Warga melihat foto arsip Bung Karno yang dipajang pada pameran buku Bung Karno di Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu (8/6/2022). | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

Kisah Dalam Negeri

10 Jun 2022, 03:45 WIB

Menemukan Sepotong Sejarah Bung Karno di GIM

Gedung yang sempat difungsikan sebagai pengadilan, tempat Soekarno diadili.

OLEH DEA ALVI SORAYA

Meski terletak di antara himpitan bangunan modern di pusat Kota Bandung, bangunan putih Gedung Indonesia Menggugat (GIM) masih setia mempertahankan ornamen khas Belandanya.

Dede Ahmad, penjaga sekaligus pemandu GIM mengatakan, hampir 80 persen fasad bangunan masih mempertahankan bentuk asli dari gedung yang dibangun pada 1906-1907 itu.

“Hanya bagian atap saja yang diubah, karena sempat ada kerusakan akibat faktor usia bangunan,” kata Dede saat ditemui Republika di GMI, Kota Bandung, Kamis (9/6).

Gedung yang sempat difungsikan sebagai pengadilan, tempat Soekarno dan sederet pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia diadili, ini memiliki tiga ruangan utama, yaitu ruang persidangan, ruang tunggu para hakim, jaksa, dan ruang tunggu terdakwa. Saat Republika berkunjung, salah satu ruang tunggu terdakwa tengah dimanfaatkan sebagai lokasi pameran karya literasi Bung Karno.

photo
Pengunjung membaca buku di Perpustakaan Bung Karno di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, Jawa Barat, Senin (6/6/2022). Pengelola bangunan cagar budaya Gedung Indonesia Menggugat bersama sejumlah komunitas menyediakan pameran dan perpustakaan Bung Karno bagi masyarakat untuk menambah wawasan tentang riwayat hidup, perjuangan dan ideologi bapak proklamator Indonesia tersebut. - (ANTARA FOTO/Novrian Arbi)

Terdapat sekitar 81 buku yang dipajang di ruangan tersebut. Beberapa buku di antaranya berisi kisah perjuangan sang Presiden Pertama Indonesia itu saat mendekam di penjara Banceuy. Adapula yang mengisahkan kisah romansanya dengan Inggir Garnasih, bahkan kisah saat Bung Karno diasingkan di Pulau Ende, Nusa Tenggara Timur.  

"Haul Bung Karno memang selalu jadi kegiatan rutin di Gedung Indonesia Menggugat. Kami menggandeng sejumlah komunitas untuk menggelar pameran atau kegiatan untuk mengingat jasa-jasa Bung Karno," ujar Dede.

Pameran yang telah digelar sejak 6 Juni 2022 ini, kata Dede, disambut antusias oleh pecinta sejarah di kota kembang. Sekitar 80 pengunjung telah menikmati sepotong sejarah perjuangan Soekarno tersebut.

photo
Warga membaca buku yang dipajang pada pameran buku Bung Karno di Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu (8/6/2022). - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)

Dalam acara peringatan hari lahir Bung Karno ini, GIM sengaja menggandeng beberapa komunitas, seperti Mataholang Officieel, Manikam Khatulistiwa, Majelis Sastra, dan pegiat sejarah lainnya. Acara itu dibuka dengan penampilan seni dan orasi budaya, dilanjutkan dengan pameran buku sampai 11 Juni 2022, mendatang.

Selain melihat koleksi buku dan foto, para pengunjung juga diberi kesempatan melakukan tur edukasi singkat sambil melihat seisi bangunan bersejarah yang terletak di Jalan Perintis Kemerdekaan No 5, Babakan Ciamis, Sumur Bandung, Kota Bandung itu. Dede berharap semakin banyak acara untuk memperingati hari kebangsaan, khususnya di Kota Bandung. "Agar masyarakat Kota Bandung bisa mengenal lebih dekat sejarah bangsanya."

Salah satu pengunjung, Arvi (20 tahun), mengaku sangat tertarik mengulik kisah sang bapak pendiri bangsa, termasuk kisahnya kala menjalani dakwaan melakukan aksi ‘pemberontakan’ yang akhirnya menjadi pencetus lahirnya nama ndonesie Klaagt Aan atau Indonesia Menggugat. Mahasiswi Universitas Pariwisata (Unpar) Bandung itu mengaku baru pertama kali menginjakkan kaki di GIM.

photo
Warga melihat foto keluarga Bung Karno yang dipajang pada pameran buku Bung Karno di Gedung Indonesia Menggugat, Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu (8/6/2022). - (REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA)

Ia langsung terpesona dengan keautentikan gedung yang telah beberapa kali berganti fungsi itu. “Vibes-nya autentik banget, jadi saat diceritakan kisah persidangannya, bisa langsung bisa ngebayangin, bahkan kaya kita bisa rasakan suasana sidangnya. Karena bentuk ruang sidangnya juga kan hampir tidak berubah ya,” ujarnya.

Dikutip dari infobdg, sebelum diresmikan menjadi GIM, bangunan bernuansa kolonial Belanda itu telah beralih fungsi beberapa kali seperti menjadi kantor PMI di tahun 1947 sampai 1949. Lalu menjadi kantor KPP Pusat di tahun 1949 hingga 1953. Berikutnya menjadi Kantor Perjalanan dan Kas Otonom Bagian Keuangan Sekretaris Daerah Jabar pada 1953 hingga 1970.

Pada tahun 1970 hingga 2002, GIM menjadi kantor Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jabar, dan hingga saat ini digunakan sebagai lokasi wisata sejarah yang bisa dibuka pukul 08.00 sampai 17.00 WIB sore.  ';

Jamaah Ramaikan Situs Ziarah

Jamaah diminta patuhi aturan yang ditetapkan Pemerintah Arab Saudi.

SELENGKAPNYA

Muslim Indonesia Diajak Tahan Diri

OKI meminta India tegas menyelesaikan penghinaan terhadap Nabi Muhammad dan Islam.

SELENGKAPNYA

Cuaca Ekstrem Ganggu Produksi Cabai

Akibat situasi cuaca yang fluktuatif itu, anjloknya produksi tak terbendung dan mengerek kenaikan harga.

SELENGKAPNYA
×