Ustaz Asep Shalahuddin. | DOK IST

Hiwar

26 Jun 2022, 06:23 WIB

Pererat Ukhuwah dengan Kurban

Islam mengajarkan, pentingnya kepedulian, khususnya kepada orang yang membutuhkan pertolongan.

 

Dalam waktu dekat, umat Islam di seluruh dunia akan menyambut Hari Raya Idul Adha 1443 Hijriah. Inilah momen rutin tahunan yang di dalamnya orang-orang menyembelih hewan kurban untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Anggota Divisi Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhamamadiyah, Ustaz Asep Shalahuddin menjelaskan, kurban merupakan salah satu ibadah yang bersifat sosial kemanusiaan. Menurut dia, ibadah ini mengajarkan umat untuk tidak melupakan saudaranya yang sedang diimpit kesukaran. Dalam hidup ini, tiap Muslim hendaknya dan mempererat rasa persaudaraan atau ukhuwah.

“Jadi, kurban itu bisa meningkatkan rasa persaudaraan,” ujar alumnus Pondok Pesantren Darul Arqam Garut ini kepada Republika, Rabu (22/6).

Ustaz Asep menjelaskan, banyak hikmah yang bisa dipetik dari Idul Adha. Namun, menjelang Idul Adha tahun ini tiba-tiba muncul wabah penyakit mulut dan kuku (PMK). Alhasil, dalam kegiatan penyembelihan hewan kurban umat Islam harus lebih berhati-hati.

Lalu, apa saja hikmah di balik syariat yang dilakukan pertama kali oleh Nabi Ibrahim AS itu? Bagaimana ibadah kurban ini meningkatkan ukhuwah? Dan apa saja yang perlu dilakukan umat Islam untuk menyembelih di tengah wabah PMK?

Berikut wawancara lengkap wartawan Republika, Muhyiddin bersama Ustaz Asep, beberapa waktu lalu.

Bagaimana sebaiknya hari raya Idul Adha dimaknai dalam konteks saat ini?

Ya, setiap tahun kita pasti akan menjumpai Idul Adha. Hanya saja, sekarang ini kita harus memaknai Idul Kurban pada masa pandemi. Maka, kembali kepada pemahaman atas Idul Adha itu sendiri, yakni kembali berbagi. Kedermawanan itu disimbolkan dengan penyembelihan hewan kurban.

Apa saja hikmah di balik syariat yang pertama kali dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS itu?

Dalam kurban itu, ada banyak hikmah yang kita bisa petik. Misalnya, dalam hal berkeluarga, yakni seperti keluarganya Nabi Ibrahim AS. Maka, hendaknya kita bisa mewujudkan keluarga yang utuh. Antara suami, istri, dan anak-anak bisa menerapkan pola komunikasi yang baik.

Intinya, dialog itu penting. Nabi Ibrahim kala mendapatkan perintah dari Allah SWT untuk menyembelih putranya, tidak serta merta melaksanakannya. Ia terlebih dahulu berdialog dengan keluarganya, dengan anaknya.

Sementara itu, Ismail AS pun sudah dididik menjadi insan yang bertakwa. Maka inilah jawaban atas pernyataan ayahnya. Dirinya yakin bahwa kalau itu adalah perintah Allah, pasti benar adanya. Di sini, ada komunikasi yang baik antara orang tua dan anak.

Tentunya, ibadah kurban mendorong kita untuk gemar berbagi. Nabi Ibrahim diketahui juga senang menjamu orang, khususnya tamu yang datang ke rumahnya. Artinya, ada kepekaan sosial.

Dalam surat al-Hajj ayat 36, terdapat penjelasan bahwa seseorang yang berkurban tidak hanya memakan sebagian dari daging hewan kurban itu. Ia pun bisa memberikan pelayanan atau kesejahteraan kepada yang orang-orang di sekitarnya, baik orang yang meminta maupun yang tidak menengadahkan tangan.

Apakah maksud hadis “Barangsiapa yang mempunyai kemampuan, tetapi tidak berkurban, maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami”?

Hadis itu diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Abu Hurairah. Dalam memahaminya, perlu juga mengaitkannya dengan pandangan para ulama mengenai hukum kurban. Seperti Imam Hanafi, misalnya. Ia berpendapat bahwa kurban itu wajib.

Dalam surah al-Kautsar, dijelaskan bahwa “Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkurbanlah.” Pada ayat itu, perintah kurban bersanding dengan perintah shalat, yang merupakan kewajiban bagi setiap Muslim.

Ada juga hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah. Isinya juga mengandung ancaman yang tinggi. Karena itu, ada golongan ulama yang mengatakan bahwa hukum kurban menjadi wajib.

Namun, ada lagi yang berpendapat, unsur perintahnya tidak tegas. Maka, kurban dipandang bukan wajib, melainkan sunah muakkad, sunah yang dikuatkan.

Intinya, hadis itu berimplikasi kepada perbedaan pemahaman di kalangan para ulama. “Jangan mendekati tempat shalat kami” itu sendiri tidak dipahami secara harfiah. Pahami itu sebagai ancaman bagi orang yang mempunyai kelapangan rezeki, tetapi enggan berkurban.

Bagaimana ibadah kurban dapat mendorong umat untuk meningkatkan rasa persaudaraan?

Rasa saling bersaudara atau ukhuwah di kalangan umat Islam memang perlu terus ditingkatkan. Ibadah kurban dapat memperteguh perasaan itu. Asalkan, kita kembali kepada makna kurban itu sendiri.

Kalau kita mempelajari tentang kurban, sebenarnya itu memiliki makna atau fungsi pendidikan, yakni membentuk pribadi yang mukhbitin. Dalam Alquran surah al-Hajj ayat 34, dijelaskan bahwa ketika Allah memberikan hewan ternak, maka Dia memerintahkan Nabi Muhammad SAW agar memberi kabar gembira kepada orang-orang mempunyai pribadi mukhbitin, yaitu bersungguh-sungguh dalam mengabdi kepada Allah.

Karena bersungguh-sungguh, mereka rela mengorbankan harta, pikiran, tenaga, dan nyawa sekalipun di jalan Allah. Kriteria mukhbitin dijelaskan dalam al-Hajj ayat 35. Mula-mula, al-mukhbitin itu memiliki militansi, baik dalam hal spiritual, kepribadian, maupun sosial.

Jadi, kurban itu bisa meningkatkan rasa persaudaraan karena kita bisa menjadi lebih produktif. Kita lebih berkemampuan untuk menghasilkan barang dan jasa; aktif berbagi untuk mewujudkan kesejahteraan sosial. Inilah indikasi orang-orang yang mukhbitin itu.

Momen Idul Kurban juga berarti puncak ibadah haji. Bagaimana menjadikan jamaah sebagai agen perubahan begitu kembali ke Tanah Air?

Untuk jamaah haji, memang sangat dituntut agar mereka bisa menjadi agen perubahan di tengah masyarakat. Inilah salah satu implikasi haji yang mabrur. Kepulangan mereka dari Tanah Suci menimbulkan dampak yang positif, baik bagi dirinya sendiri maupun lingkungan sosialnya.

Ini bisa diwujudkan ketika melaksanakan ibadah haji. Dalam pelaksanaan haji itu, ada wukuf di Arafah. Ada juga melempar jumrah, yang bisa kita maknai sebagai simbol melempar segala bentuk kesalahan. Artinya, melempar jumrah itu di mana pun harus kita lakukan, termasuk dalam ibadah-ibadah lain yang berkaitan dengan haji itu.

Namun, kebanyakan yang saya lihat, jamaah setibanya di Tanah Air justru berhenti meresapi makna lempar jumrah. Menjadi agen perubahan di tengah masyarakat itu bisa dilihat dari hasil setelah kembali ke Indonesia. Bagaimana mereka mengamalkan ibadahnya, kepedulian terhadap masyarakat, membantu sesama, dan lain-lain.

Situasi ekonomi masyarakat belum sepenuhnya pulih akibat pandemi. Bagaimana menjadikan ibadah kurban mendorong tumbuhnya kedermawanan sosial?

Jadi, yang kita lihat dalam pandemi ini. Adanya ibadah kurban menjadi sangat relevan. Kita sering mengangkat tema, sebut saja, “Berbagi Sesama Umat.” Maka, kurban itu menjadi momen untuk melakukannya lagi.

Dalam berkurban, memang ada nilai-nilai yang sangat baik untuk mewujudkan kedermawanan di tengah umat Islam. Agama ini mengajarkan, pentingnya kepedulian, khususnya kepada orang yang membutuhkan pertolongan.

Misalnya, kita bisa memberikan orang kepada orang yang tidak meminta, tapi mungkin dia ada kebutuhan. Sering kali, saat bagi-bagi daging kurban pun begitu. Sebab, ada sifat manusia yang sesungguhnya sedang butuh pertolongan, tetapi malu untuk meminta—apalagi meminta-minta. Di situlah rasa ukhuwah dan kederwananan dapat didorong untuk muncul.

Di tengah maraknya wabah PMK, apa saja imbauan dari Anda untuk kaum Muslimin, khususnya yang hendak berkurban pada tahun ini?

Dengan adanya penyakit mulut dan kuku (PMK), tentu kita mesti waspada, khususnya jelang Idul Adha ini. Haruslah kita pahami, dalam berkurban itu ada syarat-syaratnya. Misalnya, hewan kurban harus dalam keadaan sehat.

Saya sendiri mendapatkan penjelasan, PMK berbeda dengan umpamanya antraks. Maka, saya sarankan kepada khalayak, terutama para panitia kurban, untuk terus memperbarui ilmu dan pengetahuan tentang penyakit ini dari lembaga-lembaga atau orang-orang yang berkompetensi pada bidang kesehatan hewan. Termasuk di antaranya, pemerintah daerah setempat, khususnya dinas peternakan atau kesehatan hewan.

Sehingga, nanti kita bisa melihat apa sebenarnya dampak PMK itu terhadap binatang atau hewan kurban, sehingga menjadi ayem. Kalau terjadi penyakit seperti ini, apa yang harus dilakukan? Ini memang perlu edukasi.

Saya dapatkan informasi, para peternak sudah banyak yang mengikuti kursus atau penjelasan secara gratis. Tinggal mendaftar, sehingga ini sangat penting untuk saling mengetahui, berbagi terutama tentang PMK ini. Nanti dalam pelaksanaan ibadah kurban itu menjadi ayem, tenteram dan bisa memenuhi syarat sesuai dengan ketentuan syariat. 

photo
Petugas dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung memeriksa kesehatan kambing yang dijual di salah satu tempat penjualan hewan kurban di Jalan Soekarno Hatta, Cipamokolan, Kota Bandung, Jumat (24/6/2022). Pemeriksaan tersebut untuk memastikan seluruh hewan kurban yang dijual oleh pedagang terbebas dari penyakit mulut dan kuku (PMK) dan layak dikonsumsi oleh masyarakat. Foto: Republika/Abdan Syakura - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)

Terinspirasi Hikmah Kiai Dahlan

Ustaz Asep Shalahuddin merupakan seorang kader Muhammadiyah. Di lingkungan Persyarikatan, dirinya tercatat pernah menjadi Direktur Madrasah Mu'allimin Muhammadiyah Yogyakarta periode 2014-2016. Sampai sekarang, ia masih mengajar di lembaga pendidikan yang didirikan KH Ahmad Dahlan tersebut.

Ustaz Asep mengawali perjalanannya dalam mencari ilmu di Pondok Pesantren Darul Arqam Garut, Jawa Barat. Ia belajar di sana selama delapan tahun. Termasuk generasi pertama, ia satu almamater dengan Ustaz Adi Hidayat, lulusan Darul Arqam pada 2000.

Setelah mengabdi selama setahun di pesantren itu, Ustaz Asep kemudian melanjutkan pendidikannya ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta dengan mengambil Jurusan Tafsir Hadits. Dia bergelut dengan kajian hadits selama tujuh tahun dari 1988-1995.

Saat menjadi mahasiswa, dia juga aktif di organisasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Sejak tahun 2000 sampai sekarang, lelaki kelahiran Garut, Jabar, itu aktif di Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah.

Banyak guru yang menginspirasi Ustaz Asep dalam dunia dakwah dan pendidikan. Di antaranya adalah Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Prof Syamsul Anwar. Dan, seperti kebanyakan kader Persyarikatan, inspirator utamanya adalah sosok KH Ahmad Dahlan.

 
Banyak guru yang menginspirasi Ustaz Asep dalam dunia dakwah dan pendidikan.
 
 

Menurut Ustaz Asep, banyak yang bisa dipelajari dari sang pendiri Muhammadiyah. Keteladanan Kiai Sang Pencerah sebagai seorang mujadid mengajarkan kepada murid-muridnya untuk selalu mengaplikasikan semua ajaran yang diterimanya.

“Beliau (KH Ahmad Dahlan) mengajarkan kepada murid-muridnya bukan hanya sekadar menghafal, memahami, tapi juga mengaplikasikan ajaran-ajaran yang telah dipelajari,” ucap anggota Dewan Syariah Lazismu ini.

Ustaz Asep juga mengagumi 17 kelompok ayat Alquran dalam penafsiran Kiai Dahlan. Menurut dia, 17 ayat Alquran memiliki tema besar yang berkaitan kepedulian sosial. Yang sangat populer, hikmah dan pelajaran dari surah al-Maun. Firman Allah itu menjadi topik yang diajarkan sang kiai selama berbulan-bulan kepada muridnya.

“Mengajarkan berbulan-bulan itu kan tidak hanya sekadar bisa membaca dan tahu artinya, tapi bagaimana ayat yang dibaca itu bisa diaplikasikan dalam kehidupan, yaitu kepedulian terhadap orang-orang yang sangat membutuhkan,” kata dia.


Paulina Fitriani Temukan Jalan Berislam

Mualaf ini meraih hidayah Illahi tatkala masih berusia muda.

SELENGKAPNYA

Islam di Negeri Alpen

Komunitas Muslim menjadi bagian dari dinamika dan masyarakat Swiss.

SELENGKAPNYA

Pencuri yang ‘Kecurian’

Malik bin Dinar hanya melihat pencuri dari kamar tempatnya shalat.

SELENGKAPNYA
×