Santri memperlihatkan sayuran hidroponik di Kebun Gizi Hidroponik Pesantren Hidayutllah, Depok, Jawa Barat, Selasa (24/11/2020). | Republika/Thoudy Badai

Iqtishodia

27 May 2022, 08:00 WIB

Strategi Pengembangan Unit Usaha Pondok Pesantren

Pengembangan industri halal dalam kegiatan pesantren diantaranya dapat melalui pengoptimalan peran lembaga keuangan syariah dan penguatan produk halal.

OLEH KINTAN NUR RAMADANI, Alumnus S1 Ekonomi Syariah IPB; DR NENENG HASANAH, Dosen Ekonomi Syariah FEM IPB dan Peneliti CIBEST IPB; DR M IQBAL IRFANY, Dosen Ekonomi Syariah FEM IPB

Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia. Berdasarkan data World Population Review (2020), Penduduk Indonesia yang beragama Islam pada tahun 2020 mencapai 229,12 juta jiwa atau sekitar 87 persen dari total populasi.

Hal ini didukung dengan masifnya pendirian lembaga pendidikan Islam di Indonesia, yaitu berupa pondok pesantren. Azra (2005) menyatakan bahwa pesantren merupakan sistem pendidikan tertua dan dianggap sebagai sistem Pendidikan khas Indonesia.

Pesantren memiliki tiga fungsi utama, yaitu fungsi pendidikan, fungsi dakwah, dan fungsi pemberdayaan masyarakat (UU Nomor 18 Tahun 2019). Oleh karena itu, dalam menjalankan fungsi-fungsi tersebut, pondok pesantren wajib untuk memberikan kualitas layanan terbaik bagi masyarakat pesantren. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan kemandirian pada sektor perekonomian yang dicapai oleh pesantren. 

Data Kementerian Agama RI (2020), jumlah pondok pesantren di Indonesia saat ini mencapai 28.518 pesantren dengan santri sebanyak 4.354.245 orang. Pesantren memiliki potensi yang besar dalam pengembangan ekonomi syariah, khususnya industri halal yang mencakup segala sektor.

Pengembangan industri halal dalam kegiatan pesantren diantaranya dapat melalui pengoptimalan peran lembaga keuangan syariah dan penguatan produk halal (Nadratuzzaman 2019). Dengan besarnya jumlah pondok pesantren saat ini menunjukkan bahwa pesantren memiliki potensi yang besar untuk diberdayakan.

Potensi tersebut dapat dimaksimalkan dengan pendirian unit usaha pesantren. Selain itu, pemberdayaan ekonomi pesantren dapat menjadi wadah pengembangan skill kewirausahaan bagi para santri (Nadzir 2015).

Namun, jumlah pesantren di Indonesia yang telah mendirikan unit usaha baru mencapai 10.185 pesantren. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar pondok pesantren di Indonesia belum memiliki unit usaha, sehingga potensi ekonomi pondok pesantren belum dimanfaatkan secara maksimal. 

Kementerian Agama (2020), Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah pesantren terbanyak di Indonesia dengan capaian 8.728 pesantren. Hal ini menunjukkan, bahwa potensi ekonomi pesantren di Jawa Barat sangat besar. Itikad baik yang ditunjukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam mengembangkan ekonomi pesantren, salah satunya melalui program One Pesantren One Product (OPOP).

Program ini digagas oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk mewujudkan kemandirian ekonomi pesantren melalui pemberdayaan ekonomi dengan membuat produk unggulan pesantren. Namun, dari 8.728 pesantren di Jawa Barat (2020), jumlah pesantren yang telah mengikuti program OPOP tahun 2019 hingga 2020 baru mencapai 1.574 pesantren dari 27 Kota/Kabupaten di Jawa Barat (OPOP Prov Jabar).

photo
Santri merawat sayuran hidroponik di Kebun Gizi Hidroponik Pesantren Hidayutllah, Depok, Jawa Barat, Selasa (24/11/2020). - (Republika/Thoudy Badai)

Pesantren Hidayatullah Depok merupakan pesantren di Jawa Barat yang telah mendirikan unit usaha pesantren dan telah mengikuti program One Pesantren One Product dan mendapatkan dukungan dari berbagai instansi baik pemerintah maupun swasta dalam mengembangkan unit usahanya.

Pesantren Hidayatullah Depok memiliki unit usaha yang beragam, yaitu pada bidang agribisnis berupa Kebun Gizi Hidroponik, lalu pada bidang perdagangan berupa Mulia Mart dan Mulia Water. Ketiga unit usaha tersebut dikelola dengan melibatkan santri Pesantren Hidayatullah Depok. Seluruh hasil usaha digunakan untuk kegiatan operasional unit usaha, operasional pesantren, dan kebutuhan dakwah.

Namun meski demikian, unit usaha Pesantren Hidayatullah Depok belum memaksimalkan potensi yang dimilikinya, menurut Kepala Departemen Business Development Pondok Pesantren Hidayatullah Depok, Gani Alfianto (2021), kontribusi hasil unit usaha terhadap pemasukan pesantren masih dalam persentase yang rendah, yaitu sekitar 10 persen.

Berdasarkan pemaparan di atas, Pesantren Hidayatullah Depok perlu memaksimalkan potensi unit usaha yang dimilikinya. Oleh karena itu, tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk merumuskan strategi dalam mengembangkan unit usaha Pondok Pesantren Hidayatullah Depok.

Data dan hasil penelitian

Data dalam penelitian ini diperoleh melalui wawancara mendalam dan hasil kuesioner. Responden dalam penelitian ini berjumlah tujuh orang yang terdiri dari akademisi, praktisi, dan regulator dari pihak internal dan eksternal Pesantren Hidayatullah Depok yang memiliki pemahaman mendalam mengenai pengembangan unit usaha pesantren.

Adapun metode analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah metode Analytic Network Process dengan struktur jaringan SWOT (Strength- Weakness-Opportunity-Threat).

photo
Santri memanen sayuran di Kebun Gizi Hidroponik Pesantren Hidayutllah, Depok, Jawa Barat, Selasa (24/11/2020). - (Republika/Thoudy Badai)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa di antara keempat aspek SWOT, aspek kekuatan dan aspek peluang memiliki skor prioritas yang paling tinggi dengan skor 0.3636, selanjutnya aspek kelemahan, dan aspek ancaman.

Perhitungan rater agreement atau nilai kesepakatan responden menghasilkan nilai W sebesar 0.4645 yang berarti para responden sepakat bahwa aspek kekuatan dan peluang menjadi aspek yang paling prioritas dalam mengembangkan unit usaha Pesantren Hidayatullah Depok.

Urutan prioritas pada aspek kekuatan yaitu; 1) Kerja sama dengan pihak internal dan eksternal dalam mengembangkan usaha dengan skor prioritas yang paling tinggi sebesar 0.21730; 2) Kalangan pondok pesantren memiliki mental spiritual yang kuat dan pemahaman syariah yang mendalam;

3) Kebijakan yayasan pesantren yang mendukung pengembangan unit usaha; 4) Besarnya jumlah santri sebagai sumber daya manusia; 5) Jenis usaha yang dikembangkan pesantren sesuai dengan potensi sumber daya alam; dan 6) Corak pesantren yang inklusif dan memiliki elemen social capital yang kuat dengan masyarakat.

Sedangkan urutan prioritas pada aspek kelemahan yaitu; 1) Manajemen marketing yang belum optimal dengan skor prioritas yang paling tinggi sebesar 0.21640; 2) Terjadi pergantian pengelola tanpa persiapan regenerasi secara berkelanjutan;

3) Sarana dan prasarana penunjang unit usaha kurang memadai; 4) Masih rendahnya profesionalisme manajemen unit usaha; dan 5) Masih terbatasnya permodalan dalam mengembangkan unit usaha; 6) Risiko penyimpangan moral dalam pengelolaan unit usaha. 

 

Urutan pada aspek peluang yaitu; 1) Pesantren dapat berperan sebagai produsen yang menyuplai kebutuhan masyarakat dengan skor prioritas yang paling tinggi sebesar 0.2774; 2) Besarnya kepercayaan masyarakat terhadap pesantren;

3) Adanya program OPOP, Program Pengembangan Kemandirian Ekonomi Pesantren BI, dan pembentukan Himpunan Ekonomi Bisnis Pesantren (HEBITREN); 4) Kultur santri berupa halal lifestyle di pondok pesantren akan menghadirkan permintaan barang dan jasa halal. 

Urutan pada aspek ancaman yaitu; 1) Adanya pesaing usaha dengan skor prioritas yang paling tinggi sebesar 0.5394; 2) Risiko kerugian unit usaha. Adapun urutan prioritas dari strategi pengembangan unit usaha Pesantren Hidayatullah Depok yaitu; 1) Meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui kegiatan pelatihan dengan nilai geometric mean sebesar 0.1496; 2) Merancang strategi promosi dan marketing secara terpadu dan terintegrasi;

3) Membangun budaya organisasi yang sehat dan manajemen tata kelola unit usaha yang baik; 4) Melaksanakan program pemberdayaan ekonomi masyarakat dengan; 5) Memperluas kerja sama dengan berbagai pihak dan sinergi antar pesantren; 6) Mengembangkan teknologi dan virtual market unit usaha pesantren; 7) Meningkatkan pemantauan dan evaluasi terhadap unit usaha; dan 8) Memperluas akses permodalan.

Wallaahu a’lam. 


Habis Presiden Tiga Periode, Terbitlah Koalisi Kaki Tiga

Manuver koalisi kaki tiga memberi peluang munculnya tiga pasang capres-cawapres dalam Pemilu 2024.

SELENGKAPNYA

135 Tahun Sherloc Holmes

Publikasi tahun 1949 menyatakan warga London begitu putus asa setelah mendengar berita kematian Holmes.

SELENGKAPNYA
×