Asma Nadia | Daan Yahya | Republika

Resonansi

Saatnya Penulis Indonesia Mendunia

IIBF menjadi peluang penulis Indonesia untuk mendunia.

OLEH ASMA NADIA

Saya berkesempatan menghadiri Frankfurt International Book Fair  saat Indonesia hadir sebagai tamu kehormatan (Guest of Honour) pada 2015. Melihat dengan mata kepala sendiri, tentu berbeda dengan hanya mendengar cerita betapa hebatnya pameran buku terbesar di dunia itu. 

Akhirnya, saya menyaksikan sendiri megahnya acara tersebut, tidak hanya dari sisi penyelenggara, tetapi juga peserta. Negara peserta pameran, terlihat bekerja keras untuk menata booth mereka, dengan sangat artistik dan mewah. 

Segenap kreativitas dikerahkan. Begitu unik dan memikat hingga sulit menemukan sudut peserta pameran yang hanya menata buku di rak seperti umumnya kita temui di acara pameran buku. Segala sesuatu dibuat secara khusus dan terencana.

Buku benar-benar diperlakukan sebagai benda berharga, yang karenanya harus dipresentasikan seperti layaknya barang mewah.

 
Begitu unik dan memikat hingga sulit menemukan sudut peserta pameran yang hanya menata buku di rak seperti umumnya kita temui di acara pameran buku.
 
 

Jauh dari tempat pameran, di stasiun kereta juga terlihat poster dan informasi tentang penyelenggaraan pameran tersebut. Di lantai stasiun terdekat, ada stiker yang jika diikuti akan menuntun kita ke ajang pameran.

Antusiasme pengunjung juga luar biasa. Kita harus berjalan lambat-lambat akibat begitu banyaknya pengunjung yang hadir. Banyak di antaranya anak-anak yang ditemani orang tuanya. Kaum remaja juga berbondong-bondong hadir.

Sebagian di antara mereka datang dengan pakaian animatif karena ada event cosplay (costum play) di sela-sela ajang tersebut. Pameran ini merupakan ajang transaksi buku terbesar di dunia jika dilihat dari banyaknya penerbit yang hadir. Juga pameran buku terpenting untuk skala internasional.

Wajar saja, melihat hal tersebut membuat saya berharap Indonesia punya ajang sebesar itu suatu saat nanti.

Alhamdulillah, Indonesia sebenarnya sejak 1980 menggelar IIBF atau Indonesia International Book Fair, yang diikuti penerbit dan peserta bukan hanya dari kalangan penulis dan dunia penerbitan nasional, melainkan juga dihadiri perwakilan dari berbagai negara.

 
Wajar saja, melihat hal tersebut membuat saya berharap Indonesia punya ajang sebesar itu suatu saat nanti.
 
 

Tahun ini, IIBF diselenggarakan mulai 9 hingga 13 November 2022 di JCC Senayan, Jakarta. Banyak harapan yang bisa kita sandarkan pada kegiatan yang digagas IKAPI Ini.

Pertama, dalam ajang pameran buku internasional ini ada kegiatan Indonesia Rights Fair, yang mempertemukan penulis atau penerbit lokal dengan agensi dari negara asing.

Dalam zoom meeting sebelum pameran, terlihat penerbit dan agensi dari Mesir, Italia, Kanada, Singapura, Malaysia, Amerika, dan negara lainnya, siap berburu bakat dan karya anak bangsa. Ini peluang penulis Indonesia untuk mendunia dengan memiliki buku yang akan diterjemahkan dan diterbitkan di luar negeri.

Kedua, panitia IIBF juga mengadakan event cosplay. Dengan kegiatan yang digandrungi anak muda tersebut, kita kembali mendekatkan anak muda yang mulai menjauh dari buku kembali bersentuhan dan akrab lagi dengan lingkungan buku.

Semoga berada dalam atmosfer penuh aroma buku, mengembalikan atau meningkatkan cinta generasi muda kita pada buku.

 
Semoga berada dalam atmosfer penuh aroma buku, mengembalikan atau meningkatkan cinta generasi muda kita pada buku.
 
 

Ketiga, peserta IIBF tidak hanya penerbit, tetapi juga perwakilan platform kepenulisan, seperti KBM App. Ini menunjukkan upaya harmoni antara dunia buku digital dan buku cetak. Para penerbit konvensional pun kini kian serius berproses pada era digital, yang mustahil dihindari sebab memang merupakan satu  keniscayaan.

Keempat, hadirnya produser, sutradara, dan penggiat fim sebagai pembicara, dalam rangkaian acara di panggung utama IIBF. Pertemuan penulis dan para movie maker, insya Allah menambah semarak dunia perbukuan, mengingat buku sebagai salah satu sumber inspirasi dan akar alih wahana ke berbagai media, termasuk audio visual.

Kelima, hadirnya para tokoh nasional, pejabat, dan pembicara kelas nasional bahkan internasional di panggung IIBF menunjukkan masih banyak figur publik yang mendukung semangat yang diusung panitia IIBF. Semoga dukungan ini mengokohkan kemesraan masyarakat terhadap dunia literasi.

Tentu saja kita tidak bisa membandingkannya dengan Frankfurter Buchmesse, yang sudah diselenggarakan sebanyak 74 kali dan mempunyai tradisi 500 tahun karena sudah dilakukan sejak 1400-an.

Namun, keberadaan Indonesia Internasional Book Fair merupakan langkah awal bagi para putra bangsa untuk mengepakkan sayap dan melintasi benua, dalam percaturan literasi dunia. 

Kasus Covid-19 Melonjak Lagi, Pintu Masuk Diperketat

Luhut menyebut puncak gelombang akan terjadi dalam satu hingga dua bulan ke depan.

SELENGKAPNYA

Negara Muslim Harus Bangun Ketahanan Pangan

Keamanan pangan merupakan masalah yang seharusnya menjadi agenda utama bagi semua negara di dunia.

SELENGKAPNYA

Netanyahu Menang, Palestina Kian Terancam

Saat proses penghitungan suara masih berlangsung, kekerasan antara Israel-Palestina masih terjadi.

SELENGKAPNYA