KH Sodiq Hamzah | Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Asshodiqiy

Khazanah

KH Shodiq Hamzah, Raih Doktor HC Berkat Tafsir Bahasa Jawa

Tafsir ini menggabungkan antara tradisi penulisan Jawa pegon dengan tulisan Latin.

OLEH S BOWO PRIBADI

Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Semarang, menganugerahkan gelar doktor Honoris causa (HC) Bidang Ilmu Tafsir Alquran kepada Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Asshodiqiyah Semarang, KH Shodiq Hamzah.

Kiai Shodiq dinilai memiliki peran yang sangat besar dalam melestarikan risalah Alquran dengan spirit kearifan lokal ‘kekinian’ dan ‘kedisinian’ melalui berbagai karya ilmiahnya.

Salah satunya adalah tafsir al-Bayan fi Ma’rifati Ma’ani Alquran (30 juz) yang ditulis menggunakan Bahasa Jawa Kromo. Selain itu, masih banyak lagi karya dari alumnus Ponpes Futuhiyyah, Mranggen, Kabupaten Demak, ini.

Sebut saja, di antaranya Zubdat al-Bayan fi Bayani Fadha’il Suwar Alquran, Dzilal al-Manazil fi TarjamatiYasin wa Tahlil, Qalbu Alquran, Al-Qawaid as-Saniyah fi al-Masail an-Nahwiyah, Al-Qawaid al-Mi’ah Li Barqi al-talabah Fi Fahmi al-‘Ulum al-Nahwiyah, Mutammimat al-Sarfiyah Fi’Ilm al-Saraf, Kamus Amiyah, Kamus Haji, dan masih banyak lagi.

photo
Sejumlah santri mengikuti kajian kitab kuning di Pondok Pesantren Darul Amin, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Selasa (27/4/2021). Pada saat bulan suci Ramadhan mengaji kitab kuning merupakan salah satu tradisi pesantren untuk memperdalam ilmu agama antara lain yaitu tafsir Al Quran fikih, akidah, ibadah, tasawuf, dan muamalah. - (ANTARA FOTO/Makna Zaezar)

Dalam pidato penganugerahan Doctor HC berjudul “Al-Qur’an dan Spirit Bilisani Qaumih; Ikhtiar Melestarikan Risalah Agama dalam Bingkai Kearifan Lokal”, Kiai Shodiq memaparkan, sejauh ini sudah banyak kitab tafsir yang dihasilkan para ulama dengan beragam konsentrasi dan kekhasannya. Namun, tidak dapat dimungkiri, tidak semua kitab tafsir tersebut mudah diakses oleh semua kalangan, khususnya masyarakat awam karena berbagai faktor.

“Salah satunya adalah bahasa, sebagai sarana untuk memaknai,” kata dia di Auditorium II Kampus 3 UIN Walisongo Semarang, Selasa (29/11).

Persoalan ini telah diupayakan oleh ulama terdahulu seperti KH Sholeh Darat (Syekh Muhammad Shalih Ibnu Umar al-Samarani) dengan karya Tafsir Faidh Rahman fi Tarjamah Tafsir Kalam al-Maliki Dayyan yang ditulis dalam bahasa Jawa (Arab pegon) pada 1894 (1312 H). Merujuk mukadimah kitab tafsir al-Ibriz KH Bisri Mustofa, kata dia, penulisan tafsir ke dalam bahasa Jawa tidak lain untuk memudahkan pemahaman masyarakat Jawa dalam memaknai kandungan Alquran.

Menurutnya ada tiga hal penting yang menjadi dasar pemikiran ini, yakni fleksibilitas Alquran melalui ragam lughah dan qiraat guna mengakomodasi perbedaan karakteristik masyarakat, jati diri Alquran yang mudah diakses oleh berbagai kalangan, serta landasan pemikiran yang perlu diperhatikan penafsir Alquran sebagai penyampai risalah agama.

 
Pemahaman kedisinian mengajak seseorang yang akan menafsirkan Alquran mampu menghadirkan penafsiran yang menjawab problem masyarakat lokal.
KH SODIQ HAMZAH Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Asshodiqiyah Semarang
 

Sampai saat ini, kata dia, banyak  kitab tafsir yang dihasilkan para ulama dengan jumlah halaman yang sangat tebal dan di dalamnya tertuang banyak wawasan, informasi yang menunjukkan kepakaran seorang mufasir. Namun, bisa jadi belum banyak mengandung jawaban dari masalah sederhana yang dialami masyarakatnya.

“Karena itu, pemahaman kedisinian mengajak seseorang yang akan menafsirkan Alquran mampu menghadirkan penafsiran-penafsiran yang dapat menjawab problem yang dialami masyarakat lokal tempat ia hidup dan menyajikannya dengan bahasa yang mudah dimengerti,’’ kata dia.

Untuk itu, ia mencoba memberikan sumbangsih melalui tafsir al-Bayan yang dalam penulisannya menggabungkan antara tradisi penulisan Jawa pegon dengan tulisan Latin. Harapannya, siapa pun masyarakat Jawa, baik yang dari kalangan pesantren ataupun tidak, tetap dapat mengambil manfaat dari kitab ini.

Maroko Hidupkan Peluang ke Babak 16 Besar

Kroasia menunjukkan kekuatan dan kualitasnya ketika mengalahkan Kanada, 4-1.

SELENGKAPNYA

Penentuan di Laga Pemungkas

Belanda, Ekuador, dan Senegal sama-sama berpeluang ke babak 16 besar.

SELENGKAPNYA

Masa Pencarian Korban Gempa Cianjur Diperpanjang

Tren kasus penyakit pada warga yang mengungsi mulai mengalami penurunan.

SELENGKAPNYA