Pelaku UMKM Ratih Anggun Perdhani meracik teh dengan campuran berbagai macam rempah-rempah di Nala Indonesia Tea, Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Kamis (9/6/2022). | ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra

Opini

05 Jul 2022, 03:45 WIB

Perempuan dan Bonus Demografi

Tidak menjadi soal ketika perempuan memilih tidak berkarier di luar rumah.

RINI TRI HADIYATI, Statistisi Muda di Badan Pusat Statistik

Bonus demografi ditandai dengan perbandingan jumlah penduduk usia produktif lebih banyak ketimbang usia nonproduktif. Bonus demografi ditandai rendahnya rasio ketergantungan.

Berdasarkan hasil Sensus Pendududuk (SP2020) rasio ketergantungan di Indonesia 41,40 persen. Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif hanya menanggung kurang dari separuhnya, sekitar 41 orang penduduk usia nonproduktif.

Menjadi “bonus” manakala penduduk usia produktif benar-benar produktif alias menjalankan fungsi ekonominya. Dengan pendapatan tinggi dan beban rendah, maka pendapatan yang tercipta dalam ekonomi dapat digunakan meningkatkan produktivitas.

 
Menjadi “bonus” manakala penduduk usia produktif benar-benar produktif alias menjalankan fungsi ekonominya. 
 
 

Produk domestik bruto (PDB) akan meningkat. Masyarakat semakin sejahtera. Ini berarti melimpahnya penduduk usia produktif menjadi bonus untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat itu sendiri.

Penduduk usia produktif termasuk perempuan di dalamnya. Dari hasil SP2020, jumlah penduduk perempuan di Indonesia 133,54 juta orang. Tidak jauh selisih dengan jumlah penduduk laki-laki yang 136,66 juta orang. Namun, jangan tanya apakah partisipasi keduanya sudah sejalan.

Sebab dari Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas), terlihat partisipasi angkatan kerja (TPAK) perempuan hanya 54,27 persen. Jauh di bawah TPAK laki-laki, 83,65 persen. Rendahnya TPAK perempuan menandakan hampir separuh perempuan tak tertarik pada dunia kerja.

Sebagian besar perempuan, tampaknya lebih memilih mengurus rumah tangga.

 
Tidak menjadi soal ketika perempuan memilih tidak berkarier di luar rumah. Namun menjadi hal lain ketika perempuan yang ingin berkarier di dunia kerja tetapi sulit mendapat kesempatan.
 
 

Peran perempuan

Bonus demografi memiliki empat prasyarat. Pertama, penduduk usia produktif harus berkualitas. Kedua, partisipasi perempuan dalam dunia kerja ditingkatkan. Ketiga, pemerintah harus menciptakan sebanyak mungkin lapangan kerja. Keempat, tingkat kelahiran dikendalikan.

Prasayarat terakhir tampaknya sudah tidak menjadi masalah, ditunjukkan total fertility rate (TFR) sebesar 2,4. Maknanya, rata-rata jumlah anak yang dimiliki seorang perempuan dua hingga tiga anak.

Minimnya peran perempuan dalam dunia kerja memang tak selalu berujung kemunduran. Sebab perempuan yang memutuskan menjadi ibu rumah tangga juga memiliki peran tersendiri. Mereka memberi kontribusi lebih, dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa.

Tidak menjadi soal ketika perempuan memilih tidak berkarier di luar rumah. Namun menjadi hal lain ketika perempuan yang ingin berkarier di dunia kerja tetapi sulit mendapat kesempatan.

Sulit mendapat kesempatan

Kesenjangan antara laki-laki dan perempuan terus berulang, dalam pendidikan, kesehatan politik, dan sebagainya. Salah satu indikator untuk melihat capaian pembangunan manusia adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

 
Kesenjangan antara laki-laki dan perempuan terus berulang, dalam pendidikan, kesehatan politik, dan sebagainya.
 
 

IPM dibangun melalui pendekatan  pendidikan, kesehatan, dan standar hidup layak.  Perbandingan IPM perempuan dan laki-laki menghasilkan apa yang disebut Indeks Pembangunan Gender (IPG). Semakin kecil jarak IPG dengan nilai 100, semakin setara laki-laki dan perempuan.

IPG Indonesia 2021 sebesar 91,27. Ini berarti, masih terdapat ketimpangan laki-laki dan perempuan, meski terlihat tidak mengkhawatirkan. Selain IPG, satu lagi indikator untuk mengungkap aspek gender, yakni Indeks Pemberdayaan Gender (IDG).

IDG menunjukkan apakah perempuan dapat secara aktif berperan dalam ekonomi dan politik. IDG yang mendekati nilai 100 merujuk pada kesetaraan. IDG Indonesia 2021 sebesar 76,26. Masih cukup timpang peran antara laki-laki dan perempuan.

Kedua indikator di atas disinyalir masih mengandung kelemahan. Karena itu, United Nations Development Programme (UNDP) merilis Gender Inequality Index atau  Indeks Ketimpangan Gender (IKG).

 
IKG dianggap lebih tepat menggambarkan pemberdayaan sekaligus kesejahteraan laki-laki dan perempuan.
 
 

IKG dianggap lebih tepat menggambarkan pemberdayaan sekaligus kesejahteraan laki-laki dan perempuan. IKG bernilai antara 0-1, semakin mendekati 0, laki-laki dan perempuan semakin setara.

Pada 2019, IKG Indonesia 0,480, urutan ke-121 dari 162 negara. Peringkat pertama Swiss dengan IKG 0,025. Urutan kedua Denmark (0,038) dan Swedia urutan ketiga (0,039). Di kawasan ASEAN, Singapura meraih capaian terbaik, yaitu 0,065. Peringkat 12 dunia.

IKG dihitung dari angka kematian ibu (maternal mortality rate/MMR), angka kelahiran remaja (age specific fertility rate/ASFR), perempuan di parlemen, persentase penduduk berusia 25 tahun ke atas  berpendidikan minimal SMP dan TPAK.

Capaian komponen IKG yang cukup mengkhawatirkan bagi Indonesia adalah MMR dan persentase penduduk 25 tahun ke atas yang berpendidikan minimal SMP. MMR Indonesia 177 dari 100 ribu kelahiran hidup.

 
Capaian komponen IKG yang cukup mengkhawatirkan bagi Indonesia adalah MMR dan persentase penduduk 25 tahun ke atas yang berpendidikan minimal SMP. MMR Indonesia 177 dari 100 ribu kelahiran hidup.
 
 

Bandingkan dengan MMR Malaysia sebesar 29 atau Singapura sebesar 8 per 100 ribu kelahiran.

Demikian pula persentase perempuan 25 tahun yang berpendidikan minimal SMP hanya 46,8 persen. Ini berarti lebih dari separuh perempuan Indonesia berpendidikan SD ke bawah. Wajar saja jika lebih banyak perempuan yang tidak terjun ke dunia kerja.

Perlu kerja keras mengentaskan perempuan putus sekolah. Peningkatan fasilitas kesehatan diiringi penyebarluasan informasi terkait kehamilan, juga tak kalah penting untuk menurunkan angka MMR.

Jika kebutuhan dasar perempuan lebih diperhatikan, perempuan bisa menjadi tenaga kerja andal. Maka, bonus demografi yang diprediksi berlangsung hingga 2037 dapat dimanfaatkan lebih optimal.


×