Kepala Pusat Kesehatan Haji Budi Sylvana saat menggelar apel siaga menjelang Armuzna bersama tenaga kesehatan haji (TKH) kelompok terbang (kloter), Senin (4/7/2022). | Ali Yusuf/Republika

Kabar Tanah Suci

05 Jul 2022, 03:45 WIB

Upaya Kesehatan Sukseskan Armuzna

Semua bisa merasakan fasilitas yang sama di Armuzna.

ALI YUSUF dari Makkah

Menjelang prosesi puncak ibadah haji, seluruh jamaah Indonesia telah berkumpul seluruhnya di Makkah. 3 Juli 2022 menjadi penerbangan terakhir jamaah haji dari Tanah Air mendarat di Bandara Internasional King Abdul Aziz, Jeddah.

Kantor Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) Madinah selaku bagian terpenting menyukseskan operasional Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) telah bergerak ke KKHI Makkah sejak tanggal 26 Juni 2022. Tim KKHI Madinah dibagi dalam tiga kelompok kedatangan.

Tim pertama berangkat pada tanggal 26 Juni 2022, terdiri dari enam orang dokter spesialis, yang diproyeksikan untuk membantu tim KKHI Makkah melakukan pelayanan kepada jamaah di KKHI.

Disusul tim evakuasi yang bergerak pada tanggal 27 Juni 2022, terdiri dari dua orang dokter spesialis dan dua orang perawat, bertugas mengevakuasi pasien terakhir yang dirawat di KKHI Madinah dan di RSAS untuk dibawa ke KKHI Makkah. Kemudian tim terakhir tiba di KKHI Makkah pada tanggal 28 Juni 2022.

Kepala KKHI Madinah, Enny Nuryanti mengatakan, dalam rencana operasional Armuzna, tim KKHI Madinah menerjunkan 102 personel. Sebanyak 75 PPIH kesehatan yang terdiri dari medis, perawat, dan penunjang serta 27 Tenaga Pendukung Kesehatan (TPK). Rencana operasional tim KKHI Madinah, dibagi ke dalam persiapan Pra Armuzna, Armuzna, dan pascaArmuzna.

 
Selama fase pra Armuzna, tim KKHI Madinah dipecah menjadi dua tim. Sebanyak 70 persen membantu pelayanan KKHI Makkah, sedangkan 30 persen lainnya membantu mempersiapkan pos kesehatan Mina. 
 
 

Selama fase pra Armuzna, tim KKHI Madinah dipecah menjadi dua tim. Sebanyak 70 persen membantu pelayanan KKHI Makkah, sedangkan 30 persen lainnya membantu mempersiapkan pos kesehatan Mina. Pada fase Armuzna, tim KKHI Madinah dibagi menjadi tiga satuan tugas, yaitu Tim Tarwiyah yang bertugas di Mina pada tanggal 7 Dzulhijjah.

Jumlah tim Tarwiyah ada empat orang, di antaranya satu dokter, dua perawat, dan satu TPK berangkat ke Mina tanggal 7 Dzulhijjah/6 Juli jam 19.30 WAS. Nanti berlanjut ke Arafah, bergabung dengan tim Mina.

Tim kedua adalah Tim Bawah Kendali Operasional (BKO) Arafah, merupakan tim yang dipindah tugaskan ke Arafah. Terdiri 10 orang di antaranya tiga dokter spesialis, dua dokter umum dan lima perawat, berangkat dari KKHI Makkah ke Arafah tanggal 8 Dzulhijjah/7 Juli pukul 05.00 WAS Tanggal 11 Dzulhijjah/10 Juli bergabung dengan Tim jaga Mina.

Sedangkan tim terakhir berfokus pada pelayanan di pos kesehatan Mina. Terdiri dari 62 orang PPIH Kesehatan di antaranya 17 dokter spesialis, tujuh dokter umum, satu dokter gigi, 12 perawat, dan 25 tenaga kesehatan lainnya serta 27 TPK. Tim diberangkatkan pada tanggal 9 Dzulhijjah/8 Juli jam 08.00 WAS. Kemudian pada tanggal 11 Dzulhijjah mendapat tambahan tenaga dari Tim Tarwiyah dan Tim BKO Arafah.

Pada fase pasca-Armuzna, seluruh personel tim KKHI Madinah kembali ke Makkah untuk persiapan keberangkatan menuju Madinah pada 19 Juli 2022. Tim ini selanjutnya melanjutkan pelayanan kepada jamaah haji gelombang kedua di KKHI Madinah.

 
Pada fase pasca-Armuzna, seluruh personel tim KKHI Madinah kembali ke Makkah untuk persiapan keberangkatan menuju Madinah pada 19 Juli 2022.
 
 

Pada 29 Juli setelah selesai shalat dzuhur, saya bersama tim KKHI Madinah meninjau tenda pos kesehatan Mina yang menjadi tempat bekerja tim KKHI Madinah melayani jamaah. Peninjauan dilakukan untuk memastikan tenda-tenda mina yang rusak diperbaiki.

Posko pelayanan kesehatan Mina bentuknya tenda semi permanen yang bahannya anti api. Ketika tim kesehatan KKHI Madinah datang, sudah banyak pekerja di dalam posko kesehatan Mina, mereka terlihat sibuk memperbaiki semua bagian tenda yang rusak.

Para pekerja terlihat sedang memasang glassfibre reinforced concrete (GRC) untuk menutup bagian samping kiri dan kanan tenda. Warna dasar putih GRC diganti dengan warna merah muda oleh pekerja lainnya. Pendingin ruangan juga terlihat sedang mereka perbaiki, karena terlihat sudah berkarat.

Maklum, beberapa bagian tenda ini banyak yang perlu diperbaiki, karena sudah dua tahun tidak digunakan jamaah haji. Posko kesehatan Mina ini panjangnya 27 meter dengan lebar 8 meter. Untuk memudahkan pelayanan kesehatan kepada jamaah haji, posko ini dibagi menjadi tujuh sekat.

 
Selama perjalanan, tenaga pendukung kesehatan berbagi cerita meski tanpa diminta, mereka menunjukkan di mana tenda raja dan penguasa.
 
 

Sekat pertama digunakan sebagai tempat istirahat petugas wanita, sekat kedua tempat istirahat petugas pria, sekat ketiga digunakan sebagai depo obat dan gizi. Sementara, sekat empat, lima, dan enam digunakan sebagai tempat pelayanan pos kesehatan Mina yang terdiri dari 20 bed yang dibagi untuk perempuan dan laki-laki, masing-masing 10 bed.

Sementara, sekat ketujuh yang posisinya di depan digunakan untuk pemeriksaan (triase), registrasi rekam medis, penanganan heat stroke dan moratorium atau tempat jenazah. Petugas kesehatan KKHI Madinah akan mulai memberikan pelayanan di Pos Kesehatan Mina ini pada 10 Dzulhijah pukul 00.00 WAS atau tanggal 9 Juli pukul 00.00 WAS sampai tanggal 13 Dzulhijjah atau tanggal 12 Juli hingga pukul jam 15.00 WAS.

Tepat pukul 15.30 WAS kita pulang meninggalkan Pos Mina yang masih dalam proses perbaikan. Sejauh mata mamandang tanah lapang di daerah masyair yang digunakan untuk prosesi Armuzna ini tertutup tenda-tenda. Sehingga, terlihat dari kejauhan tanah lapang ini seperti tumpukan salju putih merata.

 
Mendengar ada tenda berkelas, hati merasa miris kenapa masih ada kesempatan menonjolkan kelas sosial di sini.
 
 

Selama perjalanan, tenaga pendukung kesehatan berbagi cerita meski tanpa diminta, mereka menunjukkan di mana tenda raja dan penguasa. Begitu detail mereka menunjukkan di mana letak tenda untuk haji khusus, putra mahkota, pangeran, sultan, dan pejabat tinggi lainnya.

Katanya tenda-tenda mereka kelas very-very important person (VVIP) ada di puncak lengkap dengan fasilitas pendaratan helikopter. Mendengar ada tenda berkelas, hati merasa miris kenapa masih ada kesempatan menonjolkan kelas sosial di sini.

Bukankah pada saat di Arafah memakai pakain yang sama, kain ihram warna putih. Pada saat itu semua manusia sama di hadapan Allah SWT. Saya hanya bisa berdoa mudah-mudah satu saat nanti tidak ada kelas sosial yang ditonjolkan, sehingga semua bisa merasakan fasilitas yang sama di Armuzna sesuai semangat PPIH Arab Saudi yang mendoakan jamaah haji agar menjadi ‘haji mabrur, haji sehat, haji barakah’. 


×