vp,,rm
Petugas Palang Merah Indonesia (PMI) menunjukkan kantong berisi darah pendonor di ruang layanan donor darah PMI Kota Depok, Jawa Barat, Sabtu (9/5/2020). Jumlah stok darah PMI Kota Depok menipis dan terus menurun seiring meningkatnya permintaan dan menuru | ASPRILLA DWI ADHA/ANTARA FOTO

Fatwa

Bolehkah Mendonorkan Darah untuk Pelaku Maksiat?

Hendaknya seseorang yang akan melakukan kebaikan menghindari prasangka buruk

Ada yang ragu untuk mendonorkan darah. Ia mengkhawatirkan darah yang dia sumbangkan diberikan kepada pelaku maksiat. Si pendonor takut mendapatkan 'percikan' dosa dari si pemaksiat yang tadi mendapatkan donor darah. Lalu, apakah benar mendonorkan darah kepada pelaku maksiat akan mendapat dosa?

Pertanyaannya seperti ini ditanyakan oleh salah seorang jamaah kepada pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah dan Pondok Pesantren al-Bahjah KH Yahya Zainul Ma'arif (Buya Yahya) dalam sebuah kajian yang juga disiarkan melalui kanal al-Bahjah TV beberapa waktu lalu. Dalam kesempatan itu, Buya Yahya menjelaskan hendaknya seseorang yang akan melakukan kebaikan menghindari prasangka buruk. Sebab, prasangka buruk dapat menjadi penghalang untuk melakukan sebuah amal. 

Mendonorkan darah merupakan amal baik yang dapat membuahkan pahala bila didasari ikhlas. Karena itu, seorang pendonor harus memiliki niat yang dan prasangka yang baik kepada orang yang akan menerima donor. Buya Yahya mengatakan orang yang mendonorkan darah berarti telah menolong. 

"Jadi, kalau Anda memberikan donor darah, menolong itu pahala. Bahkan biarpun nanti yang akan menggunakan darah kita adalah orang kafir, asalkan dia bukan kafir harbi yang memerangi kita, maka Anda mendapatkan pahala. Sebab itu adalah tolong menolong yang diajarkan dalam Islam," kata Buya Yahya. 

 

 

Biarpun nanti yang akan menggunakan darah kita adalah orang kafir, asalkan dia bukan kafir harbi yang memerangi kita, maka Anda mendapatkan pahala

 

BUYA YAHYA
 

 

Buya Yahya mengatakan, yang dilarang dalam Islam adalah memberikan bantuan kepada seseorang yang secara jelas dan pasti akan menggunakan bantuan tersebut untuk kemaksiatan. Buya Yahya mencontohkan, seorang meminta uang dan menyampaikan uang tersebut untuk digunakan membeli minuman keras atau digunakan untuk berjudi.

Maka, sebagai Muslim tidak boleh memberikan uang pada orang tersebut, sebab akan digunakan untuk kemaksiatan. Sementara dalam ajaran Islam sangat dilarang tolong-menolong di dalam melakukan kemaksiatan. 

Di sisi lain, setiap manusia berpotensi untuk melakukan kemaksiatan dan melahirkan dosa. Namun, setiap orang yang melakukan kemaksiatan juga berpotensi untuk meninggalkan kemaksiatan dengan hidayah Allah. Sebab itu, setiap Muslim tidak boleh menaruh prasangka buruk. Justru seorang Muslim hendaknya mendoakan saudaranya. Karena itu, Buya Yahya mengingatkan agar jangan khawatir ketika akan berbuat baik. 

"Yang penting Anda saat memberi sesuatu bukan tujuannya untuk bermaksiat. Jadi, jangan sampai kita akan melakukan kebaikan terhalang oleh semacam ini. Jadi, lakukan kebaikan selagi memang secara zahirnya itu tidak tampak untuk kemaksiatan maka Anda lakukan. Tidak usah khawatir. Kalau ternyata nanti dia gunakan bantuan untuk melakukan kemaksiatan, dia yang dapat dosa Anda tetap dapat pahala," kata Buya Yahya.

 

 

Yang penting Anda saat memberi sesuatu bukan tujuannya untuk bermaksiat

 

BUYA YAHYA
 

 

Lebih lanjut, Buya Yahya mengatakan, serupa dengan memberikan makanan atau minuman kepada seseorang sehingga menjadi kenyang dan sehat. Namun, setelah diberikan makan orang tersebut tersebut justru berzina, mencuri, dan melakukan kemaksiatan lainnya.

Maka, orang yang memberikan makan tetap mendapat pahala dan tidak mendapatkan dosa. “Dalam beramal baik setan itu membisikan, waswas, sehingga orang itu berprasangka buruk pada orang lain," katanya.

Syair Maulid yang Nikmat Dibaca

Syair dalam kitab Maulid Simthud Duror termasuk kategori syair mursal

SELENGKAPNYA

Saat Che Guevara Dieksekusi

Catatan Che berisi ideologi yang diperjuangkannya

SELENGKAPNYA

Menakar Hukum Suntik Putih

Islam tidak melarang umatnya memperindah diri, terutama bagi para wanita untuk suaminya.

SELENGKAPNYA