vp,,rm
Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

Orientasi Memimpin

Sekurang-kurangnya ada tiga oreintasi pemimpin yang sejatinya melakat dalam diri.

OLEH AHMAD AGUS FITRIAWAN  

Di dalam Islam, tugas memimpin adalah salah satu bentuk ibadah. Sebab, salah satu bentuk ibadah, sama seperti ibadah-ibadah lainnya dalam Islam, pemimpin nantinya akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Sehingga, seorang pemimpin harus melaksanakan tugas menjadi seorang pemimpin dengan sebaik-baiknya.

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin atas keluarganya dan ia akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang wanita adalah pemimpin atas rumah suaminya, dan ia pun akan dimintai pertanggungjawabannya. Seorang budak juga pemimpin atas harta tuannya dan ia juga akan dimintai pertanggungjawabannya. Sungguh setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Memimpin memiliki arti sebagai seni untuk mempengaruhi orang lain. Namun, seorang pemimpin bukan hanya memengaruhi orang lain semata, tetapi ia harus memiliki konsep diri dan orientasi dalam memimpin hanya karena Allah SWT. Sekurang-kurangnya ada tiga oreintasi pemimpin yang sejatinya melakat dalam diri. 

Pertama, memimpin adalah ibadah. Merupakan representasi dari ketaatan dan ibadahnya kepada Allah. Sebab, hanya orang yang memiliki ibadah yang baiklah yang mampu menjalankan amanah menjadi pemimpin karena kepemimpinan yang mereka kerjakan adalah kepemimpian untuk ibadah.

Dan jika seorang telah taat beribadah maka sesungguhnya ia adalah pemimpin sejati. Sebab, untuk beribadah pastilah banyak tantangan dan rayuannya hanya orang yang kuatlah yang mempu melawan rayuan-rayuan untuk tidak beribadah. 

Kedua, memimpin profetik karena Allah. (Alm) Prof Dr Kuntowijoyo menyatakan, kepemimpinan profetik membawa misi humanisasi, liberalisasi, dan transendensi. Misi humanisasi, yaitu misi yang mengajak manusia pada kebaikan atau ta’maruna bil ma’ruf.

Misi liberalisasi yang membebaskan manusia dari belenggu keterpurukan dan penindasan atau tanhauna anil munkar. Sedangkan misi transendensi, yaitu tu’munina billah, yaitu misi yang memanifestasikan misi humanisasi dan misi liberasi, kesadaran ilahiah yang mampu menggerakkan hati dan bersikap ikhlas terhadap segala yang telah dilakukan (QS 2: 151).

Ketiga, berhati-hati dan amanah. Umar bin Khattab saat terpilih menjadi khalifah bukan bahagia, malah menangis dan berucap, “Innalillahi… Sungguh ini musibah!” Mengapa Umar bin Khattab berkata demikian. Sebab, beliau paham begitu besarnya tanggung jawab dan amanah seorang pemimpin. Rasa takutnya kepada Allah selalu menyertainya, dan berhati-hati memimpin mengurus rakyat jangan sampai menjadi sesalan di hari akhir.

Umar RA senantiasa memastikan semua rakyatnya terpenuhi kebutuhan primer, sandang, pangan, papan dengan baik. Pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat, seperti kesehatan, pendidikan dan keamanan pun menjadi tanggung jawabnya.

Sampai jika seekor keledai terperosok karena rusaknya jalan maka menjadi tanggung jawab yang tak lepas dari penghisaban. Demikianlah karakter pemimpin yang berorientasi ibadah, profetik, dan amanah kepada Allah.

Wallahu a’lam.

Peretasan Dokumen Negara Belum Bisa Dipastikan

RUU PDP Diharapkan Segera Disahkan.

SELENGKAPNYA

Mengabadikan Sikap Terpuji

Menjadikan dirinya dekat dengan Allah dan terbiasa mengharapkan rahmat dan ridha-Nya.

SELENGKAPNYA