Prof Rully Charitas Indra Prahmana | DOK IST

Hiwar

Tren Mutakhir Pendidikan Matematika Menurut Prof Termuda

Prof Rully Charitas Indra Prahmana adalah guru besar termuda se-Indonesia dalam bidang pendidikan matematika.

Baru-baru ini, kabar luar biasa datang dari Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta. Salah seorang dosen setempat diangkat menjadi guru besar dalam bidang ilmu pendidikan matematika. Hebatnya, ia masih berusia 35 tahun lebih tujuh bulan ketika menyandang gelar profesor.

Sang dosen bernama lengkap Prof Rully Charitas Indra Prahmana. Alhasil, wakil ketua Indonesian Mathematics Educators Society (I-MES) itu diganjar penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Ia diakui sebagai guru besar termuda dalam bidang pendidikan matematika di Tanah Air.

“Catatan MURI, profesor termuda pada Mei 2022 berusia 39 tahun dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa. Alhamdulillah, sejak November 2022 rekor terpecahkan oleh saya, dalam usia 35 tahun,” ujar Rully Charitas.

Dalam usia yang belum “kepala empat”, dirinya telah sarat pengalaman di dunia akademis. Dalam beberapa tahun terakhir, tuturnya, ia menekuni beberapa metode yang diyakininya sebagai tren mutakhir pendidikan matematika.

Seperti apakah metode-metode kekinian yang dimaksud? Lantas, bagaimana dosen atau dunia kampus secara keseluruhan dapat mencetak guru-guru matematika yang andal di masa depan? Untuk menjawabnya, berikut petikan wawancara yang dilakukan wartawan Republika, Muhyiddin, dengan pria kelahiran Medan, Sumatra Utara, itu beberapa waktu lalu.

photo
Prof Rully Charitas Indra Prahmana memecahkan rekor MURI sebagai profesor termuda se-Indonesia. - (DOK IST)

Bagaimana mulanya Anda tertarik pada dunia akademik?

Awalnya, saya mengambil jurusan S1 ilmu matematika murni di UGM. Begitu lulus, saya sempat bekerja pada sebuah lembaga riset dan beberapa perusahaan. Namun, belakangan saya merasa bahwa passion saya bukan di situ (dunia kerja).

Lalu, saya diajak oleh seorang kakak angkatan di Ikahimatika (Ikatan Himpunan Mahasiswa Matematika Indonesia). Ia menyarankan saya untuk mengajar di Universitas Muhammadiyah Makassar. Sejak itulah, saya menemukan passion. Senang rasanya menjadi dosen dan mengajarkan ilmu. Seorang dosen saya di UGM lalu menasihati saya agar sekolah lagi, meneruskan ke jenjang S2 hingga S3.

Mengapa memilih bidang pendidikan matematika?

Sebab, saya memang senang bidang ilmu tersebut. Makanya, saya “banting setir” dari (menekuni) matematika murni di S1 kepada pendidikan matematika. Kebetulan, saat itu saya mendapatkan beasiswa untuk belajar di bidang tersebut.

Saya menemukan keseruan dan kenikmatan dalam mengajarkan matematika. Hal itu terutama sejak saya mengenal sebuah metode pembelajaran Realistic Mathematics Education (RME) kala studi S2. Begitu pula dengan Ethnomathematics usai saya lulus studi doktoral.

Kedua pendekatan pembelajaran itu menginspirasi saya untuk mengajarkan matematika dengan baik kepada para siswa. Harapannya, mereka tidak takut lagi dengan matematika. Dengan metode-metode itu, guru dapat menghadirkan matematika secara lebih menyenangkan, semisal mengaitkannya dengan budaya-budaya yang ada di konteks para murid. Saya menamakan itu pendekatan Ethno-Realistic Mathematics Education (E-RME).

Setujukah Anda bila dikatakan, guru berperan sentral dalam menanamkan kecintaan murid pada matematika?

Setuju sekali. Sejak awal menjadi dosen, saya bercita-cita ikut melahirkan para calon guru matematika yang baik. Saya selalu memberi wacana kepada para mahasiswa agar mereka mempelajari metode pembelajaran. Dengan begitu, pengajaran matematika bisa lebih menarik perhatian siswa. Murid menjadi senang belajar matematika. Itu yang harus digarisbawahi.

Saya memang berfokus pada E-RME, tetapi tidak menganggap metode itu yang paling benar. Ada banyak metode lain, semisal Cooperative Learning, Project-based Learning, Problem-based Learning, atau STEM Education. Persoalannya, kebanyakan guru hendak mempelajari semuanya sekaligus. Jadi, tidak ada yang dijadikan fokus.

Saran saya, pilihlah satu yang paling mengena di hatimu. Kemudian, pelajarilah itu secara komprehensif. Akhirnya, implementasikan metode tadi di kelas. Seorang profesor saya di Belanda pernah mengatakan, segala metode, strategi, atau pendekatan itu baik. Asalkan, kamu percaya bahwa itu bisa digunakan dalam kegiatan belajar-mengajar di kelasmu. Intinya, you must believe in your method.

Bagaimana kampus dapat mencetak (calon) guru matematika yang ideal?

Kampus berperan dalam memberikan pola pikir atau pandangan kepada para calon guru tentang berbagai macam metode yang bagus untuk mengajarkan matematika. Tiap dosen pun biasanya memiliki keahlian masing-masing.

Misal, di UAD. Ada Dr Andriyani, yang ahli dalam pembelajaran untuk anak-anak yang berkebutuhan khusus. Kemudian, ada Dr Peni, yang pakar dalam pendekatan Ethnomathematics. Prof Dwi, ahli multimedia. Prof Suparman mengenai pengembangan bahan ajar interaktif. Jadi, tiap orang punya expertise.

Nah, para mahasiswa sebagai calon guru di masa depan dapat belajar kepada para ahli. Dengan begitu, sejak masih di kampus mereka punya perspektif yang luas ihwal macam-macam metode pembelajaran matematika. Nantinya, mereka ketika menjadi guru bisa memilih metode yang paling cocok untuk diterapkan di kelas.

Istilah guru profesional, menurut saya, berarti guru yang sudah selesai dengan dirinya dalam mempelajari suatu metode pembelajaran. Dan, ia pun bisa menerapkan metode yang dipilihnya.

Di samping itu, kampus pun dapat menyediakan “laboratorium hidup”, yakni dengan memberikan sekolah-sekolah model atau sekolah-sekolah kerja sama. Jadi, mahasiswa bisa melakukan observasi dan percobaan mengajar.

Seperti apa tren pendidikan matematika yang mutakhir?

Tren pendidikan itu selalu bergerak dinamis. Memang, dalam beberapa dekade terakhir, ada kecenderungan untuk pendidikan yang berbasis teknologi digital. Hal itu pun terstimulus pula oleh adanya pandemi Covid-19. Para ahli menyebutnya “metode pembelajaran abad ke-21”, “metode berbasis Internet of Things (IoT)”, atau “Blended-learning".

Namun, lagi-lagi core itu semua mesti dilihat terlebih dahulu. Misalnya, apa perangkat yang digunakan dalam tren pendidikan matematika di masa depan? Karena saya menekuni Realistic Mathematics Education dan Ethnomathematics, saya katakan, dua metode itulah yang paling bagus. Tren ke depan ya seputar itu atau memang arahnya ke sana.

Melihat pada fenomena kini, saya mempersiapkan kedua topik agar dapat dilakukan digitalisasi. Ada beberapa platform digital yang sedang saya kombinasikan. Itulah yang nanti saya coba terapkan ke dalam pendekatan Realistic Mathematics Education dan Ethnomathematics.

Ada beberapa aplikasi pendukung yang bisa disebutkan di sini. Umpamanya, MathCityMap atau Geogebra. Ketika itu sudah jadi, saya bahkan mau memakai virtual reality (VR) juga. Namun, semua ini masih dalam tahap rencana dan pematangan ide.

Mohon doanya saja. Kalau tidak ada halangan, saya pada tahun depan masih ingin sekolah lagi ke Austria. Niatnya antara lain untuk mempelajari proses digitalisasi konten E-RME yang saya punya. Kebetulan, ahlinya ada di sana, yakni Prof Zsolt Lavicza. Semoga semuanya penuh berkah dan manfaat. Amin.

Terakhir, bagaimana kurikulum pendidikan matematika di Indonesia saat ini menurut Anda?

Saya cenderung sependapat bahwa (kurikulum) matematika jangan terlalu diubah-ubah terus setiap tahun. Apalagi, kalau itu hendak dihapuskan sebagai satu mata pelajaran. Kasihan anak-anak didik. Kadang di Kurikulum 2013 (K-13) atau Kurikulum Merdeka, topiknya itu selalu berubah-ubah.

Misal, sebelumnya ada materi tentang lingkaran. Itu dipelajari di kelas tiga. Namun, ketika ada kurikulum baru, materi yang sama diubah ke kelas empat. Ini yang membingungkan siswa.

Harusnya ada kajian yang komprehensif tentang urutan-urutan pembelajaran yang benar, khususnya terkait topik-topik matematika. Menurut saya, sejumlah materi dalam pembelajaran matematika di luar negeri bisa diadopsi di sini (Indonesia).

Saat mengikuti summer school di salah satu universitas di Belanda pada 2019, saya melihat mereka melakukan kegiatan belajar-mengajar matematika. Topik-topik ajarnya dibuat lebih spesifik. Misal, belajar aljabar, statistik, geometri, dan lain-lain.

Saya melihatnya, itu lebih komprehensif. Nah, kalau di Indonesia, selama enam tahun anak didik belajar materi matematika di SD. Kemudian, di SMP (materi yang sama –Red) diulang lagi walaupun memang lebih mendalam. Di SMA juga begitu, diulang-ulang terus.

Menurut saya, lebih fokus pada konten materi matematika. Misal, cara mengajarkan lingkaran, operasi bilangan, geometri, teori himpunan, dan lain-lain. Jadi, lihat pada konten materinya, bukan kurikulumnya. 

photo
Senior Customer Relation Manager MURI, Andre Purwandono (tengah) menyerahkan rekor MURI kepada dosen UAD, Rully Charitas Charitas Indra Prahmana, sebagai guru besar termuda di bidang Ilmu Pendidikan Matematika - (DOK IST)

Islam dan Hikmah Ilmu

Islam mewajibkan umat untuk menuntut ilmu. Demikian pesan penting dari sebuah hadis Nabi Muhammad SAW. Dari seluruh khazanah pengetahuan, matematika tidak bisa dipandang sebelah mata.

Menurut Prof Rully Charitas Indra Prahmana, bidang keilmuan itu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Aplikasinya dalam syariat Islam pun amat jelas. Umpamanya dalam persoalan falak dan faraid.

Yang pertama itu berfokus pada kajian atas lintasan benda-benda langit. Untuk mengetahui awal dan akhir bulan Ramadhan, misalnya, para ulama merujuk pada keterangan dari ahli ilmu falak. Dari sana, mereka dapat menentukan kapan periode puasa wajib dimulai dan selesai.

Yang kedua berkaitan dengan warisan. Dengan ilmu faraid, seorang alim dapat memastikan besaran harta yang diterima setiap ahli waris dari almarhum atau almarhumah. Alquran surah an-Nisa ayat 11 dan 12 menjelaskan ihwal perhitungan yang mesti dirujuk pakar faraid.

“Jadi, saya kira, hikmah matematika dalam syariat Islam tampak jelas di penerapan ilmu falak dan faraid itu,” kata Prof Rully saat berbincang dengan Republika, beberapa waktu lalu.

Yang utama, mempelajari matematika berarti melatih penalaran dan logika. Banyak ayat di dalam Alquran menyuruh manusia untuk menggunakan akalnya, terutama guna merenungi penciptaan alam semesta.

Memang, matematika telah berkembang di pelbagai peradaban pra-Islam. Namun, Islam-lah yang membawa kajian keilmuan itu kepada Barat, yakni melalui Andalusia (Spanyol). Para sarjana Muslim juga membawa revolusi besar, semisal pengenalan Aljabar atau bahkan angka nol—yang diadopsi dari sistem numeral India.

Rully Charitas dilantik menjadi guru besar bidang pendidikan matematika pada 1 September 2022 saat berusia 35 tahun 7 bulan. Pria kelahiran Medan, Sumut, itu meraih gelar sarjana pada 2008 di Universitas Gajah Mada. Sekira empat tahun kemudian, ia menyelesaikan pendidikan magister di Universitas Sriwijaya. Pada 2016, ia menyandang gelar doktor dari Universitas Pendidikan Indonesia. Tiga tahun berikutnya, dosen UAD Yogyakarta itu sukses menempuh studi di Utrecht University Belanda.

Keagungan Akhlak Rasulullah SAW

Akhlak mulia adalah apa yang membawa kemaslahatan bagi dunia, agama, dan akhirat.

SELENGKAPNYA

Islamic Relief: Perempuan Rentan terhadap Perubahan Iklim

Lombok menjadi salah satu pulau yang berisiko tinggi terhadap dampak perubahan iklim.

SELENGKAPNYA

Ustaz Faisol Nasar Kembali Nahkodai Al Irsyad

Al Irsyad akan menggenjot bidang pendidikan dan memperbanyak amal usaha.

SELENGKAPNYA