Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika

Hikmah

10 Jun 2022, 03:30 WIB

Mencari Sinyal Ilahiyah

Seorang yang berhaji seperti mencari sinyal Ilahiyah. Untuk itu, harus dibekali iman, harta, dan ilmu agar meraih kemabruran.

OLEH HASAN BASRI TANJUNG

Alhamdulillah, Dzulhijah 1443 H sudah di depan mata. Sebagian jamaah calon haji telah sampai ke Tanah Suci, Makkah dan Madinah Al-Munawwarah. Keharuan selalu menyelimuti setiap kali melepas tamu-tamu Allah SWT. Sungguh, mengunjungi Baitullah dan makam Nabi Muhammad SAW adalah karunia yang tiada terhingga.

Sejatinya niat yang tulus harus tertanam di lubuk kalbu setiap jamaah. “Labbaik allahumma labbaik” (Ya Rabb, hamba datang memenuhi panggilan-Mu). “... (Di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, (yaitu bagi) orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Siapa yang mengingkari (kewajiban haji), sesungguhnya Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu pun) dari seluruh alam” (QS Ali ‘Imran [3]: 97).

Dalam Tafsir Ringkas Al-Qur`anul Karim Kemenag dijelaskan bahwa kriteria mampu adalah sanggup mendapatkan perbekalan, alat transportasi, sehat jasmani, perjalanan aman, dan keluarga yang ditinggalkan terjamin kehidupannya. Oleh karena itu, bagi jamaah yang belum bisa berangkat jangan terlalu bersedih, apalagi putus asa. Terus berdoa, kiranya diberi kesempatan sebelum ajal menjemput.

Prof KH Didin Hafidhuddin dalam buku Membangun Kemandirian Umat menegaskan bahwa haji merupakan puncak ibadah dan syiar Islam yang luar biasa. Dimensi ibadah haji yang perlu dipahami, di samping pada ritual manasiknya, juga hal-hal yang bersifat substansial, hakikat dan pesan dari ibadah yang diperintahkan Allah kepada manusia. Karena sejatinya kemabruran haji wajib diupayakan dan dijaga sepanjang hidup. Pascahaji, seorang Muslim ditutut untuk berubah menjadi lebih baik dan agen perubahan di lingkungannya”.

Jika ditilik lebih dalam, seorang jamaah haji ibarat handphone yang terdiri atas perangkat keras (hardware) dan lunak (software). Setidaknya ada empat perangkat yang diperlukan agar komunikasi terjalin dengan baik, yakni:

Pertama, baterai, yakni energi yang memberikan daya agar handphone bisa hidup. Artinya, seorang yang berhaji perlu baterai, yakni iman (tauhid) yang kuat agar makna hidupnya jelas dan terarah.   

Kedua, pulsa, yakni dana yang digunakan untuk membiayai jaringan komunikasi. Artinya, seorang jamaah haji perlu harta dari hasil usaha yang halal untuk membayar ongkos atau keperluan ibadah selama di Tanah Suci.

Ketiga, nomor tujuan, yakni rangkaian angka tertentu yang telah diatur sedemikian rupa. Artinya, seorang jamaah haji mesti paham cara beribadah (shalat) yang benar, baik fardhu maupun nawafil sesuai waktunya.

Keempat, sinyal, yakni getaran elektrik yang dihubungkan melalui perangkat khusus. Artinya, seorang yang berhaji harus mendekati tower utama, yakni Baitullah agar mendapat sinyal Ilahiyah. Walaupun baterai full, pulsa cukup, dan nomor tujuan jelas, tapi sinyal tak dapat, komunikasi dengan Allah SWT akan terganggu.

Akhirnya, seorang yang berhaji seperti mencari sinyal Ilahiyah. Untuk itu, harus dibekali iman, harta, dan ilmu agar meraih kemabruran (QS al-Baqarah[2]: 197). Setelah kembali ke Tanah Air jangan kehilangan sinyal Ilahiyah. Sebab, ada tower transmisi, yakni masjid, majelis para ulama, dan rintihan kaum dhuafa.

Allahu a’lam bishawab.


Mengapa Umat Islam Betah di Amerika?

Citra AS sebagai negara yang amat menjunjung tinggi hak asasi manusia, menegakkan supremasi hukum.

SELENGKAPNYA

BUM-Pes Topang Kemandirian Pesantren

BUM-Pes diyakini bisa berdampak besar terhadap kesejahteraan bangsa.

SELENGKAPNYA

Spirit NFT di Bayang-Bayang Bear Market

Pameran NFT Jukiverse hadir di Sarinah dan juga Decentraland. 

SELENGKAPNYA
×