Jamaah dari Kloter Solo (SOC)1 dan Jakarta Pondok Gede (JKG) 1 tiba di Bir Ali, Madinah, untuk mengambil miqat untuk berihram sebelum berangkat ke Masjidil Haram, Makkah, Ahad (12/6/2022). | Achmad Syalaby Ichsan/Republika

Kabar Tanah Suci

27 Jun 2022, 03:32 WIB

‘Wajah’ Jamaah Kita

Terbatasnya akses masuk ke Raudhah bahkan sempat disiasati oleh beberapa oknum mutawif.

 

OLEH ACHMAD SYALABY ICHSAN

Menjelang Zhuhur di Amjaad Al Gaara Hotel, kesibukan tampak di lobi. Tumpukan koper yang baru tiba menambah hiruk pikuk para tamu.

Mayoritas jamaah pria dari salah satu embarkasi yang baru saja datang ternyata sudah tidak tahan karena mulutnya yang sudah asam. Mereka harus berpuasa rokok setelah menempuh jarak sembilan jam penerbangan. 

Kepulan rokok pun serentak memenuhi ruangan. Suasana makin meriah dengan deringan alarm asap pendeteksi kebakaran. Suaranya nyaring dan bising. Detektor otomatis itu baru mau berhenti saat jamaah diberi pengertian bahwa merokok tidak boleh di dalam kamar dan lobi.

Isu rokok memang sudah sedari awal diingatkan petugas karena aturan dari Arab Saudi terbilang ketat. Rokok dilarang di area publik, apalagi di area sekitar Masjid Nabawi. Barang siapa yang nekat maka akan didenda 200 Riyal. Beruntung, hingga saat ini belum ada jamaah yang terkena denda.

Imbauan dari Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) agar jamaah jangan merokok di area masjid setidaknya dipatuhi. Namun, mereka tidak mampu menahan diri untuk merokok di serambi.

photo
Kerabat melambaikan tangan pada jamaah calon haji saat pelepasan dan pemberangkatan jemaah haji kloter pertama di Bumi Perkemahan, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, Ahad (26/6/2022). Sebanyak 182 orang jemaah calon haji dari Pangandaran diberangkatkan menuju Asrama Haji Embarkasi Bekasi dan rencananya diterbangkan ke Tanah Suci pada 28 Juni 2022 menuju Arab Saudi. - (ANTARA FOTO/Adeng Bustomi/hp.)

Selain soal rokok, masih banyak kasus jamaah yang lupa jalan pulang, bahkan sempat hilang. Kasus terakhir ini sempat diceritakan oleh Sekretaris Seksi Khusus Nabawi Daker Madinah, Jasaruddin. Ada jamaah perempuan yang sempat dicari-cari oleh teman sekamarnya seharian. Ia ternyata sedang asyik beriktikaf di dalam masjid tanpa memberitahu pimpinan rombongan. 

Untuk memenuhi kebutuhan perut, dia meminta tolong jamaah dari negara lain untuk membelikan makanan. Demi ukhuwah sesama Muslimah, jamaah itu turut mencari bahan pangan di sekitar Nabawi. Jamaah itu larut dalam iktikafnya, sementara teman serombongan panik dalam pencarian. “Dua kali dia hilang. Kalau ketiga, saya kasih botol,” ujar Jasaruddin.  

Untuk jamaah lupa jalan pulang alias tersesat, sudah banyak kejadiannya. Teranyar dialami oleh jamaah pria asal Bekasi berusia sekitar 50 tahun. Setelah menunaikan ibadah shalat Zhuhur di Masjid Nabawi, bapak asal Embarkasi Jakarta-Bekasi (JKS) itu memisahkan diri dari rombongan. Miripnya nama hotel dan pintu yang tidak dihafal membuat jamaah tersebut sulit kembali ke pemondokan. 

Alhasil, dia harus berjalan selama kurang lebih tiga jam. Beruntung, ada seorang warga Madinah yang mengantarnya ke kantor Daker Madinah di kawasan Al Mashani dengan mobil tua. 

Saya tidak tega melihat kondisi bapak itu yang kuyu. Kakinya sudah menghitam. Matanya pun tampak nanar. Tak terbayang ada warga Bekasi yang berjalan di tengah suhu mencapai 45 derajat Celsius. Beruntung, selagi muda, bapak itu memang berprofesi sebagai atlet balap sepeda. Dia masih bisa sadar meski tampak amat kelelahan. 

Peristiwa unik lainnya juga terjadi di antrean masuk Raudhah, Masjid Nabawi. Kala itu, aturan tasrekh sebagai tiket masuk jamaah ke Raudhah memang masih dalam proses. 

photo
Jamaah haji asal Turki memotret Raudhah di Masjid Nabawi, Madinah, beberapa waktu lalu. Jamaah harus bergiliran untuk bisa berdoa di tempat yang mustajab doa ini - (Yogi Ardhi)

Tidak sedikit jamaah yang kesal karena tak mampu masuk ke taman surga itu. Padahal, Rasulullah menjanjikan doa-doa akan diijabah bagi mereka yang memohonkannya di area antara maqam dan masjid. 

Seorang jamaah asal Embarkasi Jakarta-Pondok Gede (JKG) pun memaksa masuk ke antrean. Pria yang jemarinya tampak mengenakan cincin batu akik ukuran jumbo itu melompati pagar barikade. Alhasil, askar menangkapnya bersama handphone yang dibawanya. Handphone itu akhirnya dikembalikan setelah jamaah itu dibantu oleh petugas haji PPIH.

Terbatasnya akses masuk ke Raudhah bahkan sempat disiasati oleh beberapa oknum mutawif (pemandu ziarah) sebagai salah satu ajang bisnis mereka. Modusnya ada dua. Pertama, penyalahgunaan tasrekh dengan membawa tasrekh lama yang bukan untuk jadwal jamaah yang mereka bawa.

photo
Jamaah haji Indonesia gelombang pertama mulai melaksanakan umrah di Masjidil Haram, Makkah, Senin (13/6/2022). - (Tim MCH)

Mereka memanfaatkan kedekatan dan kelengahan askar yang tengah menangani begitu banyak orang. Modus lainnya adalah pemalsuan. Oknum mutawif akan mengubah jadwal masuk tasrekh sesuai dengan kebutuhan para jamaah. Banyak yang memanfaatkan jasa mereka. 

Untungnya, kasus tersebut sudah ditangani PPIH dengan cepat sehingga tidak ditindaklanjuti pihak Arab Saudi. Jika ada laporan tasrekh palsu, akan runyam urusannya. 

Tidak hanya itu, barang tercecer juga sempat dialami jamaah haji kita. Tidak hanya uang, tetapi surat tanah yang nilainya ratusan juta rupiah. Uang senilai Rp 17 juta beserta dokumen berharga tersebut tertinggal saat jamaah asal Solo itu berangkat menuju ke Makkah untuk menunaikan umrah wajib. 

Dia beruntung karena barang dan uang ditemukan pihak Silver Tabah Hotel Madinah dan kemudian dikembalikan kepada petugas setempat. PPIH lantas meneruskan barang tersebut ke Makkah. Mendengar itu, saya hanya melongo melihat surat tanah dijadikan salah satu bekal jamaah. 

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Kementerian Agama RI (kemenag_ri)

Taat aturan (subjudul)

Meski ada saja ragam kasus unik dari jamaah kita, sidang pembaca di Tanah Air patut berbangga. Mayoritas jamaah haji Indonesia amat patuh dengan protokol kesehatan. 

Menjelang masuk ke Masjid Nabawi untuk melakukan ibadah Arbain, mereka sudah berjalan dengan masker terpasang. Jika ada jamaah yang lupa membawa, petugas selalu sigap memberikan jamaah dengan masker cadangan. 

Tingkat kasus Covid-19 di Arab Saudi yang belakangan ini mencapai 700-1.000 kasus membuat para petugas terus mengimbau agar jamaah memperhatikan prokes. Tingginya tingkat kesadaran jamaah mengenakan masker pun dinilai berpengaruh dalam menurunkan kasus penyakit paru jamaah RI di Tanah Suci. 

Jika pada musim haji sebelum pandemi kasus tersebut selalu menduduki peringkat pertama, penyakit paru-paru justru berada di peringkat bawah pada musim haji kali ini. Klinik Kesehatan Haji Indonesia Daker Madinah hanya mencatat ada tiga pasien dengan penyakit paru-paru yang menjalani rawat inap di rumah sakit. Padahal, KKHI sudah membawa lima dokter spesialis untuk mengantisipasi pasien paru-paru, apalagi musim haji ini masih pada masa pandemi. 

Begitu pula soal ketertiban. Meski ada beberapa oknum yang nakal karena tidak sabar dengan antrean, mayoritas jamaah kita jauh lebih tertib daripada negara lain. Menjadi jamaah dengan populasi terbanyak di Tanah Suci tidak membuat mereka sulit diatur. 

Meski harus mengantre untuk masuk ke Raudhah di bawah suhu 42-45 derajat Celsius pada sore hari, mereka tetap tegar. Jarang ada yang terlihat mendahului barisan. Begitu pun jamaah yang memiliki jadwal masuk Raudhah pada tengah malam, mereka tetap patuh di tengah kantuk yang sudah menggelayut. Para petugas dengan sigap mengatur antrean. 

Supriyono, salah satu petugas linjam Seksus Nabawi, terus mengingatkan, “Jamaah Indonesia dikenal sebagai jamaah yang tertib. Jangan rusak nama negara kita, ya, bapak-bapak!” 

Menyaksikan pemandangan itu, saya menjadi optimistis bahwa jamaah kita bisa melalui musim haji kali ini dengan jauh lebih membahagiakan. Mereka bisa dibilang jauh lebih bugar dari jamaah musim haji sebelumnya karena berusia maksimal 65 tahun. Jumlah jamaah yang lebih sedikit pun akan membuat haji musim ini terasa lebih nyaman. 

Tidak mustahil jika pengalaman pada 2019 lalu terulang. Saat itu, jamaah kita merupakan jamaah terbanyak yang bisa menikmati fasilitas pulang cepat (Eyab) karena dinilai sebagai jamaah paling tertib. Semoga jamaah kita bisa mempertahankan baik rupa “wajah”-nya. n

 


Peta Dunia Karya Monumental Al-Idrisi

Dalam membuat peta dunia, sang ilmuwan Muslim didukung Raja Roger II.

SELENGKAPNYA

Al-Idrisi Sang Perintis Peta Dunia

Muhammad al-Idrisi membuat peta dunia pertama yang begitu informatif yang sudah selesai dikerjakan pada 1154.

SELENGKAPNYA

Islam di Negeri Alpen

Komunitas Muslim menjadi bagian dari dinamika dan masyarakat Swiss.

SELENGKAPNYA
×