Nelayan mengambil ikan hasil tangkapan di Pantai Depok, Bantul, D.I Yogyakarta, Senin (9/5/2022). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat komponen inti pada April 2022 mengalami inflasi sebesar 0,36 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). | ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko

Tajuk

03 Jun 2022, 03:45 WIB

Tantangan Inflasi

Sangat mungkin inflasi menjadi salah satu penyebab terhambatnya ekonomi kita pulih cepat.

Inflasi nasional selama Mei 2022 sebesar 0,40 persen secara bulanan atau month to month (mtm). Inflasi didominasi oleh kenaikan harga pangan pokok serta tarif pesawat. 

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), Margo Yuwono, Kamis (2/6), mengatakan, dengan laju inflasi mtm sebesar 0,4 persen, inflasi tahun kalender atau year to date (ytd) sebesar 2,56 persen. Adapun inflasi secara tahunan atau year on year (yoy) mencapai 3,55 persen dan merupakan yang tertinggi sejak Desember 2017.

Laju inflasi yang tinggi memang bukan hanya menjadi tantangan Indonesia. Sebagian besar negara juga menghadapi lonjakan inflasi akibat pengaruh perang antara Rusia dan Ukraina. Inflasi di berbagai negara  juga karena meroketnya harga pangan dan energi.

Data BPS menyebutkan, harga komoditas pangan dan energi global terus mengalami lonjakan sepanjang April 2022. Harga gandum di April mencapai 495,3 dolar AS per metrik ton, naik 1,85 persen mtm dibanding pada Maret 2022. Harga kedelai mencapai 720,8 dolar AS atau naik 0,03 persen yoy. 

 
Data BPS menyebutkan, harga komoditas pangan dan energi global terus mengalami lonjakan sepanjang April 2022.
 
 

Sementara itu, harga jagung sebesar 348,2 dolar AS per ton, meningkat 3,77 persen mtm. Adapun untuk harga minyak sawit mentah (CPO) turun 5,3 persen mtm menjadi 1682.7 dolar AS per ton. Namun, masih lebih tinggi 56,09 persen yoy jika dibanding pada April 2021.

Pada komoditas energi, harga minyak mentah rata-rata sebesar 103,4 dolar AS per ton. Mengalami penurunan 7,99 persen mtm, tapi masih jauh lebih tinggi dibanding pada bulan sama tahun lalu sebesar 64,28 persen yoy. Kondisi yang sama terjadi pada gas alam. Tercatat harga pada April sebesar 32,2 dolar AS per ton, turun 24,09 persen, tapi melonjak 350 persen yoy.

Kita setidaknya dapat memahami manakala yang menjadi pemicu melambungnya laju inflasi nasional, terkait dengan harga pangan dan energi secara global. Tapi nyatanya, penyumbang inflasi di negeri kita tidak hanya disebabkan oleh pengaruh kenaikan harga global.

BPS menjelaskan, kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi tertinggi, yakni makanan, minuman, dan tembakau sebesar 0,78 persen. Kelompok ini menyumbang inflasi sebesar 0,20 persen. Lebih detail, komoditas yang paling menyumbang inflasi selama Mei, yakni telur ayam ras sebesar 0,05 persen, akibat kenaikan permintaan dan harga pakan yang tinggi. 

 
Dalam dua pekan terakhir, kenaikan harga komoditas pangan juga dialami oleh sayur-sayuran.
 
 

Komoditas lain yang mendominasi inflasi, yakni ikan segar sebesar 0,04 persen. Kenaikan harga ikan disebabkan oleh cuaca buruk sehingga para nelayan yang melaut tidak maksimal dalam memperoleh hasil ikan. Adapun komoditas pangan terbesar ketiga adalah bawang merah dengan andil 0,04 persen karena minimnya pasokan dari sentra produksi, sekaligus belum pulihnya kegiatan distribusi pascalibur Idul Fitri pada Mei lalu.

Pekerjaan rumah pemerintah adalah bagaimana menjaga harga pangan dalam negeri, yang tidak terkait kenaikan harga pangan di global supaya tidak melonjak terus. Karena faktanya, apa yang dilakukan pemerintah masih belum berhasil secara maksimal.

Dalam dua pekan terakhir, kenaikan harga komoditas pangan juga dialami oleh sayur-sayuran. Masyarakat mengeluh karena harga mentimun, cabai, dan tomat juga melonjak cukup tinggi. Harga cabai rawit merah, misalnya, di pasar-pasar tradisional di sekitar Jabotabek dalam beberapa hari ini menyentuh Rp 70 ribu per kilogram.

 
Pemerintah harus segera mengatasi lonjakan harga pangan di dalam negeri. Jalur distribusi harus diperlancar agar pasokan komoditas pangan tidak terhambat.
 
 

Pemerintah harus segera mengatasi lonjakan harga pangan di dalam negeri. Jalur distribusi harus diperlancar agar pasokan komoditas pangan tidak terhambat. Bila terjadi hambatan-hambatan distribusi barang pangan, pemerintah harus segera mencari jalan keluarnya.

Pemerintah harus bergerak cepat untuk mencari solusi kelancaran pasokan pangan. Tidak hanya dari sisi distribusinya, tetapi juga dari sisi produksi. Kita tidak ingin pemerintah lambat mengantisipasi kekurangan pasokan pangan di dalam negeri akibat kalkulasi produksi secara nasional yang keliru.

Sebab, kita sama-sama mengetahui inflasi yang tinggi akan menjadi bom waktu bagi masyarakat. Inflasi akan menenggelamkan daya beli masyarakat. Ketika daya beli masyarakat rendah, upaya pemerintah untuk membangkitkan ekonomi setelah dua tahun pandemi menyerang akan terganggu. Bahkan, sangat mungkin inflasi menjadi salah satu penyebab terhambatnya ekonomi kita pulih dengan cepat.  ';

Mencicipi 5G di Formula E

Ajang Formula E akan membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menjajal teknologi 5G.

SELENGKAPNYA

Berbakti kepada Orang Tua

Dan pertama-tama, hak makhluk yang harus dipenuhi adalah berbakti kepada kedua orang tua.

SELENGKAPNYA

Penembakan Massal dan Politik Kontrol Senjata di AS

Penembakan massal di AS sering terjadi tanpa ada tindakan mengatur kepemilikan senjata api.

SELENGKAPNYA
×