Petugas gabungan Puskeswan Sleman dan FKH UGM memeriksa kesehatan sapi di kandang sapi terpadu, Krebet, Bimomartani, Ngemplak, Sleman, Rabu (22/6/2022). | ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/hp.

Fatwa

19 Jun 2022, 09:07 WIB

Hewan Ternak Terjangkit PMK Memenuhi Syarat Kurban?

Apakah hewan ternak yang terjangkit PMK memenuhi syarat untuk dijadikan kurban?

OLEH ANDRIAN SAPUTRA

Munculnya penyakit mulut dan kuku (PMK) yang menyerang hewan-hewan ternak telah meresahkan masyarakat di tengah persiapan menjalankan ibadah kurban. Apakah hewan ternak yang terjangkit PMK memenuhi syarat untuk dijadikan kurban? 

Wakil Rais 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Afifuddin Muhajir mengatakan ibadah kurban memiliki dua dimensi, yakni sedekah dan syiar agama Islam. Dalam ibadah kurban ada ketentuan-ketentuan khusus yang membedakan dengan sedekah biasa. 

Di antaranya adalah yang bisa dijadikan kurban hanya hewan ternak. Oleh karena itu, barang-barang selain hewan ternak tidak bisa dijadikan sarana untuk ibadah kurban. Selain itu, hewan ternak untuk kurban juga memiliki kriteria tertentu, misalnya berkaitan dengan umur. Maka, menurut Kiai Afifuddin, untuk hewan ternak domba yang bisa dijadikan kurban adalah minimal berusia satu tahun dan memasuki tahun yang kedua.

Untuk kambing, minimal berusia dua tahun dan memasuki tahun yang ketiga. Sedangkan, untuk sapi yang dijadikan kurban minimal berusia dua tahun dan memasuki tahun yang ketiga. Sementara itu, unta minimal berusia lima tahun dan memasuki tahun yang keenam. 

Ketentuan lain untuk hewan kurban adalah bahwa hewan ternak yang bisa dijadikan kurban harus tidak mengandung cacat. Lalu, cacat seperti apa yang bisa menyebabkan hewan ternak tak bisa dikurbankan?

 
Terdapat empat macam cacat pada hewan sehingga tidak dapat dijadikan hewan kurban.
 
 

Kiai Afifuddin mengatakan, berdasarkan sabda Nabi Muhammad SAW, terdapat empat macam cacat pada hewan sehingga tidak dapat dijadikan hewan kurban, yakni hewan yang sebelah matanya benar-benar buta, hewan yang benar-benar sakit, hewan yang benar-benar pincang, dan hewan yang sangat kurus dan tak berlemak. Karena itu, ulama sepakat bahwa hewan ternak yang mengalami empat jenis cacat berat tersebut tidak memadai untuk digunakan sebagai hewan kurban. 

Sedangkan, untuk kategori cacat ringan, secara hukum tetap memadai. Kiai Afifuddin menukil keterangan Syekh Ibrahim al-Bajuri yang menjelaskan bahwa hewan ternak yang cacat sehingga tidak memadai sebagai hewan kurban adalah hewan yang cacatnya menyebabkan pengurangan terhadap daging atau bagian tubuh lain yang bisa dimakan. 

Sementara itu, mengenai hewan ternak yang terjangkit PMK, Kiai Afifuddin mengatakan, dari penjelasan ahli kesehatan hewan, hewan ternak yang terjangkit PMK memiliki gejala-gejala klinis kategori ringan dan kategori berat. Hewan yang terjangkit PMK kategori ringan di antaranya ditandai muncul lesi atau jaringan yang tak normal pada lidah dan gusi. Serta mengalami demam, nafsu makan menurun, penurunan berat badan 1-2 kg per hari.

pmk

photo
Petugas dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung memasang penanda kode batang pada kambing yang telah diperiksa kesehatannya di salah satu tempat penjualan hewan kurban di Jalan Soekarno Hatta, Cipamokolan, Kota Bandung, Jumat (24/6/2022). Foto: Republika/Abdan Syakura - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)

Hewan yang terjangkit PMK kategori berat ditandai dengan lepuhan besar yang bila pecah maka hewan akan mengalami luka. Selain itu, terjadi penurunan produksi susu secara signifikan, bahkan bisa sampai pada kematian.

Ia menjelaskan, meski ahli kesehatan hewan mengatakan bahwa secara umum daging hewan ternak yang terjangkit PMK bisa dikonsumsi, ada bagian-bagian yang perlu penanganan khusus, seperti jeroan. Bagi orang awam, hal tersebut sulit dilakukan dan dipastikan terjadi pengurangan pada bagian hewan kurban karena dibuang dan lainnya. Sebab itu, Kiai Afifuddin mengatakan, hewan yang terjangkit PMK tidak memenuhi syarat untuk dijadikan kurban. 

"Ini kalau kita melihat PMK ini tidak kalah serius dengan apa yang disabdakan oleh Nabi. Artinya, kita menyimpulkan berdasarkan penjelasan dokter hewan itu merupakan aib yang bisa menyebabkan hayawan yang terjangkit dengan PMK bisa tidak memenuhi syarat untuk dijadikan hewan kurban. Karena itu, dapat kita menyimpulkan bahwa hayawan yang terjangkit PMK tidak memenuhi syarat untuk dijadikan kurban. Itu kesimpulannya," kata Kiai Afifuddin dalam konferensi pers hasil kajian Bahtsul Masail-Lembaga Bahtsul Masail PBNU tentang hewan kurban yang terkena PMK yang dilakukan daring dan juga disiarkan melalui kanal TV Nahdlatul Ulama beberapa hari lalu.

 
Bila tidak menemukan hewan kurban yang diyakini sehat, lebih baik menunda ibadah kurban hingga tahun depan.
 
 

Sebab itu, Kiai Afifuddin mengimbau kepada masyarakat agar berhati-hati ketika memilih hewan untuk kurban. Menurut dia, bila tidak menemukan hewan kurban yang diyakini sehat, lebih baik menunda ibadah kurban hingga tahun depan. Sebab, menjaga kesehatan dan melindungi jiwa adalah yang utama.

Sementara itu, LBM-PBNU dalam pers rilisnya merekomendasikan agar pemerintah terlibat secara langsung untuk memastikan kesehatan hewan yang akan dijadikan hewan kurban.

Selain itu, LBM-PBNU juga meminta pemerintah segera melakukan disinfeksi dan vaksinasi terhadap hewan ternak yang belum terjangkit PMK dan menyosialisasikan berbagai cara yang efektif kepada para peternak untuk mencegah penyebaran PMK.


Nakes Vaksinasi PMK Harus Ditambah

Tenaga kesehatan hewan yang tersedia masih harus ditambah untuk bisa mempercepat penyuntikan

SELENGKAPNYA

Satgas PMK Dibentuk

Model penanganan Covid-19 akan diterapkan dalam penanganan PMK.

SELENGKAPNYA

Wapres: Awasi Ternak Terjangkit PMK

Jabar dan Jateng mempercepat vaksinasi PMK menjelang Idul Adha untuk ternak sehat.

SELENGKAPNYA
×