Sejumlah warga mengungsi di lahan persawahan pasca gempa bumi di Cijedil, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Senin (21/11/2022). | ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA

Kisah Dalam Negeri

Terobos Longsor Demi Selamatkan Anak

RSUD Sayang merawat 420 korban gempa hingga Selasa (22/11) pagi.

OLEH RIGA NURUL IMAN

M Irmiah Hilmi berbaring lemas di samping sang ayah yang sedang menemaninya menjalani perawatan di halaman RSUD Sayang, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Selasa (22/11). Kondisi anak berusia lima tahun itu belum stabil karena cedera kepala setelah tertimpa reruntuhan bangunan saat musibah gempa terjadi pada Senin (21/11) siang.

Ayah Hilmi, Zainal Abidin (39 tahun), menceritakan, anaknya sedang bermain dengan teman-temannya di dekat rumah saat gempa terjadi. Anaknya tertimpa bangunan kamar mandi umum tepat di bagian kepalanya. Hilmi dievakuasi tetangga ke rumah Zainal dan diterima oleh istrinya, Ai Hasanah (37).

Zainal yang sedang berjualan bakso di desa sebelah bergegas kembali ke rumah setelah gempa terjadi. Saat mendapati sang anak mengalami luka setibanya di rumah, Zainal tanpa pikir panjang langsung membawa anaknya ke rumah sakit. Perjuangan Zainal untuk menyelamatkan anaknya pun tak mudah. Ia nekat menorobos longsoran di sepanjang jalan menuju rumah sakit.

photo
Zainal Abidin (39 tahun) penyintas gempa Cianjur warga Desa Benjot, Kecamatan Cugenang menenangkan anaknya, Selasa (22/11/2022). - (Riga Nurul Iman/Republika)

Tempat tinggal Zainal di Desa Benjot, Kecamatan Cugenang, merupakan salah satu lokasi yang terdampak parah karena musibah gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,6. "Pada waktu kejadian, saya tengah berjualan bakso di desa tetangga dan ketika gempa terjadi langsung pulang ke rumah," kata Zainal kepada Republika saat mendampingi anaknya di halaman RSUD Sayang, Kabupaten Cianjur, kemarin.

Zainal menceritakan, ia awalnya meminta tolong kepada tetangga untuk membawa anaknya ke rumah sakit menggunakan mobil. Namun, setelah sekitar 1 kilometer perjalanan, arus lalu lintas terhenti karena ada longsor menutup jalan di daerah Cugenang. Ia memutuskan untuk kembali ke rumah.

"Saya akhirnya langsung meminjam motor tetangga dan membawa anak saya menerobos lokasi longsor," tutur Zainal.

Pada saat berangkat, ia tidak memakai sandal atau sepatu. Pakaian yang dikenakan juga seadanya karena ingin membawa anaknya ke rumah sakit secepat mungkin.

Pada saat di rumah sakit, Hilmi yang merupakan anak keduanya sempat mendapatkan pertolongan dan menginap di halaman RSUD Sayang Cianjur. Pada Selasa pagi, Hilmi boleh dibawa pulang karena kondisinya dinilai sudah membaik.

photo
Sejumlah warga mengungsi di halaman rumah warga pasca gempa bumi di Cijedil, Kecamatan Cugenang, Kabupaten Cianjur, Senin (21/11/2022). - (ABDAN SYAKURA/REPUBLIKA)

"Namun, pada Selasa siang, kembali dibawa ke rumah sakit karena muntah-muntah," kata Zainal. Hilmi saat ini mendapatkan penanganan medis dengan diberi infus dan kepalanya akan dirontgen.

Menurut Zainal, Hilmi masih dalam keadaan belum stabil. "Namun, saya sebagai orang tua harus ikhtiar agar anak sehat kembali," katanya.

Ibu kandung Hilmi, Ai Hasanah, mencoba tegar dengan kondisi sang anak dan berdoa agar anaknya segera sembuh serta mendapatkan perlindungan Allah SWT. "Kami hanya berdoa semoga Hilmi bisa sehat kembali dan bermain dengan anak sebayanya."

Ai menuturkan, gempa bumi pada Senin siang juga merusak tempat tinggalnya. Rumahnya kini tak bisa lagi ditempati. Ia berharap ada perhatian dari pemerintah agar ia bisa membangun kembali rumahnya.

photo
Warga berada diluar rumah untuk mengantisipasi gempa susulan di Kampung Kadudampit, Rancagoong, Cianjur, Jawa Barat, Selasa (22/11/2022). - (Republika/Putra M. Akbar)

Penyintas lainnya, Ida Farida, juga rela menerjang reruntuhan untuk menyelamatkan anak perempuannya, Siti Hamdal, yang tertimpa atap rumah. Ida, ibu rumah tangga dari Desa Benjot, Kecamatan Cugenang, saat ditemui di RSUD Sayang, Kabupaten Cianjur, Selasa, menceritakan perjuangannya menembus akses jalan yang terputus.

"Akses jalan belum bisa dibuka, saya terobos-terobos. Lewat sawah-sawah saya, berjuang demi anak daripada kenapa-kenapa," ujar Ida.

Lingkungan tinggalnya mayoritas berupa pegunungan. Sebelum gempa terjadi, Ida berkumpul bersama empat anaknya. Kemudian, saat terjadi gempa, akses jalan utama terputus reruntuhan dan longsoran.

Selain itu, membuat listrik padam, jalanan tertimbun longsor dan meluluhlantakkan bangunan rumah. Untuk melewati jalanan tersebut, dia dan keempat anaknya harus berjalan pelan-pelan menggunakan sepeda motor. Sesekali bila gempa susulan terasa, mereka berhenti berjalan untuk mengawasi keadaan.

Kondisi anaknya, Siti, terluka parah di bagian kepala tertimpa atap rumah sebelum menjalankan shalat Zhuhur. Sehingga, ia segera dilarikan ke Puskesmas Cisau. Di sana, Siti mendapatkan pertolongan pertama berupa jahitan kepala. Sementara tiga anak Ida lainnya diungsikan ke rumah saudaranya yang lebih aman dari gempa, karena takut gempa susulan terjadi kembali.

"Masih nyut-nyutan, baru dikasih obat," ujar Siti. Saat ini, Siti masih menjalani perawatan setelah trauma akibat gempa tersebut. Seperti penyintas lainnya, Siti berharap segera pulih, dan Ida mendapat bantuan dari pemerintah setelah rumahnya luluh lantak.

RSUD Sayang tercatat merawat 420 korban gempa hingga Selasa (22/11) pagi. Di rumah sakit tersebut, sebanyak 65 korban gempa meninggal dunia. "Per pukul 07.15 WIB ada 420 orang warga korban gempa yang dirawat di RSUD Sayang, Cianjur," ujar Kabag Umum RSUD Sayang, Cianjur, Anwar Amin kepada wartawan.

Pihaknya juga melakukan rujukan ke rumah sakit lain untuk 125 orang. Ada yang dirujuk ke RSUD R Syamsudin SH di Kota Sukabumi, RSHS Bandung, dan rumah sakit lainnya. Berdasarkan pantauan Republika, lokasi pengungsian di sejumlah titik dipenuhi warga. Warga terdampak terpaksa tidur di ruang terbuka dan tenda-tenda pengungsian pada Selasa (22/11) dini hari. Mereka khawatir terjadi gempa susulan. 

photo
Warga berada diluar rumah untuk mengantisipasi gempa susulan di Kampung Kadudampit, Rancagoong, Cianjur, Jawa Barat, Selasa (22/11/2022). - (Republika/Putra M. Akbar)

Salah satu lokasi pengungsian berada di depan pendopo Kabupaten Cianjur. "Ada sekitar 150 orang warga yang tinggal di tenda pengungsian ini," kata Ketua RT 2, RW 6, Kelurahan Pamoyanan, Kecamatan Cianjur, Kabupaten Cianjur.

Warga memilih tetap mengungsi karena ada imbauan yang meminta warga mewaspadai gempa susulan. Penyebab mereka tetap bertahan karena rumah mereka rusak dihantam gempa.

Di samping pendopo, ratusan warga lainnya tidur di pinggir jalan atau emperan toko. ''Kami masih trauma khawatir gempa susulan," ujar warga Pamoyanan Cianjur, Titin, yang tidur di emperan sebuah toko minimarket. Titin sangat khawatir ada gempa susulan jika harus tidur di rumah.

Menurut pengakuan Titin, pada Selasa dini hari belum ada bantuan pasokan makanan untuk warga. Warga sangat membutuhkan bantuan makanan dan kebutuhan lainnya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by BMKG (@infobmkg)

Duka untuk Cianjur

Gempa di Cianjur tidak terkait potensi gempa megathrust di selatan Jawa.

SELENGKAPNYA

Waspadai Longsor dan Banjir Bandang 

Masyarakat diimbau tidak mendekati lereng ataupun bantaran sungai. 

SELENGKAPNYA

Bahu-membahu Bantu Korban Gempa 

MDMC Jawa Barat mengerahkan personel untuk membantu relawan Muhammadiyah Kabupaten Cianjur.

SELENGKAPNYA