Branding baru ekonomi syariah yang diresmikan Presiden Joko Widodo. | KNEKS

Ekonomi

06 Jul 2022, 07:50 WIB

Jalan Baru untuk Memperbesar Ekonomi Syariah

UEA harus menjadi pintu masuk produk Indonesia ke kawasan Timur Tengah dan sekitarnya.

JAKARTA -- Kesepakatan kerja sama komprehensif antara Indonesia dan Uni Emirat Arab (IUAE-CEPA) dinilai akan menjadi jalan baru untuk memperbesar ekonomi syariah. Perjanjian dagang pertama yang memuat kerja sama ekonomi syariah itu menjadi jalan bagi Indonesia untuk memperkuat sumber daya ekonomi Islam sekaligus produk halal di kancah global.

Wakil Ketua Umum III Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Shinta Kamdani mengatakan, pengusaha sangat mendukung pengembangan kerja sama ekonomi syariah dengan UEA. "Kami rasa UEA sebagai sentra ekonomi di Timur Tengah sangat strategis sebagai mitra kita untuk menciptakan exposure, branding, dan daya saing yang lebih baik di pasar syariah global," kata Shinta kepada Republika, Senin (4/7).

 

Shinta mengatakan, potensi pertumbuhan ekonomi syariah sangat luas, baik dari sisi industri keuangan maupun produk halal. Meski menjadi negara dengan populasi penduduk Muslim terbesar, ekonomi syariah di Indonesia punya pertumbuhan yang lebih lambat dari negara lain di kawasan, seperti Malaysia atau Thailand.

"Sangat disayangkan dan sangat mengkhawatirkan karena kita cenderung menjadi pasar, padahal kita harusnya bisa menjadi market leader dalam ekonomi syariah global," katanya.

Direktur Eksekutif Core Indonesia Mohammad Faisal mengatakan, perjanjian dagang itu diharapkan bisa meningkatkan pertumbuhan ekspor yang lebih tinggi dari impor. Jika itu dicapai, Indonesia bisa membalikkan kinerja perdagangan saat ini yang masih defisit terhadap UEA.

Tercatat, total perdagangan Indonesia dan UEA mencapai 4 miliar dolar AS pada 2021 lalu. Ekspor Indonesia ke UAE sebesar 1,9 miliar dolar AS dan impor dari UEA sebesar 2,1 miliar dolar AS.

Menurut Faisal, UEA harus dimanfaatkan sebagai pintu masuk bagi produk Indonesia ke kawasan Timur Tengah dan sekitarnya. "Sejauh mana perjanjian ini bisa menjadi jembatan ekspor produk halal bukan hanya ke UEA, tapi ke sekitarnya," ujar dia.

Selain itu, Faisal juga menyoroti isu kesepakatan standardisasi produk halal kedua negara. Saat ini, Indonesia dianggap sebagai negara yang paling ketat dalam menerapkan standar halal demi melindungi produk dalam negeri.

 

"Kalau kemudian ada kesepakatan standar, apakah itu bisa buat produk halal dari luar masuk lebih mudah? Kalau ekspor kita juga jadi lebih mudah tidak masalah," katanya.

Ekonom dari Universitas Indonesia, Fithra Faisal, menuturkan bahwa sejak 2016, pihaknya bersama pemerintah telah membuat pemetaan negara potensial ekspor nontradisional. UEA menjadi salah satu dari sejumlah negara Timur Tengah yang dianggap punya prospek positif.

Dalam tahap awal penerapan kerja sama, ia mengatakan, pemerintah harus mendorong segala potensi produk halal yang bisa diekspor. Keinginan dan kemampuan pelaku usaha produk halal perlu mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah agar perjanjian itu memberikan buah manfaat bagi Indonesia.

"Ketika nanti sudah berjalan lancar, pasti akan diikuti dengan investasi yang signifikan, apalagi kedua negara sering membuat pertemuan informal," katanya.


Menggapai Haji Mabrur

Para peziarah ke Baitullah mengharapkan haji mereka mabrur.

SELENGKAPNYA

Menag Siapkan Sanksi Tegas Travel Ilegal

Kemenag dinilai perlu menata ulang tata kelola haji furoda.

SELENGKAPNYA

Adab Menyikapi Perbedaan Pendapat

Peta konsep penentuan awal Dzulhijah dalam fikih bisa dijelaskan dalam poin-poin berikut.

SELENGKAPNYA
×