Anggota TNI mengerahkan anjing pelacak untuk mencari korban yang tertimbun longsor di kawasan Cijendil, Kecamatan Cugenang, Cianjur, Jawa Barat, Rabu (23/11/2022). | Republika/Putra M. Akbar

Tajuk

Mitigasi Pascagempa

Hal lain yang mesti disiapkan adalah peta risiko kawasan gempa

 

Gempa yang mengguncang daerah Cianjur, Jawa Barat, dengan kekuatan magnitudo 5,6 pada Senin (21/11) pukul 13.21 WIB, mengundang duka kita semua. Hingga Rabu (23/11) pagi, dilaporkan setidaknya 268 orang meninggal dan sekitar 1.083 lainnya terluka.

Jumlah korban diperkirakan bertambah, mengingat proses evakuasi masih berlangsung. Banyaknya rumah dan bangunan yang roboh akibat guncangan gempa, membuat warga terperangkap. Kondisi inilah yang menjadi salah satu penyebab korban berjatuhan.

Data sementara menunjukkan, setidaknya 22.198 unit rumah rusak. Data tersebut bakal bertambah karena kerusakan merata terjadi pada bangunan warga.

Saat ini yang terpenting adalah mengevakuasi korban. Memberikan mereka pertolongan pertama pada masa-masa awal gempa. Periode yang sangat menentukan kehidupan.

 
Jumlah korban diperkirakan bertambah, mengingat proses evakuasi masih berlangsung.
 
 

Mereka yang selamat dari dampak langsung gempa, jangan sampai menjadi korban selanjutnya hanya karena penanganan dan respons pascagempa yang buruk. Fasilitas terkait kebutuhan vital warga terdampak harus disiapkan maksimal.

Bantuan pangan dan obat-obatan sangat dinantikan warga. Pada saat musibah bencana alam seperti ini, warung dan pusat perbelanjaan tutup. Warga tak mudah mendapat bahan kebutuhan pokok. Bantuan semua pihak sangat berarti untuk kebutuhan keseharian mereka.

Semoga kebutuhan pokok bagi korban gempa ini tidak mengalami kendala, baik pasokan maupun pendistribusiannya. Demikian pula, dengan penyiapan tempat pengungsian yang layak bagi korban sebagai hunian sementara.

Dalam cuaca yang sering turun hujan, kondisi pengungsi menjadi rentan. Kesehatan warga yang mengungsi mesti menjadi perhatian. Dengan tim kesehatan yang memantau intensif warga diharapkan, tempat pengungsian tidak menjadi pusat persebaran penyakit.

 
Semoga kebutuhan pokok bagi korban gempa ini tidak mengalami kendala, baik pasokan maupun pendistribusiannya.
 
 

Apalagi, virus Covid-19 dengan varian mutasinya belum sepenuhnya hilang. Mitigasi pascabencana juga mendesak untuk diseriusi. Dari perhitungan awal Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), pusat gempa dipicu pergerakan sesar Cimandiri.

Gerakan dari patahan tersebut diduga, menyebabkan gempa yang hingga Rabu (23/11) kemarin, masih terasa gempa ikutannya.

BMKG menyampaikan, ada kemungkinan perulangan gempa dari sesar yang sama sekitar 20 tahun kemudian. Hal ini berdasarkan data sejarah yang memperlihatkan gempa dipicu sesar Cimandiri pernah terjadi pada 1982 dan 2000.

Jika prediksi ini benar, mitigasi guna mencegah kerusakan maksimal akibat gempa harus disiapkan sejak dini. Sebagai wilayah yang masuk dalam lintasan "Cincin Api", warga Indonesia semestinya melek terhadap mitigasi bencana.

 
BMKG menyampaikan, ada kemungkinan perulangan gempa dari sesar yang sama sekitar 20 tahun kemudian.
 
 

Paham apa yang seharusnya dilakukan ketika bencana yang disebabkan oleh akvititas vulkanis atau tektonis terjadi. Edukasi yang intensif bahwa bencana alam berupa gempa dan letusan gunung, misalkan, bisa sewaktu-waktu terjadi sehingga memahami apa yang mesti diperbuat.

Pemerintah pusat dan pemerintah daerah harus menggencarkan mitigasi bencana ini melalui kurikulum di sekolah-sekolah. Menjadi bagian dari prosedur tetap pembelajaran di sekolah sehingga anak murid tidak gagap saat bencana alam terjadi.

Hal lain yang mesti disiapkan adalah peta risiko kawasan gempa. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) harus mengoordinasikan semua instansi yang berkaitan dengan pemetaan wilayah gempa secara mendetail.

Peta risiko kawasan gempa menjadi rujukan bagi pemerintah pusat ataupun daerah dalam membuat tata ruang wilayah. Daerah dan kawasan yang masuk peta risiko kawasan gempa harus dikosongkan dari permukiman warga, pusat perkantoran, ataupun perbelanjaan.

 
Hal lain yang mesti disiapkan adalah peta risiko kawasan gempa.
 
 

Sebab, korban jiwa tak sepenuhnya akibat langsung gempa, tetapi karena terdampak akibat infrastruktur bangunan yang tak memenuhi standar antigempa.

Gempa memiliki kekuatan merusak, di antaranya karena struktur bangunan yang dibuat seadanya. Struktur bangunan yang tahan gempa wajib dipenuhi bagi permukiman yang berada tak jauh dari peta risiko kawasan gempa.

Jika hal ini dikoordinasikan dengan baik oleh para pemangku kepentingan, korban akibat gempa bisa diminimalisasi.

Peta risiko kawasan gempa ini harus dibuat detail untuk seluruh wilayah Indonesia kemudian disosialisasikan ke masyarakat secara masif. Cukup sudah gempa di Cianjur menjadi pembelajaran. Semua pihak mesti bergerak cepat melakukan mitigasi bencana. 

Prioritaskan Evakuasi Korban Gempa

Masyarakat diminta tidak resah dengan gempa susulan karena terus melemah.

SELENGKAPNYA

Terobos Longsor Demi Selamatkan Anak

RSUD Sayang merawat 420 korban gempa hingga Selasa (22/11) pagi.

SELENGKAPNYA

Wapres AS: Hormati Kedaulatan Laut Cina Selatan

Wapres AS menyerukan agar kawasan menjunjung tinggi integritas dan kebebasan berlayar di LCS.

SELENGKAPNYA