ILUSTRASI. Para pezikir tidak rakus akan materi. | Tahta Aidilla/Republika

Tuntunan

26 Jun 2022, 09:42 WIB

Cahaya Batin Pezikir

Para pezikir tidak rakus akan materi, seperti yang dicontohkan Ibrahim bin Adham (718-782 M).

OLEH ERDY NASRUL

Rasulullah dalam hadis riwayat Bukhari mengumpamakan para pezikir sebagai makhluk yang benar-benar hidup (al-hayyu). Sedangkan, mereka yang tidak berzikir adalah laksana bangkai (al-mayyit) yang hanya diam dan menebar kebusukan.

Para pezikir tak bisa disejajarkan dengan konglomerat yang secara kasatmata hidup serbamewah dan penuh kebahagiaan. Dia bukan seperti para pencinta dunia yang bergelimang harta dan takut kehilangan uang dan kebendaan walau sedikit.

Para pezikir terlihat biasa, bahkan tak menarik, karena dia tidak mengenakan pakaian terbaik, tidak mengenakan parfum yang mahal, atau tidak menampilkan keduniaan yang indah. Hidupnya sederhana. Dia makan seadanya, bahkan lebih sering berpuasa untuk mengekang nafsu dan menjernihkan mata batin, sehingga penglihatannya menembus segala keindahan yang menutupi berbagai kebusukan diri ahli maksiat dan munafik.

 
Para pezikir tak bisa disejajarkan dengan konglomerat yang secara kasatmata hidup serbamewah dan penuh kebahagiaan.
 
 

Para pencinta dunia belum tentu mau mendatanginya. Para penguasa zalim akan dibutakan matanya ketika melihat dia. Orang penuh dosa akan tertutup hatinya sehingga mengabaikan orang semacam ini, kecuali mereka yang dikasihi Allah (illa man rahima rabbih).

Para pezikir tidak rakus akan materi, seperti yang dicontohkan Ibrahim bin Adham (718-782 M) yang mengurus ternak, lalu mendapatkan sedikit keuntungan untuk melanjutkan kesederhanaan hidup dan menguatkan kekayaan hatinya. 

Apa yang dia cari adalah sekadar untuk menguatkan keasyikannya bersujud seperti Ali Zainal Abidin as-Sajjad bin Husein bin Ali bin Abi Thalib wa Fatimah az-Zahra binti Rasulillah, yang mengisi hari-harinya dengan sujud di Masjid al-Haram.

Para pezikir mengagungkan asma Allah dalam keseharian, pada pagi hingga malam, dalam bahagia dan derita, dalam keadaan sehat dan sakit. Semua itu dilaluinya dengan menguatkan la ilaha illa Allah di lisan dan menjadikannya energi keimanan di hati. 

Para pezikir bertasbih (mengucap subhanallah) 100 kali dalam sehari sehingga Allah menuliskan seribu kebaikan untuknya dan menghapus seribu keburukannya, sebagaimana dijelaskan Rasulullah dalam hadis riwayat Muslim.

Zikir secara lahir dan batin adalah sebaik-baiknya perbuatan (khairul a’mal), harta (sesungguhnya) yang suci, derajat yang tinggi, perbuatan yang lebih mulia dari menginfakkan emas dan perak, dan perbuatan yang lebih hebat dari menghabisi musuh. Itu dijelaskan Rasulullah kepada para sahabat yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah.

Syarat berzikir

Syekh Abdul Qadir Jailani dalam Sirrul Asrar menjelaskan syarat berzikir adalah kesucian. Sebelum menyebut Allah, pezikir akan menyucikan dirinya dari berbagai hadas. Jika berhadas kecil maka dia akan berwudhu. Kemudian melafalkan kalimat zikir dengan hentakkan yang kuat dan suara lantang.

Untuk apa? Sulthanul Auliya menjelaskan hal itu adalah untuk menyalakan cahaya batin para pezikir. Hati mereka menjadi hidup dengan cahaya tersebut sehingga memunculkan kesadaran hakiki bahwa kehidupan akhirat adalah yang abadi, sedangkan kehidupan duniawi adalah sementara dan fana. 

Zikir yang sungguh-sungguh akan membawa pelakunya menuju derajat kekasih Allah yang selalu mengagungkan asma-Nya, seperti para nabi dan rasul, baik ketika hidup di dunia maupun di alam kubur. Hidupnya diisi dengan munajat. Derai air mata membasahi pipinya sebagai bentuk penyesalan atas dosa yang dilakukan dan wujud kerinduan kepada Allah dan rasul-Nya.

 
Zikir yang sungguh-sungguh akan membawa pelakunya menuju derajat kekasih Allah yang selalu mengagungkan asma-Nya.
 
 

Zikir dijalankan secara berkesinambungan atau istiqamah. Dan dengan berzikir, Allah terus mengingat si pezikir, memuluskan jalan hidupnya, dan memudahkan segala urusannya. Allah menjaganya dari dosa, maksiat, marabahaya, dan azab.

Keburukan para pezikir adalah keburukan yang dicintai Allah. Dan kebaikan mereka adalah kebaikan yang tidak membuat Allah murka, sebagaimana doa Abu Hasan Ali as-Syadzili al-Hasani, “Allahumma ij’al sayyiatina sayyiati man ahbabta, wa la taj’al hasanatina hasanati man abghadta.”

Hadiah dari Allah untuk para pezikir adalah makrifat. Mereka masuk ke dalam golongan orang-orang arifun. Mereka menjadi orang-orang suci yang selalu bermunajat meski kedua mata tertidur, sebagaimana sabda Rasulullah, “Tanamu ayni wa la yanamu qalbi.”


Peta Dunia Karya Monumental Al-Idrisi

Dalam membuat peta dunia, sang ilmuwan Muslim didukung Raja Roger II.

SELENGKAPNYA

Al-Idrisi Sang Perintis Peta Dunia

Muhammad al-Idrisi membuat peta dunia pertama yang begitu informatif yang sudah selesai dikerjakan pada 1154.

SELENGKAPNYA

Pererat Ukhuwah dengan Kurban

Islam mengajarkan, pentingnya kepedulian, khususnya kepada orang yang membutuhkan pertolongan.

SELENGKAPNYA
×