Warga Palestina berduka di samping jenazah syuhada akibat pengeboman Israel di Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis, Jalur Gaza selatan, 15 Februari 2026, | EPA/HAITHAM IMAD

Internasional

Israel Kembali Nodai Ramadhan Hari Pertama di Gaza

Penelitian ungkap angka sebenarnya kematian di Gaza.

GAZA – Hari pertama Ramadhan di Jalur Gaza dalam dua tahun berturut-turut masih diwarnai serangan Israel. Sementara penelitian terbaru mengungkapkan jumlah syuhada di Gaza jauhd ari yang resmi dilaporkan selama ini.

Serangan Israel  menewaskan sedikitnya dua warga Palestina dalam insiden terpisah di Jalur Gaza pada hari pertama Ramadhan, Rabu. Aljazirah melaporkan di seorang anak dibunuh di utara Gaza dengan tembakan pesawat tak berawak Israel. Serangan itu menargetkan anak-anak dalam perjalanan mereka untuk memeriksa rumah mereka yang hancur di daerah tersebut.

Pasukan penjajah juga melepaskan tembakan dan membunuh Muhand Jamal al-Najjar (20 tahun) di dekat bundaran Bani Suheila di timur kota Khan Younis, kantor berita Palestina WAFA melaporkan. Sumber rumah sakit Gaza mengatakan bahwa tembakan Israel juga melukai tiga warga Palestina di al-Maghraqah di Jalur tengah dan daerah al-Mawasi di Rafah di selatan. 

Sejak “gencatan senjata”, yang hampir setiap hari dilanggar oleh Israel, mulai berlaku pada pertengahan Oktober, lebih dari 600 warga Palestina telah terbunuh dan lebih dari 1.600 orang terluka, menurut angka terbaru yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan Palestina awal pekan ini.

Kematian terbaru ini terjadi ketika militer Israel mempertahankan blokade terhadap warga Palestina yang ingin keluar dari Gaza melalui penyeberangan Rafah ke Mesir untuk mendapatkan perawatan medis. Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) telah menghitung total 260 pasien yang meninggalkan Gaza sejak hari pertama pembukaan kembali dua setengah minggu lalu. Jumlah ini sebagian kecil dari sekitar 18.500 orang yang sangat membutuhkan evakuasi. 

photo
Warga Palestina menghadiri salat Tarawih di masjid al-Kinz pada malam pertama bulan suci Ramadhan di Kota Gaza, 17 Februari 2026. - (EPA/MOHAMMED SABER)

Jumlah tersebut bahkan jauh dari janji sebelumnya dari pejabat perbatasan Mesir bahwa setidaknya 50 warga Palestina akan menyeberang ke kedua arah mulai hari pertama. Sebaliknya, hanya lima pasien yang diizinkan keluar.

 

Jumlah syuhada

Jumlah korban jiwa yang sebenarnya akibat perang genosida Israel di Jalur Gaza kembali dilaporkan jauh melebihi perkiraan resmi sebelumnya. Pada setahun Genosida di Gaza sajan jumlahnya sudah lebih tinggi dari hitungan resmi hingga saat ini.

Survei Kematian Gaza (GMS), sebuah studi rumah tangga yang mewakili populasi yang diterbitkan dalam The Lancet Global Health, memperkirakan terdapat 75.200 “kematian akibat kekerasan” antara 7 Oktober 2023 hingga 5 Januari 2025. Angka ini mewakili sekitar 3,4 persen dari 2,2 juta penduduk Gaza sebelum konflik.

Angka dari survei terkini itu juga 34,7 persen lebih tinggi dibandingkan 49.090 “kematian akibat kekerasan” yang dilaporkan oleh Kementerian Kesehatan pada periode yang sama. Kementerian Kesehatan Gaza memperkirakan hingga 27 Januari tahun ini, setidaknya 71.662 orang telah syahid sejak dimulainya perang. Dari jumlah tersebut, 488 orang syahid sejak deklarasi gencatan senjata di Jalur Gaza pada 10 Oktober 2025. 

Israel mulanya secara konsisten mempertanyakan angka-angka yang dikeluarkan kementerian di Gaza. Namun belakangan seorang pejabat militer Israel mengakui bahwa pihaknya menerima bahwa sekitar 70.000 orang telah terbunuh di Gaza selama perang. 

photo
Warga Palestina berduka di samping jenazah syuhada akibat pengeboman Israel di Rumah Sakit Nasser di Khan Yunis, Jalur Gaza selatan, 15 Februari 2026, - (EPA/HAITHAM IMAD)

Meskipun angkanya lebih tinggi, para peneliti mencatat bahwa komposisi demografi korban – dimana perempuan, anak-anak, dan orang lanjut usia merupakan 56,2 persen dari mereka yang terbunuh – masih sangat konsisten dengan laporan resmi Palestina.

GMS, yang mewawancarai 2.000 rumah tangga yang mewakili 9.729 individu, memberikan landasan empiris yang kuat mengenai jumlah korban jiwa.

Michael Spagat, seorang profesor ekonomi di Royal Holloway University of London dan penulis utama studi tersebut, menemukan bahwa meskipun laporan Kementerian Kesehatan tetap dapat diandalkan, angka selama ini pada dasarnya konservatif karena runtuhnya infrastruktur yang diperlukan untuk mendokumentasikan kematian. 

Penelitian ini merupakan kemajuan dari temuan yang dipublikasikan di The Lancet pada Januari 2025, yang menggunakan pemodelan statistik untuk memperkirakan 64.260 kematian selama sembilan bulan pertama perang. Meskipun studi sebelumnya mengandalkan probabilitas untuk menandai jumlah yang kurang, laporan terkini beralih dari estimasi matematis ke verifikasi empiris melalui wawancara rumah tangga langsung. 

Laporan ini memperpanjang jangka waktu hingga Januari 2025, dengan mengonfirmasi jumlah korban kekerasan yang melebihi 75.000 jiwa dan menghitung, untuk pertama kalinya, beban “non-violent excess mortality” alias kematian tambahan oleh sebab-sebab nonkekerasan yang muncul menyusul situasi kemanusiaan di Gaza.

photo
Kekejaman Israel di RS Indonesia - (Republika)

Menurut komentar terpisah dalam publikasi yang sama, penghancuran sistematis rumah sakit dan pusat administrasi telah menciptakan “paradoks sentral” di mana semakin besar kerugian yang ditimbulkan pada sistem kesehatan, semakin sulit untuk menganalisis total jumlah korban jiwa.

Verifikasi semakin terhambat karena ribuan jenazah masih terkubur di bawah reruntuhan atau jenazahnya tercabik-cabik hingga tidak dapat dikenali lagi. Selain kekerasan langsung, survei tersebut memperkirakan terdapat 16.300 “kematian tanpa kekerasan”, termasuk 8.540 kematian “tambahan” yang disebabkan langsung oleh memburuknya kondisi kehidupan dan runtuhnya sektor medis yang disebabkan oleh blokade. 

Para peneliti menyoroti bahwa angka-angka Kementerian Kesehatan tampaknya konservatif dan dapat diandalkan, sehingga menghilangkan kampanye misinformasi yang bertujuan mendiskreditkan data korban warga Palestina. “Validasi pelaporan Kementerian Kesehatan melalui berbagai metodologi independen mendukung keandalan sistem pencatatan insiden administratif bahkan dalam kondisi ekstrem,” studi tersebut menyimpulkan.

Meskipun jumlah korban jiwa terus meningkat, para penyintas menghadapi beban cedera kompleks yang belum pernah terjadi sebelumnya sehingga sistem layanan kesehatan di Gaza tidak mampu lagi menangani mereka. 

Model prediktif multi-sumber yang diterbitkan di eClinicalMedicine menghitung 116.020 cedera kumulatif pada tanggal 30 April 2025. Penelitian yang dipimpin oleh para peneliti dari Duke University dan Rumah Sakit al-Shifa di Gaza, memperkirakan bahwa antara 29.000 dan 46.000 dari cedera tersebut memerlukan operasi rekonstruksi yang kompleks. 

photo
Pasien Palestina berkumpul di dalam Rumah Sakit Bulan Sabit Merah Palestina di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, sebelum menuju penyeberangan Rafah, 2 Februari 2026. - (EPA-EFE/HAITHAM IMAD)

Lebih dari 80 persen cedera ini disebabkan oleh ledakan, terutama serangan udara dan penembakan di wilayah perkotaan yang padat penduduknya. 

Ash Patel, seorang ahli bedah dan salah satu penulis penelitian ini, mencatat bahwa bahkan jika kapasitas bedah secara ajaib dikembalikan ke tingkat sebelum perang, dibutuhkan sekitar satu dekade lagi untuk menyelesaikan perkiraan backlog rekonstruksi korban luka di Gaza. Sebelum eskalasi terjadi, Gaza hanya memiliki delapan ahli bedah plastik dan rekonstruksi bersertifikat untuk populasi melebihi 2,2 juta orang.

Kesenjangan antara kebutuhan dan kapasitas rekonstruksi diperburuk oleh apa yang digambarkan para peneliti sebagai “penghancuran sistematis” infrastruktur medis. Pada Mei 2025, hanya 12 dari 36 rumah sakit di Gaza yang masih mampu memberikan perawatan di luar triase darurat dasar, dengan sekitar 2.000 tempat tidur rumah sakit tersedia untuk seluruh penduduk, turun dari lebih dari 3.000 tempat tidur sebelum perang. 

“Hanya ada sedikit atau bahkan tidak ada lagi kapasitas bedah rekonstruktif yang tersisa di Gaza,” penelitian tersebut menyimpulkan, memperingatkan bahwa keahlian khusus seperti bedah mikro hampir tidak ada. 

Tantangan klinis ini semakin diperburuk dengan penggunaan senjata pembakar oleh Israel, yang menyebabkan luka bakar parah dan patah tulang akibat ledakan. Dampak jangka panjang dari cedera ini seringkali tidak dapat diubah. Tanpa perawatan medis yang segera, pasien menghadapi risiko tinggi terkena infeksi luka, sepsis, dan cacat permanen. 

Data menunjukkan bahwa puluhan ribu warga Palestina akan tetap menderita cacat yang dapat diatasi dengan pembedahan seumur hidup kecuali ada peningkatan besar dalam kapasitas dan bantuan rekonstruksi internasional.

Pada bulan November, tim peneliti dari Max Planck Institute for Demographic Research memperkirakan bahwa 78.318 orang telah terbunuh di Gaza antara tanggal 7 Oktober 2023 dan 31 Desember 2024 – hampir sama dengan periode penelitian baru tersebut. Namun penelitian tersebut juga menunjukkan jumlah kematian tidak langsung yang jauh lebih tinggi, yang berkontribusi terhadap penurunan harapan hidup di Gaza sebesar 44 persen pada tahun 2023 dan sebesar 47 persen pada tahun 2024.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat