Kondisi Pondok Pesantren Riadul Mubtadiin yang hancur di Kampung Ciparempeng, Desa Cileuksa, Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (13/2/2020). Republika memberikan bantuan buku tulis, juz amma dan nominal uang dari Pembaca Republika untuk korban b | Republika/Putra M. Akbar

Bodetabek

24 May 2022, 22:06 WIB

Korban Longsor Bangun 'Rumah Tumbuh' Secara Gotong Royong

Semangat gotong royong yang masih melekat kuat di antara warga.

OLEH SHABRINA ZAKARIA

Di tengah kumandang azan Ashar, belasan anak laki-laki berlarian di sebuah lahan luas di depan kantor Desa Cileuksa, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Di lahan tersebut berjajar ribuan batu kali berukuran kecil hingga besar.

Rupanya batu-batu tersebut merupakan hasil 'buruan' warga. Bencana tanah longsor 1 Januari 2020 membuat ribuan warga Desa Cileuksa kehilangan tempat tinggalnya. Namun, hal tersebut tak membuat mereka lantas pasrah.

Dengan semangat gotong royong yang masih melekat kuat di antara warga, mereka bersama-sama mencari batu-batu kali, pasir, dan kayu yang sekiranya bisa digunakan untuk bahan material rumah. Sementara, Pemerintah Desa (Pemdes) Cileuksa secara perlahan turut membantu menyiapkan lahan dan anggaran, agar warganya memiliki rumah yang layak di luar hunian sementara (huntara).

photo
Pengendara motor melintasi jembatan darurat di Desa Cileuksa, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (13/2/2020). Desa Cileuksa merupakan salah satu daerah yang paling parah terdampak bencana longsor dan banjir bandang pada awal tahun lalu. - (Republika/Putra M. Akbar)

Dari sekitar 9.000 jiwa warga yang tinggal di Desa Cileuksa, pemuda-pemudi termasuk ibu-ibu ikut turun tangan membantu pembangunan rumah secara swadaya. Dua atau tiga kali dalam sepekan, dengan semangat yang sama mereka bersama membangun rumah yang layak, yang dinamakan 'Rumah Tumbuh'.

Satu per satu kavling berukuran sekitar 100 meter persegi (m2) disiapkan oleh Pemdes Cileuksa. Setelah itu, baru fondasi rumah sedikit demi sedikit dibangun, yang kemudian menjadi rumah tipe 36 berdinding batako dengan genting oranye.

Dibandingkan dengan huntara yang terkesan ala kadarnya, Rumah Tumbuh terlihat lebih layak huni dengan memiliki dua kamar. Ada kamar untuk tidur, dapur, dan teras yang memang ditargetkan untuk ditinggali warga Desa Cileuksa.

Diperkirakan, ada sekitar 300 unit Rumah Tumbuh yang sudah dibangun secara swadaya. Adapun 300 unit tersebut tersebar di empat titik lahan yang layak dibangun tempat tinggal.

Seorang warga Desa Cileuksa bernama Aep (44 tahun) mengaku sudah jenuh dan tidak betah tinggal di huntara. Rumah berdinding GRC, beralas tanah, dan beratap seng, sudah tidak nyaman dijadikan tempat tinggal. Tidak jarang huntara mengalami bocor ketika hujan turun.

Dia mengaku sudah jenuh menunggu dua tahun lebih bantuan hunian tetap (huntap) yang dijanjikan pemerintah pusat. Alasan itulah yang mendorong warga kompak membangun sendiri rumah dengan lahan yang sudah disediakan oleh Pemdes Cileuksa.

 
Saya tinggal di sini sekitar setahun. Waktu itu membangun sekitar lima bulan, bangun sendiri. Berhubung saya sedikit bisa, jadi tidak ngambil tukang dari luar.
 
 

"Saya tinggal di sini sekitar setahun. Waktu itu membangun sekitar lima bulan, bangun sendiri. Berhubung saya sedikit bisa, jadi tidak ngambil tukang dari luar," kata Aep saat ditemui Republika di lokasi, Senin (23/5).

Mak Suratni (80) termasuk yang telah tinggal di Rumah Tumbuh. Memasuki usia senjanya, ia tinggal seorang diri di Rumah Tumbuh. Sesekali anaknya yang bekerja di Jakarta mengunjunginya.

Mak Suratni bercerita, rumahnya yang dulu berada di Kampung Pasir Eurih sudah hancur tertimpa longsor, berikut dengan perabotan rumah yang dimilikinya. Kendati demikian, ia bersyukur karena masih diberi keselamatan oleh Allah SWT. "Emak mah ke sini diakeup (digendong di punggung). Jembatan palid (hanyut), emak disebrangkeun (dibantu menyeberang)," ujarnya dengan logat Sunda yang kental.

photo
Pengendara motor melintasi jalan longsor di Desa Cileuksa, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (13/2/2020). Desa Cileuksa merupakan salah satu daerah yang paling parah terdampak bencana longsor dan banjir bandang pada awal tahun lalu. - (Republika/Putra M. Akbar)

Kepala Desa Cileuksa Ujang Ruhyadi menjelaskan, pembangunan Rumah Tumbuh sebagai solusi atas harapan warga yang tinggal di huntara, yang terus menanti janji tak kunjung dipenuhi dari pemerintah. Sembari menunggu pemilik kebijakan membuat huntap, dia menyebut, warga memilih bergerak membangun rumah secara mandiri dengan memanfaatkan sumber daya yang ada.

Ujang menjelaskan, satu unit Rumah Tumbuh diperkirakan menelan biaya Rp 50 juta-Rp 60 juta. Dengan biaya tersebut, warga bisa tinggal di tempat yang layak, sambil memanfaatkan material sisa reruntuhan.

Meski demikian, warga juga masih menunggu bantuan cair dari Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Bogor. DPKPPP mencatat, ada 570 warga mengajukan rumah, yang sudah diteruskan ke Pemerintah Provinsi Jabar. Adapun 1.030 unit huntap lainnya diajukan ke pemerintah pusat. Sayangnya, hingga kini, belum ada kejelasan kapan huntap untuk korban bencana dibangun.


Pembalap Formula E akan Gelar Konvoi di Monas

Kawasan wisata Ancol ditutup untuk umum saat pelaksanaan balapan Formula E.

SELENGKAPNYA

Bank Muamalat Dorong Bisnis Wealth Management

Bank Muamalat Indonesia mulai mendorong pertumbuhan wealth management tahun ini.

SELENGKAPNYA

Menkeu Optimalisasi Surplus APBN

Kenaikan harga mi diperkirakan bakal terjadi pada tahun ini.

SELENGKAPNYA
×