vp,,rm
Lukisan penangkapan Pangeran Diponegoro karya Raden Saleh | wikimedia commons

Kronik

Awal Baru dari Akhir Perang Jawa

Perang Diponegoro menandakan babak baru hubungan kolonial dan Islam Jawa.

OLEH WAHYU SURYANA, FITRIYAN ZAMZAMI

Ia adalah tanda kemarahan yang bertahan nyaris dua abad. Di sebuah bangku sederhana yang teronggok di ruangan sekitar enam kali enam meter di sebuah bangunan di Jalan Diponegoro 1, Magelang, Jawa Tengah.

Ada lemari kaca membingkai kursi untuk seorang dari kayu jati tersebut. Gagang kursi tersebut agak melebar. Di bagian kanan gagang kursi terlihat tanda kemarahan itu. Tampak tiga guratan yang masih meninggalkan bekas.

Guratan itu, kisahnya ditorehkan kuku-kuku Pangeran Diponegoro, panglima Perang Jawa. Ia dikabarkan menorehkan tanda itu pada 28 Maret 1830. Geram karena mengetahui sedang dijebak dalam perundingan dengan kolonial Belanda di bangunan yang kini jadi museum tersebut.

"Perundingan tidak menemui titik temu. Saking kesalnya Diponegoro dengan Belanda, ada guratan-guratan tangannya," kata sejarawan Museum Pengabadian Diponegoro di Magelang, Sunaryo, kepada Republika.

Dalam ruangan itu tersimpan juga jubah putih besar yang dahulu digunakan Diponegoro. Ada pula satu bale kayu yang menjadi tempat Diponegoro shalat selama penahanan. Kemudian, ada taqrib atau Alquran tulisan tangan yang disebut ditulis oleh Diponegoro.

photo
Museum Diponegoro di Magelang, Jawa Tengah. - (Republika/Aditya Pradana Putra)

Kejadian di lokasi itu adalah rentetan yang bermula pada 1825. Diponegoro, bangsawan Keraton Yogyakarta yang bernama kecil Mustahar, kala itu disebut tak terima bahwa jalan yang dibangun Belanda menyigar makam leluhurnya di Tegalrejo.

Namun, kejadian pemicu itu sedianya hanya bagian kecil dari rerupa kebijakan kolonial yang bikin kesal pribumi. Di antaranya soal pajak jalan, pajak pertanian, dan penetrasi ekonomi etnis lain.

Terlepas dari alasan mula perlawanannya, Diponegoro yang dianggap memberontak kemudian dikepung Belanda di kediamannya pada pertengahan 1825. Ia berhasil melarikan diri dan memimpin pemberontakan hebat dengan dukungan penuh dari rakyat, kalangan ulama, serta kaum bangsawan.

Salah satu ulama yang setia mendampingi Diponegoro adalah Kiai Mojo. Ulama itu selalu menegaskan, perang Diponegoro atau perang Jawa adalah jihad yang harus dilakukan semua umat Islam melawan kolonial Belanda. Diperkuat dengan Diponegoro yang dari kecilnya dikenal sebagai Muslim taat, Islam memang jadi pelecut semangat yang hebat di sisi pribumi.

Dari Yogyakarta, perang itu meluas ke Banyumas, Pekalongan, Semarang, Rembang, Madiun, dan daerah-daerah lain. Dihitung dengan skala apa pun, perang tersebut kemudian jadi perlawanan terbesar melawan Belanda di tanah Jawa. Ia hanya bisa diakhiri dengan pembantaian dan tipu daya terhadap Diponegoro di Magelang tersebut.

photo
Sejumlah warga mengikuti upacara bendera di Curug Tarung kawasan lereng gunung Prahu Dusun Gunung Wuluh, Canggal, Candiroto, Temanggung, Jawa Tengah, Selasa (18/8/2020). Upacara itu dilaksanakan di lokasi jalur perjuangan Pangeran Diponegoro. - (ANTARA FOTO/Anis Efizudin)

Pemerintah Hindia-Belanda menelan kerugian telak akibat peperangan melawan Pangeran Diponegoro. Diperkirakan pemerintah Hindia-Belanda harus menggelontorkan sekitar 20 ribu gulden untuk membiayai perang ini.

Dalam segi pasukan, Hindia-Belanda juga harus kehilangan sekitar 7.000 personel pasukannya. Pasukan pribumi yang wafat pada perang ini pun tak sedikit, yakni sekitar 20 ribu orang. Sedangkan warga sipil Jawa yang jadi korban diperkirakan mencapai 200 ribu jiwa.

Menurut sejarawan Inggris Peter Carey yang puluhan tahun meneliti Perang Diponegoro, perjuangan sang pangeran menandakan batas zaman. Sebelum konflik itu pecah pada 1825, hubungan antara pihak kolonial Eropa, termasuk Belanda, dan para raja Jawa cenderung setara.

Perang-perang yang terjadi merupakan suksesi para penguasa lokal, yang di dalamnya Belanda terlibat dengan menjalankan politik adu domba (devide et impera). Caranya ialah bekerja sama dengan seorang ningrat tertentu untuk menduduki tampuk kekuasaan sembari memusuhi ningrat lainnya.

Sejak berakhirnya Perang Diponegoro pada 1830, masuklah Nusantara ke tatanan kolonialisme seutuhnya. Belanda menjadikan raja-raja Jawa hanyalah bagian dari birokrasi kolonial. Hal ini terutama sejak diberlakukannya sistem tanam paksa yang dipelopori Gubernur Jenderal Van den Bosch yang menyeng sarakan rakyat nusantara.

photo
Tombak Kanjeng Kiai Rodhan ditampilkan dalam pameran Pamor Sang Pangeran di Museum Nasional, Jakarta, Jumat (6/11/2020). Pameran yang menampilkan pusaka peninggalan Pangeran Diponegoro tersebut berlangsung hingga 26 November 2020. Republika/Thoudy Badai - (Republika/Thoudy Badai)

Yang juga berubah sejak Perang Jawa adalah hubungan kolonial Belanda dengan Islam. "Tanda Islamphobia mulai muncul secara lebih leluasa semenjak berakhirnya perang Diponegoro (1830). Hal ini dilakukan oleh pemerintah kolonial karena merasa ketakutan terhadap kekuatan Islam yang besar, yang sewaktu-waktu bisa memicu perang berskala luas," kata doktor sejarah dari Universitas Indonesia Didik Pradjoko kepada Republika.

Dengan kata lain, bersamaan dengan berakhirnya Perang Jawa maka secara sistematis pula dimulailah berbagai kajian tentang Islam oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Pada akhir abad ke-19, hipotesis yang mulai baku bahwa bila kekuatan Islam dapat bersatu dengan kekuatan bangsawan lokal maka ini benar-benar akan memunculkan persoalan serius bagi keberadaan posisi kekuasaan kolonial Belanda.

Kekhawatiran itu juga dikentalkan karena pengaruh Islam tak kunjung surut meski Perang Jawa sudah lama usai. Pemberontakan yang dipimpin ulama, guru sufi, maupun mereka yang baru datang dari Tanah Suci meledak juga di Banten, Padang, dan Aceh.

"Pengaruh Islam di Jawa memang terasa menguat. Saya akan mengakui lebih dulu bahwa orang-orang Jawa kian kagum dengan berbagai pengaruh dan tokoh Muslim. Jadi, Islam memang jadi kian berbahaya untuk eksistensi kita di Jawa," tulis Carel Poensen, seorang misionaris Kristen anggota Masyarakat Misionaris Belanda (NZG) dalam surat dari Kediri tertanggal 22 April 1899.

photo
Pengunjung mengamati karya saat pameran sastra rupa Gambar Babad Diponegoro di Jogja Gallery, DI Yogyakarta, Selasa (5/2/2019). - (ANTARA FOTO)

Pada masa-masa itu juga Belanda mulai meminta masukan orientalis Snouck Hurgronje tentang cara menangani politik Islam. Salah satu nasihatnya yang sangat legendaris, yakni biarkan Islam berkembang asalkan itu hanya berada pada sisi ritual atau ibadah, dan segera berangus bila ada kekuatan Islam politik.

Dalam bukunya, tentang hubungan kolonialisme di Indonesia dan Islam, The Ummah Below the Winds (2002), Indonesianis Michael Laffan menuturkan, salah satu pandangan Hurgronje yang paling berdampak adalah soal emansipasi dan asosiasi sebagai jalan deislamisasi Jawa.

Hurgronje meyakini, mereka bisa menyingkirkan tendensi perlawanan Islam dengan menyediakan pendidikan Barat untuk pribumi, utamanya priyayi dan menjauhkan mereka dari ulama-ulama yang dianggap "fanatik".

Pemikiran ini kemudian jadi salah satu patokan pihak-pihak di Belanda yang mendukung Kebijakan asosiasi yang masuk dalam payung besar Politik Etis. Selain tentunya ada dorongan serupa dari para aktivis dan angota parlemen dari kalangan progresif dan Kristen untuk meningkatkan taraf hidup pribumi di tanah kolonial sebagai balas budi. Ini adalah salah satu tema umum kolonialisme bahwa pribumi hanya bisa dimajukan dengan suntikan paham-paham kebudayaan Barat.

Peneliti dari Universitas Utrecht, Maryse Kruithof, dalam thesisnya "Dutch missionary Encounters with Javanese Islam, 1850-1910" yang dipertahankan pada 2014 menyimpulkan, pemerintah kolonial memang mengubah kebijakan keagamaan mereka pada akhir abad ke- 19 untuk memadamkan politik Islam dan menahan Islamisasi.

photo
Buku Babad Diponego ditampilkan dalam pameran Pamor Sang Pangeran di Museum Nasional, Jakarta, Jumat (6/11/2020). Pameran yang menampilkan pusaka peninggalan Pangeran Diponegoro tersebut berlangsung hingga 26 November 2020. Republika/Thoudy Badai - (Republika/Thoudy Badai)

Kebijakan itu pada akhirnya berdampak pada para misionaris Kristen. Jika sebelumnya para misionaris dibatasi geraknya di Nusantara dengan dalih menjaga "Rust en Orde" alias ketertiban, kini mereka dianggap sebagai sekutu dalam melawan "fanatisme Islam". Para priyayi juga diberi kekuasaan dengan anggapan bisa menghalau Islamisasi.

Bukan kebetulan, tulis Maryse Kruithof, bahwa menjelang dan selama penerapan kebijakan itu, jumlah misionaris Kristen melonjak tajam di Jawa dan pulau-pulau lainnya. Hal ini sebab sedari mula, Hurgronje memang menilai, militansi para misionaris ampuh buat menjalankan Politik Asosiasi."Komunitas Kristen dipandang sebagai jalan yang sempurna untuk menciptakan konstituen yang loyal terhadap Kerajaan Belanda," tulis Maryse.

Pada dinamika masa tersebut, dari senja abad ke-19 hingga fajar abad ke-20, hiduplah Kartini. Dengan ayah seorang priyayi dan ibunda yang merupakan anak haji dan hajjah, Kartini datang dari dua sekaligus kalangan yang disasar Kebijakan Asosiasi, Politik Etis, dan emansipasi.

Dari lingkungan keluarga dan lokasi tinggalnya di pantai utara Jawa Tengah, ia juga mestinya akrab dengan gerakan Islamisasi yang meningkat kala itu.

photo
Siswa Sekolah Darurat Kartini berdiri di dekat patung RA Kartini saat upacara peringatan Hari Kartini di Museum Kebangkitan Nasional, Jakarta, Kamis (21/4/2022). - (Republika/Putra M. Akbar)

Jika membaca lengkap surat-surat Kartini yang dihimpun Joost Cote dalam Kartini-The Complete Writings 1898- 1904 (2018), DNA kebijakan Belanda masa itu terserak di mana-mana. Sebaliknya, sukar memahami konteks sepenuhnya surat-surat itu tanpa menimbang elan zaman tersebut.

Penolakan Kartini terhadap poligami pada awal-awal surat, misalnya, sejalan dengan pemahaman Protestan Calvinis Belanda yang juga menentang poligami. Demikian juga pemujaannya, pada mula-mula surat terkait keunggulan bangsa Belanda dan ketergantungan pribumi pada peradaban itu untuk meraih kemajuan.

Kartini dalam suratnya menyiratkan soal pembedaan kaum "putihan" dan "abangan", juga mengkritisi dengan keras telaahan Hurgronje terkait perempuan Islam Jawa. Sepanjang surat, apalagi jika hanya membaca Door Duisternis tot Licht (1911) yang memang tujuannya propaganda, Kartini tampak sebagai anak emas hasil kebijakan-kebijakan Belanda. 

Staadhuis, Sebuah Ladang Pembantaian

Staadhuis atau Gedung Balai Kota Batavia ini menyimpan sejarah paling buram bagi Kota Jakarta.

SELENGKAPNYA

Fatimah binti Maemun Pendakwah Perempuan Pertama Nusantara

Keanggunannya memikat Raja Majapahit.

SELENGKAPNYA

Malahayati binti Mahmud Syah, Laksamana Perempuan Perdana

Malahayati membentuk armada laut khusus yang berisi para janda prajurit Kerajaan Aceh.

SELENGKAPNYA