Oni Sahroni | Daan Yahya | Republika

Konsultasi Syariah

05 Jul 2022, 06:42 WIB

Adab Menyikapi Perbedaan Pendapat

Peta konsep penentuan awal Dzulhijah dalam fikih bisa dijelaskan dalam poin-poin berikut.

 

 

DIASUH OLEH USTAZ DR ONI SAHRONI; Anggota Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia

Assalamualaikum Wr. Wb.

Pada tahun ini terjadi perbedaan penentuan awal Dzulhijah antara Pemerintah Indonesia dan Arab Saudi. Perbedaan ini menyebabkan ketidaksinkronan antara wukuf di Arafah dan 9 Dzulhijah di Indonesia. Bagaimana sikap kita menyikapi perbedaan tersebut? Mohon penjelasan, Ustaz. -- Ramdan, Bogor

Waalaikumussalam Wr. Wb.

Pemerintah melalui sidang itsbat yang diselenggarakan Kementerian Agama bersama ormas Islam menetapkan bahwa 1 Dzuhijah bertepatan dengan 1 Juli 2022 yang berarti puasa Arafah bertepatan dengan Sabtu tanggal 9 Juli, Idul Adha pada 10 Juli, dan hari Tasyrik pada 11, 12, dan 13 Juli.

Tidak sedikit masyarakat yang bertanya tentang penentuan tanggal-tanggal ini, khususnya saat puasa sunah Arafah yang berbeda dengan wukuf di Arafah (Arab Saudi).

Untuk mengurai peta konsep penentuan awal Dzulhijah dalam fikih bisa dijelaskan dalam poin-poin berikut. Pertama, penentuan awal Dzulhijah sangat terkait dengan apakah rukyah di suatu negara seperti di Indonesia dan Arab Saudi itu mengikat negara-negara lain.

Maksudnya, saat Arab Saudi menetapkan bahwa awal Dzulhijah itu hari Kamis apakah Indonesia dan negara-negara lain harus ikut serta atau tidak? Sesungguhnya, para ulama salaf dan khalaf sejak abad-abad pertama keislaman telah berbeda pendapat tentang hal ini.

Kedua, mayoritas ahli fikih dalam mazhab Hanafi, Maliki, dan Hanbali berpendapat bahwa apabila rukyah telah dilakukan di suatu negara, mengikat negara atau daerah lain. Berbeda dengan sebagian ulama, seperti Imam Syafi'i, Ibnu Taimiyah, Imam Tirmidzi yang berpendapat bahwa setiap daerah dan negara berhak untuk menetapkan awal bulan termasuk awal Hijriyah saat rukyah-nya berbeda dengan negara lain.

Ketiga, kedua pendapat tersebut adalah pendapat yang memiliki dalil dan menurut kaidah-kaidah istinbath pendapat yang boleh diambil menjadi pijakan lembaga fatwa. Pada tataran praktik, saat ada perbedaan pendapat di antara ahli fikih di suatu negara atau kawasan, putusan otoritas/pemerintah atau Kementerian Agama sebagai ulil amri itu menjadi pemutus perbedaan tersebut. Sebagaimana kaidah fikih, “Keputusan pemerintah (pemegang otoritas) menghilangkan ikhtilaf” (I’anat al-Thalibin, al-Dimyathi, 3/303).

 
Target persatuan dan soliditas umat tidak hanya dalam bentuk bersama memulai puasa pada hari yang sama.
 
 

Syekh ‘Athiyah Saqr menjelaskan, walaupun rukyah global itu ideal, rukyah lokal itu dapat menjadi pilihan. Target persatuan dan soliditas umat tidak hanya dalam bentuk bersama memulai puasa pada hari yang sama, tetapi juga dengan menerapkan adab-adab Islam dalam seluruh kehidupan secara bersama-sama dalam diri, keluarga, dan ruang lingkup yang lebih luas.

Keempat, di antara dalil bahwa setiap negara termasuk Indonesia bisa merujuk kepada rukyah lokalnya, bukan rukyah global adalah (a) Hadis Ibnu Abbas di Madinah memulai puasa Ramadhan berbeda dengan Mu’awiyah di Syam. “…Tidakkah cukup bagimu untuk mengikuti rukyah Mu’awiyah dan puasanya?” Ia menjawab, “Tidak, beginilah Rasulullah SAW memerintahkan kepada kami” (HR Muslim).

(b) Qiyas (analogi) di mana setiap negara menunaikan shalat sesuai dengan waktu di negaranya. Seperti waktu shalat Zhuhur di Indonesia berbeda dengan waktu shalat Zhuhur di Malaysia dan Arab Saudi.

(c) Sesungguhnya, puasa sunah Arafah itu terkait dengan waktu atau tanggal 9 Dzulhijah bukan terkait dengan tempat (wukuf di Arafah).

Kelima, jika realitasnya ada perbedaan pendapat di antara masyarakat, menjadi kewajiban setiap individu dan masyarakat untuk menghormati perbedaan tersebut tanpa debat, sarat dengan kesantunan, serta menjaga soliditas dan kebersamaan. Hal itu menjadi prinsip dalam Islam dan disepakati para ahli fikih.

Wallahu a’lam.


Waspada Cuaca Panas Puncak Haji

Petugas harus berusaha memastikan jamaah haji sehat sampai kembali ke Tanah Air.

SELENGKAPNYA

Perempuan dan Bonus Demografi

Tidak menjadi soal ketika perempuan memilih tidak berkarier di luar rumah.

SELENGKAPNYA

Upaya Kesehatan Sukseskan Armuzna

Semua bisa merasakan fasilitas yang sama di Armuzna.

SELENGKAPNYA
×