Anggota pasukan Republik, dipersenjatai dengan senjata otomatis untuk menangkap anggota PKI di Madiun, pada 25 Oktober 1948. | Gahetna.nl

Kronik

Palu Arit di Takeran

“Pondok Bobrok, Langgar Bubar, Santri Mati!” Itulah yel yel PKI untuk melumpuhkan sejumlah pesantren di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Kaum Muslim menjadi sasaran utama keganasan PKI.

OLEH SELAMAT GINTING

Tiga remaja lelaki duduk-duduk di anak tangga sebuah monumen. Mereka mengaku pelajar sekolah menengah pertama (SMP) yang sedang berlibur. Menggunakan kaus senada warna hitam dan celana jins biru, mereka bercakap-cakap sambil tertawa riang.

Saat ditanya sedang apa dan mengapa mengunjungi tugu dan monumen di Dusun Kresek, Kabupaten Madiun? Mereka mengaku tidak tahu kalau tempat ini adalah tugu peringatan keganasan PKI 1948. "Tidak tahu. Hanya main-main saja karena posisinya di puncak," kata salah seorang remaja tersebut pada Selasa (17/5) siang.

Padahal pada 18 September 1948 itu di sumur tua Dusun Kresek, Desa Dungus, Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun, itulah terdapat lubang pembantaian. Di tepi bukit itu, sekitar 68 tahun lalu, ditemukan 17 jenazah. Mereka di antaranya adalah perwira militer, anggota DPRD, wartawan, kiai, dan masyarakat biasa.

Pembantaian di Dusun Kresek dilakukan PKI karena posisinya telah terjepit oleh pasukan Siliwangi. Mereka tersesat di Kresek dalam perjalanan menuju Kediri. Karena tidak sabar membawa tawanan sedemikian banyaknya, mereka pun melakukan pembantaian di tepi bukit lalu menimbunnya di sebuah sumur tua.

photo
Kader Partai Komunis Indonesia (PKI). - (perpusnas)
 

Terungkapnya sumur ini sebagai tempat pembantaian bermula dari laporan seorang warga Desa Kresek, yang mengaku melihat terjadinya peristiwa keji itu.

Ya, kini, di Kresek telah dibangun monumen dan tugu peringatan atas kekejaman PKI pada 1948 dulu. Adapun 17 orang yang menjadi korban pembantaian PKI tersebut, antara lain, Kolonel Marhadi, Letkol Wiyono, Inspektur Polisi Suparbak, Mayor Istiklah, RM Sarojono (patih Madiun), Kiai Husen (anggota DPRD Kab Madiun), Mohamad (pegawai Dinas Kesehatan), Abdul rohman (asisten Wedono), Sosro Diprodjo (staf PG Rejo Agung), Suharto (guru Sekolah Pertanian Madiun), Sapirin (guru Sekolah Budi Utomo Madiun), Supardi (wartawan Madiun), KH Sidiq, Sukadi (tokoh masyarakat), R Charis Bogio (wedono Kanigoro), KH Barokah Fachrudin (ulama), dan Maidi Marto Disomo (agen polisi).

Monumen keganasan PKI di Kresek itu dibangun untuk mengingat keganasan PKI dalam membantai lawan-lawan politiknya. Tentu saja dengan harapan paham itu tidak lagi bangkit kembali di bumi pertiwi.

Tragedi Takeran

Aksi PKI dalam pemberontakan Madiun 1948 tak pelak mengincar pesantren sebagai sasaran utama. Sekolah agama Islam yang dikelola Muhamadiyah, Nahdlatul Ulama, serta lembaga Islam lainnya dianggap sebagai musuh besar PKI.

Mengikuti jejak pimpinan Uni Soviet, Josef Stalin mencengkeramkan umat Islam di Asia Tengah. Jutaan umat Islam dibunuh dan dibuang ke Siberia. Pimpinan CC PKI, Muso yang baru pulang dari Uni Soviet mengikuti jejak Stalin, mencengkeramkan kukunya di sejumlah pesantren.

photo
Kondisi selepas Peristiwa Madiun 1948. - (istimewa, madiun, pki,)

Yel-yel PKI, "Pondok Bobrok, Langgar Bubar, Santri Mati", berhasil melumpuhkan sejumlah pesantren di Magetan, Jawa Timur. Salah satu pesantren yang menjadi incaran PKI adalah Takeran. Pesantren ini secara geografis sangat dekat dengan Gorang Gareng. Di situlah terjadi rangkaian pembantaian PKI di Gorang Gareng.

Pesantren Takeran dikenal juga dengan Pesantren Sabilil Muttaqien, yang dipimpin Kiai Imam Mursjid Muttaqien. Bisa disebut sebagai pesantren ternama di Magetan. Pemimpinnya mempunyai pengaruh yang sangat besar, karena Kiai Imam Mursjid juga bertindak sebagai imam tarekat Syatariyah. PKI melihat ada upaya penggemblengan yang dilakukan sejumlah kiai kepada santrinya. Baik penggemblengan fisik maupun spiritual.

Pada 17 September 1948, Kiai Hamzah dan Kiai Nurun yang berasal dari Tulungagung dan Tegal Rejo pergi ke Burikan. Seusai shalat Jumat, Imam Mursjid didatangi tokoh-tokoh PKI. Menurut Kiai Haji Ma'ruf Nawawi, saat itu para kiai diajak bermusyawarah mengenai rencana pendirian Republik Soviet Indonesia.

Kepergian pemimpin pesantren, lanjut Maruf, menimbulkan tanda tanya besar. Dua hari kemudian, keberadaan Imam Mursjid tidak diketahui secara pasti. PKI terus melakukan penangkapan dan penculikan kepada ustaz-ustaz yang lain, seperti Ahmad Baidway, Husein, Hartono, dan Hadi Addaba.

photo
Wisatawan menikmati suasana di objek wisata Monumen Korban Keganasan PKI di Desa Kresek, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, Selasa (1/6/2021). Sebagian warga memanfaatkan libur Hari Lahir Pancasila untuk berwisata di objek wisata yang berada di kaki Gunung Wilis tersebut. - (ANTARA FOTO/Siswowidodo)

Mereka tidak pernah kembali. Bahkan, sebagian besar ditemukan sudah menjadi mayat di lubang-lubang pembantaian yang tersebar di berbagai tempat di Magetan. Keberadaan Kiai Mursjid pun hingga kini belum diketahui. Dari daftar korban yang dibuat PKI, tidak tercantum nama Kiai Mursjid.

Salah seorang korban PKI di sumur tua Cigrok adalah Kiai Haji Imam Shofwan, pengasuh Pesantren Thoriqussu'ada Rejosari, Madiun. Shofwan dikubur hidup-hidup di dalam sumur setelah disiksa berkali-kali. Tak usah heran, di sejumlah tempat di Magetan dan Madiun, terdapat beberapa sumur tua yang menjadi tempat pembantaian.

Sumur tua

Desa kecil Soco, terletak hanya beberapa ratus meter di sebelah selatan lapangan udara Iswahyudi. Termasuk dalam wilayah Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan. Dalam peristiwa berdarah pemberotakan PKI tahun 1948, Soco memiliki sejarah khusus yang menguras duka.

photo
Monumen Keganasan PKI atau Monumen Kresek merupakan monumen dengan relief dan patung yang menggambarkan keganasan PKI di Madiun pada tahun 1948. - (DOK ANTARA Fikri Yusuf )

Di desa ini, terdapat sebuah sumur tua tempat pembantaian oleh PKI. Ratusan korban pembunuhan keji yang dilakukan PKI ditimbun jadi satu di lubang sumur yang tak lebih dari satu meter persegi itu. Desa ini dilewati rel kereta lori pengangkut tebu ke Pabrik Gula Glodok, Pabrik Gula Kanigoro, dan Pabrik Gula Gorang-Gareng.

Di sumur tua Desa Soco ditemukan tak kurang dari 108 jenazah korban kebiadaban PKI. Sebanyak 78 orang di antaranya dapat dikenali, sedangkan sisanya tidak dikenal. Sumur-sumur tua dirancang PKI sebagai tempat pembantaian massal sebelum melakukan pemberontakan.

Beberapa nama yang menjadi korban pembantaian di Desa Soco adalah Bupati Magetan Sudibjo, Jaksa R Moerti, Muhammad Suhud (ayah mantan ketua DPR/MPR, Kharis Suhud), Kapten Sumarno, dan beberapa pejabat pemerintah serta tokoh masyarakat setempat. Termasuk di antaranya KH Soelaiman Zuhdi Affandi, pimpinan Pondok Pesantren ath-Thohirin Mojopurno, Magetan.

Di antara sejumlah sumur tempat pembantaian yang digunakan PKI di sekitar Magetan, sumur tua desa Bangsri merupakan tempat yang paling awal. Sumur tua ini terletak di tengah tegalan ladang ketela di Dukuh Dadapan. Sekitar 10 orang korban PKI dibantai di sini. Kebanyakan adalah warga biasa yang dianggap menentang atau melawan PKI.

Sebanyak 22 orang yang menjadi korban pembantaian di sumur tua Desa Cigrok. Selain KH Imam Shofwan dan dua putranya, terdapat pula Hadi Addaba dan Imam Faham dari Pesantren Sabilil Muttaqin, Takeran. Imam Faham adalah adik dari Muhammad Suhud, paman dari Kharis Suhud.

photo
Para pengunjung melihat patung yang menggambarkan kekejaman PKI yang beraksi dalam geger Madiun 1948. Monumen di Kresek ini menjadi pengingat akan peristiwa historis yang kelam itu. - (DOK ANTARA Siswowidodo)

Peristiwa 22 Oktober

Salah satu rangkaian dari peristiwa berdarah Gerakan 30 September 1965 adalah peristiwa 22 Oktober 1965. Tragedi ini belum banyak diketahui masyarakat. Kota Solo menjadi kota berdarah pada peristiwa yang menewaskan 23 orang warga. Umumnya adalah warga Muhamadiyah yang antikomunis.

Berawal dari peristiwa 30 September 1965 yang menewaskan enam jenderal dan seorang perwira pertama Angkatan Darat. Sehari kemudian pelaku G-30-S mengumumkan berdirinya Dewan Revolusi Indonesia. Di Solo, pada 2 Oktober 1965, Wali Kota Solo, Utoyo Ramelan, mengumumkan terbentuknya Pemerintah Dewan Revolusi Kota Surakarta.

Pimpinan PKI, DN Aidit, bersembunyi di rumah Wali Kota Utoyo Ramelan hingga 5 Oktober 1965. Kemudian pada 21 Oktober, tersiar berita bahwa Kolonel Katamso gugur akibat dibunuh PKI di Solo. Massa PKI pun mengepung Depo Pendidikan TNI AD di Klaten, Jawa Tengah.

Selanjutnya pada 22 Oktober itulah terjadi pemogokan bus Gemblengan Solo. Pemuda Rakyat yang berafiliasi ke PKI menggunakan seragam serbahijau tentara dan tutup mulut berupa kain warna merah. Mereka menodongkan senjatanya kepada sejumlah sopir.

Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) memasuki Solo dan sekitarnya bersiap melakukan pengejaran terhadap PKI yang menjadi partai mayoritas di Solo. Sekaligus menghadiri pemakaman Kolonel Katamso.

Pada 22 Oktober, PKI menangkap para demonstran di daerah Petoran, Warung Pelam, Kampung Sewu, dan Sangkrah. Para demonstran yang ditangkap PKI dibawa ke sebuah kedai kopi. Di situlah mereka mengalami siksaan. Mereka dibunuh di Kedung Kopi oleh gerombolan PKI.

Total ada 23 orang tewas yang dibantai PKI di kedai kopi tersebut. Dari 23 orang itu, tiga di antaranya beragama Katolik. Sedangkan 20 lainnya beragama Islam dan umumnya aktivis Pemuda Muhammadiyah.

Sejak itulah para pemuda menghimpunkan diri dalam wadah antikomunis dan bergabung dengan Kesatuan Aksi Pengganyangan Gestapu PKI, yang disingkat KAP gestapu atas prakarsa Mayor Sudjono dari KOTI.

Akhir Oktober 1965 itu, Jawa Tengah dicetuskan sebagai daerah perang terhadap PKI. TNI dan masyarakat akhirnya sepakat bekerja sama memburu pucuk pimpinan PKI, DN Aidit.

Pada 21 November 1965 itulah DN Aidit ditangkap. Begitu juga dengan sejumlah tokoh PKI, antara lain, bekas kolonel Sahirman, bekas kolonel Mardjono, dan bekas mayor Sukirno.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat

Mengenang Penangkapan DN Aidit

Saat-saat menjelang G30S, Aidit banyak membuat pernyataan yang memanaskan situasi.

SELENGKAPNYA

Sinergi untuk Literasi

Masyarakat Indonesia secara umum tak bermasalah dengan kemampuan membaca aksara dan angka. Namun, aktivitas membaca belum jadi budaya.

SELENGKAPNYA

Orientasi Memimpin

Sekurang-kurangnya ada tiga oreintasi pemimpin yang sejatinya melakat dalam diri.

SELENGKAPNYA