Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

18 Jun 2022, 03:30 WIB

Haji Mendekati Allah

Orang yang berhaji telah mendekatkan diri kepada Allah dengan jiwa dan raganya, tulus ikhlas semata-mata karena-Nya.

 

OLEH NUR FARIDAH

Bulan Dzulhijah atau bulan Haji akan segera tiba. Kaum Muslim, baik laki-laki maupun perempuan, yang mampu secara finansial dan fisik, diwajibkan untuk pergi menuju Baitullah di Makkah guna menunaikan rukun Islam kelima, yakni berhaji.

Allah SWT berfirman, “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh, supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka” (QS al-Hajj [22]: 27-28).

Ayat ini adalah firman Allah yang ditujukan kepada Nabi Ibrahim untuk menyerukan ibadah haji, niscaya orang-orang dari berbagai penjuru negeri datang dengan beragam cara dan jalan. Dari darat, laut, hingga udara.

Dulu, sebelum ada pesawat terbang, orang-orang berhaji menggunakan jalur darat dan laut. Terkadang memakan waktu yang lama. Kini, waktu seperti bisa dilipat menjadi lebih cepat dengan adanya pesawat terbang. Seruan Nabi Ibrahim benar-benar menjadi kenyataan, saat ini hingga hari kiamat.

Syekh Mutawalli asy-Sya’rawi dalam kitab al-Hajj al-Mabrur menggambarkan, datangnya musim haji pada setiap tahun membuat hati dipenuhi oleh kerinduan untuk pergi ke Baitullah guna melaksanakan ibadah haji dan menziarahi kubur Rasulullah, karena di situ ada kenikmatan ruhiyah yang melebihi apa pun. Misalnya, taqarub (pendekatan diri) kepada Allah dan kesibukan dengan-Nya daripada dengan makhluk lainnya, baik itu keluarga, kerabat, maupun yang lainnya.

Orang yang pergi untuk beribadah haji akan meninggalkan segala sesuatu demi beribadah kepada Allah. Ia meninggalkan keluarganya, harta bendanya, teman-temannya, dan negerinya. Ia meninggalkan kehidupan yang telah ia bangun sebelumnya demi mendekatkan diri kepada Allah dalam shalat, tawaf, talbiyah, zikir, dan tasbih, tanpa sedikit pun berpaling.

Hatinya merendahkan diri di hadapan Allah dan ketaatannya kepada-Nya bertambah setiap hari. Maka rasa kasih sayang pun turun ke dalam hatinya, air matanya mengalir, dan ia menyadari bahwa segala hal duniawi tidak ada artinya dibanding kedekatan dengan Allah dan mendapatkan ridha-Nya.

Dengan demikian, ibadah haji sangat erat kaitannya dengan taqarub. Suatu pendekatan diri secara tulus demi mendapatkan pahala dan ridha Allah. Melalui manasik haji yang semuanya adalah ibadah, orang yang berhaji menunjukkan kesungguhan bukan hanya niat atau keinginan atau ucapan di lisan, melainkan dibuktikan dengan aktivitas fisik.

Fisik hadir nyata di tempat yang mulia, Baitullah, shalat di sekitar Ka’bah, tawaf, sa’i, melontar jumrah, dan seterusnya. Semua itu diiringi dengan talbiyah, zikir, dan tasbih.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa berhaji di rumah ini (Baitullah al-Haram), tanpa melakukan rafats (berkata-kata kotor/buruk) dan tidak berbuat fasik, dia kembali seperti pada hari dilahirkan ibunya” (HR al-Bukhari).

Hal ini karena orang yang berhaji telah mendekatkan diri kepada Allah dengan jiwa dan raganya, tulus ikhlas semata-mata karena-Nya.

Wallahu a’lam.


Agus, Anak Betawi Teknisi Masjid Nabawi 

Dia memulai perjanannya sebagai tenaga kerja di Saudi sejak sepuluh tahun silam.

SELENGKAPNYA

Ar-Rubayyi Berjuang dengan Pena dan Pedang

Sahabiyah yang aktif dalam jihad dan ilmu agama.

SELENGKAPNYA

Masjid Nabawi dan Visi Saudi 2030

Semoga kita semua bisa menjaga Madinah, kota tempat berpulangnya iman.

SELENGKAPNYA
×