelungkup di sebuah bangunan kosong.

Assad yang sempat tinggal di AS selama empat dekade, meninggal di rumah sakit setelah seorang warga Palestina menemukannya tidak sadarkan diri.  Tidak diketahui kapan tepatnya Assad meninggal dunia.

Otopsi yang dilakukan oleh dokter Palestina menemukan Assad menderita kondisi kesehatan yang mendasarinya. Tetapi dokter juga menemukan memar di kepalanya, kemerahan di pergelangan tangannya karena diikat, dan pendarahan di kelopak mata karena matanya ditutup rapat.

Setelah protes dari Pemerintah AS, militer Israel menyebut insiden itu akibat dari kegagalan moral dan pengambilan keputusan yang buruk di pihak tentara. Seorang tentara menerima teguran dan dua tentara lainnya dipindahkan ke peran non-komando, atas insiden tersebut..

Kripto, Alat Bayar atau Komoditas?

Kripto merupakan alat bayar atau komoditas bergantung pada putusan otoritas fatwa dan regulator.

SELENGKAPNYA

Adu Strategi Hadapi Resesi

Ekonomi digital diharapkan bisa menjadi tumpuan berbagai sektor lain di tengah resesi.

SELENGKAPNYA

IFA 2022 Berikan 41 Penghargaan Kedermawanan

Proses penjurian IFA 2022 berjalan secara netral, objektif, berintegritas, dan adil

SELENGKAPNYA