Luka Modric. | AP/Manu Fernandez

Olahraga

08 Jun 2022, 08:01 WIB

Sang Pemenang Itu Bernama Luka Modric

Luka Modric mentas sebagai starter dalam laga Kroasia versus Prancis dan mengemban jabatan kapten.

OLEH ANGGORO PRAMUDYA

Luka Modric memantapkan dirinya sebagai salah satu pemain tengah terbaik di muka bumi. Setidaknya, pada era sepak bola modern saat ini.

Selepas partai antara timnas Kroasia versus Prancis dalam lanjutan Grup A1 UEFA Nations League, Modric merengkuh penampilan ke-150 di level internasional sekaligus menambah banyak rekor individu. Partai yang dimainkan di Stadion Poljud, Split, itu berakhir tanpa pemenang dengan skor 1-1.

Pencapaian itu membawa Modric masuk ke dalam jajaran pesepak bola semodel Cristiano Ronaldo, Sergio Ramos, serta mantan kiper timnas Italia, Gianluigi Buffon. Koleksi 150 penampilan di level internasionalnya bahkan sejajar dengan legenda hidup timnas Jerman, Lothar Matthaeus.

Modric mentas sebagai starter dalam laga Kroasia versus Prancis dan mengemban jabatan kapten. Ia merumput selama 79 menit. Uniknya, saat Modric ditarik keluar dan digantikan pemuda 19 tahun, Luka Sucic, Stadion Poljud mendadak bergemuruh. Tifosi serentak melakukan penghormatan sembari berdiri untuk bintang milik Real Madrid itu.

Pemain berusia 36 tahun tersebut jelas bangga atas apa yang ia lalui. Terlebih, ia selalu mendapat ruang kepercayaan, baik pada saat memperkuat klub maupun timnas Kroasia.

"Fenomenal. Saya senang dan bangga dengan laga ke-150 saya untuk timnas Kroasia," kata Modric dilansir laman resmi UEFA, Selasa (7/6).

Berbeda dengan Andrea Pirlo, gelandang tengah ikonik Italia yang lahir dari rahim aristokrat, anak orang kaya petani anggur dan pembuat wine dari Brescia, Luka Modric sejatinya tumbuh dan dibesarkan oleh keluarga pekerja kasar (buruh).

Sang ibu, Radojka Modric, sempat bekerja di perusahaan tekstil, dan ayahnya, Stipe Modric, hanya seorang montir mekanik militer, bertugas memperbaiki mobil untuk tentara Kroasia yang sedang berperang.

Alur hidup bahkan terasa getir manakala Modric dan keluarga harus melakukan perjalanan berkilo-kilometer demi mendapat kehidupan baru yang layak. Sebagai keluarga 'refugee', kurangnya rumah, sedikit pakaian, dan tempat berteduh membuat keluarganya sangat miskin selama periode perang.

Perjuangan Modric mencapai titik tertinggi dalam karier tak semudah membalikkan punggung tangan. Menukil Sportbible, Modric kecil sempat mengungsi ke hotel di dekat pesisir Zadar. Selain itu, ia juga sempat merasakan duka pada usia enam tahun karena kakeknya tewas ditembak oleh pemberontak Serbia.

Selama mengungsi di hotel tersebut, Modric tak henti bermain sepak bola, meskipun berada di tengah dentuman bom. Hingga seorang juru bicara hotel menyebut kaca hotel lebih banyak pecah akibat tendangan Modric daripada terkena bom.

 
Perjuangan Modric mencapai titik tertinggi dalam karier tak semudah membalikkan punggung tangan.
 
 

Modric akhirnya mendapatkan kesempatan menempa landasan hidup di akademi NK Zadar, sebuah tim sepak bola di kota kecil, kota kelahirannya. Keterbatasan fisik Modric yang kurus dengan tinggi 172 cm bisa teratasi dengan tekad dan perjuangan yang keras hingga masuk skuad utama salah satu tim terbaik di Liga Kroasia, Dinamo Zagreb. Bersama Zagreb, Modric meraup sejumlah gelar.

Hari berganti pekan, pekan berbuah bulan, dan bulan berselimut tahun, Modric akhirnya diboyong oleh salah satu klub Liga Primer Inggris, Tottenham Hotspur, pada 2008 silam. Berkostum the Lilywhites menjadi panggung pun kunci Modric untuk lebih menunjukkan kualitas terbaiknya dengan sorotan media Negeri Ratu Elizabeth.

Empat musim bersama tim London Utara, Modric akhirnya menemukan mimpi tertinggi para pesepak bola dunia dengan bergabung ke Real Madrid pada musim panas 2012 dengan biaya 33 juta pound.

Selebihnya, adagium terkenal yang dipopulerkan oleh mantan perdana menteri (PM) Britania Raya, Winston Churchill, bahwasanya sejarah ditulis oleh para pemenang dan Modric diklaim telah memenangkan pertarungan, baik di atas lapangan hijau maupun dalam perjalanan hidupnya.

Karier Modric bersama Madrid bisa disebut sebagai mimpi para pemain muda yang menjadikannya role model. Gairahnya bermain kulit bundar membuat Modric memenangkan lima gelar juara Liga Champions, tiga Super Eropa, tiga trofi La Liga Spanyol, dan empat titel Piala Dunia Antarklub.

Modric bahkan memutus dominasi Ronaldo dan Lionel Messi usai dianugerahi gelar pemain terbaik dunia (Ballon d'Or) 2018. Pada level timnas, kesuksesan terbaik yang Modric berikan adalah membawa the Blazers masuk ke final Piala Dunia 2018 melawan Prancis.

Sesungguhnya, Modric adalah definisi sahih dari tipe filosofer layaknya mendiang Diego Maradona dan juga Pele. Ketiga seniman lapangan hijau itu mewartakan kisah dramatis untuk tetap berjuang menghadapi impiannya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Luka Modric (@lukamodric10)

';

Memuluskan Transisi ke Dunia Hibrid

Pandemi telah mendefinisikan ulang apa arti bekerja dan kantor bagi banyak orang.

SELENGKAPNYA

Bulog Jalin Kerja Sama Distribusi Minyak Goreng

Produsen migor mendapatkan pasokan minyak sawit seharga Rp 9.500 per liter.

SELENGKAPNYA

Erick Thohir Targetkan Dividen BUMN Rp 50 Triliun

Kementerian BUMN juga berhasil menekan utang dan modal BUMN hingga ke 35 persen .

SELENGKAPNYA
×