Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

16 Jun 2022, 03:30 WIB

Menahan Emosi

Cerdas menahan emosi bisa menjadi faktor kesuksesan seseorang dalam mencapai tujuan dan cita-citanya.

OLEH IMRON BAEHAQI

Banyak kebaikan yang dapat menyebabkan turunnya rahmat dan cinta Allah SWT. Salah satunya adalah kemampuan mengendalikan emosi tatkala muncul situasi, gangguan, atau  persoalan tertentu yang tidak sesuai dengan harapan dan keinginan. 

Selain itu, cerdas menahan emosi bisa menjadi faktor kesuksesan seseorang dalam mencapai tujuan dan cita-citanya. Sebab, keputusan yang diambilnya menjadi matang, tepat, dan berbuah keberuntungan.

Berbeda jika keputusan atau kebijakannya disertai kebencian dan amarah yang memuncak, tentu akan mengakibatkan masalah fatal, kegagalan, bahkan kerugian.

Tidak ada keteladanan paripurna dalam kehidupan ini kecuali keteladanan yang ditunjukkan Rasulullah SAW. Termasuk pribadi utamanya adalah dalam hal menahan emosi. Nabi Muhammad SAW adalah panutan yang memiliki kecerdasan emosional di atas rata-rata. Sehingga, berkat rahmat Allah SWT, beliau berhasil meraih kesuksesan demi kesuksesan, kejayaan demi kejayaan.

Banyak kisah inspiratif Rasulullah tentang kehebatannya dalam menahan emosi yang kemudian mendatangkan kesuksesan dan kemaslahatan. Misalnya, ketika malaikat menawarkan tawaran yang menggiurkan kepada Nabi Muhammad SAW. Tawaran itu berupa menolong beliau untuk membinasakan bangsa Thaif yang telah memperlakukan diri Rasulullah secara tidak manusiawi, tetapi Nabi Muhammad SAW menolak tawaran tersebut. 

Justru keluar ucapan yang sangat mulia dari lisannya, seraya bersabda: “Aku berharap Allah mengeluarkan dari tulang rusuk mereka suatu generasi yang beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan sesuatu pun dengan-Nya.”

Diriwayatkan juga kisah Nabi Muhammad SAW yang setiap pulang dari masjid diludahi oleh seorang Yahudi. Suatu hari, orang tersebut tidak didapatinya lagi. Dan setelah mengetahui kabar bahwa orang tersebut menderita sakit, Rasulullah SAW bergegas menengoknya. Kemudian orang itu pun masuk Islam.

Ucapan dan perilaku Nabi Muhammad SAW tentu saja mendapatkan jaminan penjagaan dari Allah SWT. Sebagaimana ditegaskan dalam Alquran, supaya Nabi SAW menjadi seorang pemaaf, menyeru orang mengerjakan yang makruf serta berpaling dari orang-orang yang bodoh. (QS al-A’raf [7]:199).

Sebab turunnya ayat di atas, Uyainah mengatakan bahwa pada suatu waktu, orang-orang musyrikin Makkah telah menyakiti hati Rasulullah selama sepuluh tahun. Saat Rasulullah hijrah ke Madinah, beliau hendak membalas dendam terhadap mereka dengan mengadakan acara penyerbuan ke Makkah. Maka turunlah ayat itu (HR Ibnu Jarir dan Ibnu Hatim).

Adapun cara menahan emosi, Abdurrahman bin Zain Aslam pernah mengatakan bahwa ketika QS 7 ayat 199 tersebut diturunkan, Rasulullah bertanya, “Wahai Tuhanku, bagaimana aku dapat menahan emosi?” Atas pertanyaan tersebut, Allah lalu menurunkan tiga ayat berikutnya sebagai bentuk penegasan tentang cara berlindung dari godaan setan dan usaha untuk menahan emosi (HR Ibnu Abi Hatim).

Jadi, berdasarkan ayat tersebut bahwa cara menahan emosi adalah dengan meminta perlindungan kepada Allah SWT (QS al-Araf [7]: 200). Kedua, segera ingat atau berzikir kepada Allah tatkala dibayang-bayangi pikiran untuk berbuat dosa dan jahat dari setan (QS al-’Araf [7]:201).

Wallahu Al-Musta’an.


Saudi Longgarkan Penggunaan Masker

Kebanyakan jamaah haji Indonesia terpantau masih patuh menggunakan masker.

SELENGKAPNYA

Merenungi Hijrah Nabi dari Bus Ber-AC

Nabi Muhammad SAW harus hijrah menempuh perjalanan hingga 450 kilometer dengan berkendara unta.

SELENGKAPNYA

Telkom Pastikan Investasi di GoTo Patuhi GCG 

Akhir pekan lalu, Telkom mencatatkan keuntungan investasi di GoTo senilai Rp 2,74 triliun.

SELENGKAPNYA
×